buku ekspedisi jawadwipa

Terkuak Jejak Bencana dalam Buku Ekspedisi JawaDwipa

Jakarta – Yayasan Skala Indonesia menggelar Peluncuran Buku dan Seminar Nasional Ekspedisi Jawadwipa yang berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional RI Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (24/01/23). 

Acara tersebut dihadiri oleh Muhammad Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI), Dr. Raditya Jati, S.Si., M.Si (Deputi Sistem dan Strategi BNPB), Trinimalaningrum (Direktur Skala Indonesia), dan Simon Ernst (Autralian Embassy Jakarta) yang memberikan sambutannya melalui video. Tidak sampai di situ, turut hadir narasumber Lien Sururoh (Tim Ekspedisi Jawadwipa), Abdurrahman Heriza (Tim Ekspedisi Jawadwipa), Rheza Marchellino Putra (Tim Ekspedisi Jawadwipa), dan Agus Riyanto (Direktur Sistem PB – BNPB). 

Baca juga : TERNYATA TANAH LONGSOR YANG MENYEBABKAN KERATON KERAJAAN MAJAPAHIT TENGGELAM

Jawadipa adalah pulau Jawa pada masa lampau. Sebutan ini merupakan Bahasa Sanskerta dari pulau Jawa yang didapati pada Prasasti Canggal dengan bunyi kalimat “…tersebutlah sebuah pulau yang indah bernama Yava (Java) yang tidak tertandingi oleh yang lain..” 

Buku Ekspedisi Jawadwipa tersebut berisikan 13 anak muda yang menelusuri jejak sejarah bencana di 13 daerah di Jawa Timur yang dilakukan dari bulan Oktober hingga Desember 2022. 13 daerah tersebut merupakan Pacitan, Blitar, Malang, Gresik, Madiun, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Surabaya, Trenggalek, Mojokerto, dan Tuban. Hal ini di dasari atas bumi Jawadwipa yang begitu subur dan banyak berkembang peradaban besar, tapi menyimpan banyak jejak bencana. 

Ekpedisi ini merupakan kegiatan sosial untuk penguatan lokal budaya dan dapat dimanfaatkan secara efektif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, alat komunikasi pengurangan risiko bencana, dan mendorong ketangguhan bencana. 

Sebelum perjalanan dimulai, Tim Ekspedisi melakukan persiapan awal selama satu tahun lamanya dan menggandeng berbagai ahli dari bidang sejarawan geologi, serta berbagai perspektif ilmu lain guna mendukung temuan saat ekspedisi. 

Ada dua jenis bencana yang diteliti oleh Tim Ekspedisi Jawadwipa, yakni gempabumi dan tsunami. Hal ini dikarenakan ancaman bencana tersebut dianggap memiliki daya rusak tinggi dan sulit diprediksi kapan terjadi. Perkembangan ekspedisi berikutnya akan ke wilayah lain setelah Jawadwipa. (MA)