persiapan Jepang menghadapi bencana

Tiru Persiapan Jepang Menghadapi Bencana Alam

Japan International Cooperation Agency (JICA), Naoto Tada, mengatakan kalau Jepang sama seperti Indonesia banyak terjadi bencana, jadi mau tidak mau harus menghadapi bencana tersebut. Bahaya bencana tidak dapat dihindarkan selama tinggal di negara rawan bencana.  

Pada tahun 2011, Jepang, Tohoku pernah mengalami tsunami dan gempa besar. Tsunami telah melampaui banyak perkiraan kami dan menyadari tidak ada batas atas dalam bencana,” ujar Naoto Tada, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Rabu (31/7/19).

Untuk menghadapi terjadinya bencana yang datang silih berganti di negeri Sakura ini, pemerintah Jepang mengidentifikasi bencana yang paling banyak pada tiap daerah, walaupun Jepang tidak dapat menjaganya secara sempurna. Kemudian yang kedua adalah untuk mengurangi banyaknya korban yang berjatuhan dan kerugian ekonomi, melakukan berbagai macam langkah-langkah baik secara struktural dan non struktural.

Akibat dari gempa dan tsunami yang terjadi di Tohoku 2011 lalu itu, pemerintah Jepang lalu merumuskan undang-undang baru untuk gempabumi Palung Nankai yang menargetkan pengurangan risiko korban meninggal hingga 80% dalam 10 tahun.

Selain itu, cara-cara penanggulangannya adalah membuat bangunan tahan gempa, membuat tanggul laut, atau pendidikan kesiapsiagaan bencana. Nah, kalau di Jepang nih membuat tanggul laut adalah hal yang biasa Disasterizen.

Pada kesempatan yang sama, Naoto memberikan contoh pada kota di Jepang tentang perencanaan terhadap bencana, yaitu Kota Kuroshio. Kota Kuroshio ini adalah kota yang terancam tsunami sekitar 34 meter, dari jumlah penduduk sekitar 11.000 orang tersebut 1/5 akan meninggal dunia.

Masyarakat sempat panik dan berfikir akan mati saat datang tsunami setinggi 34 meter pada kota tersebut. Namun, setelah ada sosialisasi pada kota tersebut dengan prinsip “tidak boleh menyerah, mulai evakuasi setelah guncangan, evakuasi lebih cepat ketempat aman” dan ada kegiatan kesiapsiagaan selama 4 tahun, pemikiran masyarakat Kota Kuroshio berubah tentang rasa panik menjadi lebih siaga.

Asal kalian tahu Disasterizen, pemerintah Jepang memikirkan solusi yang mantap dan praktis untuk mengatasi bencana ini, yaitu :

  • Anak sekolah di Jepang diajarkan tiga prinsip tersebut
  • Lalu melakukan relokasi balai kota dan pusat penyelamatan ke tempat daerah tinggi di mana tsunami tidak akan sampai
  • Jepang juga membuat menara evakuasi dengan ketinggian 22 meter dan bisa menampung 230 orang, 230 jalur evakuasi sudah dibangun, melakukan pendidikan kepada warga rumah yang tahan gempa
  • Juga pemerintah memberikan subsidi untuk memeriksa uji tahan gempa dan memperkuat bangunan, serta mengadakan seminar untuk penduduk dan tukang bangunan.
  • Diskusi di setiap keluarga tentang kesiapsiagaan yang dilakukan
  • 35 dari 40 komunitas mulai membuat rencana evakuasi mereka sendiri

Nah pada tahun 2012 bangunan tahan gempa di Jepang mencapai 40%. Tapi nanti tahun 2020 mendatang Jepang akan menargetkan jumlah rumah tahan gempa di seluruh Jepang harus mencapai 90%.  

Baca juga : MANTRA TANAMAN MACAMADIA UNTUK KITA

Wah, bukan main-main ya persiapan yang dilakukan Jepang terhadap bencana. Inilah yang harus dicontoh dari Indonesia dari kesiapsiagaan Jepang. Karena kita sama-sama negara yang memiliki potensi bencana yang tinggi. Jangan lupa ya Sobat Disasterizen untuk selalu siaga dan cari tahu untuk melindungi diri sendiri. Ayo wujudkan masyarakat yang cerdas dan sadar bencana! (MA)