Secuil Metode Pembelajaran Jarak Jauh di Wilayah 3T dan Non 3T

Pandemi COVID-19 saat ini memiliki dampak begitu besar, salah satunya adalah pada proses ngajar-mengajar. Permasalahan yang dihadapkan kepada para guru dalam memberikan pelayanan pendidikan sangatlah kompleks dalam situasi pandemi seperi saat ini. Hal ini dikarenakan, tidak semua daerah di Indonesia dapat melaksanakan kegiatan belajar jarak jauh dengan optimal dengan menggunakan metode daring, khususnya pada daerah 3T.

Daerah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar di Indonesia. Sebagian besar daerah 3T menjadi gerbang tapal batas Indonesia. Letak daerah yang berada jauh dari ibu kota provinsi menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat, dikarenakan pembangunan infrastruktur yang belum merata.

Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur yang memiliki topografi dominasi perbukitan, lereng gunung dan pesisir. Belum semua wilayah merasakan jaringan internet yang maksimal. Sumber daya ekonomi masyarakat di pedesaan sebagian besar belum menjadikan HP/smartphone sebagai kebutuhan primer, seperti masyarakat pada umumnya di perkotaan.

Ketika kabupaten lain sedang geliat memberikan solusi dengan mengembangkan radio (AM/FM). Tetapi hal ini tidak bisa dilakukan, karena tidak tersedianya perangkat, gelombang, frekuensi (AM/FM) di Kabupaten Lembata.

Selain itu, ada beberapa tantangan lainnya dalam proses pembelajaran jarak jauh di Kabupaten Lembata yang disampaikan oleh Vransiscus Saverius Olama, Yayasan Plan International Indonesia dalam Webinar Nasional Praktik Baik Pembelajaran Jarak Jauh di Wilayah 3T dan Non 3T pada Rabu (15/10), yakni:

  • Pendidik dan peserta didik tidak memiliki smartphone
  • Sumber daya ekonomi masyarakat masih sulit untuk membeli gawai dan kuota internet
  • Anak harus belajar sendiri dengan materi seadanya
  • Orang tua tidak bisa dampingi karena keterbatasan kapasitas
  • Guru harus berjalan kaki sejauh 2 km di medan yang sulit dalam melakukan kunjungan ke rumah peserta didik

Ada pula beberapa tahapan kegiatan proses pembelajaran jarak jauh, seperti:

  • Memfasilitasi pendidik dalam penyusunan rencana pembelajaran jarak jauh (SOP) dengan menggunakan alat komunikasi Radio HT
  • Melakukan pelatihan bagi pendidik dan peserta didik dalam penggunaan alat radio komunikasi dua arah
  • Melakukan koordinasi dan menyusun mekanisme perizinan frekuensi
  • Instalasi/pemasangan antena induk di sekolah/lokasi
  • Memfasilitasi karang taruna/tim siaga bencana desa dalam menyusun protap penggunaan Radio HT
  • Peserta didik dibagi menjadi 4 kelompok belajar sesuai dengan domisili, minimal 5 anak perkelompoknya

Imelda Usnadibrata, Save The Children, menambahkan bahwa Belajar Luar Jaringan (LURING) perlu menjadi alternatif yaitu dengan:

Pencetakan & Penyebaran Bahan Belajar, Termasuk Alat Belajar

  • Menggunakan rekomendasi sumber-sumber bahan pembelajaran dan bacaan dari Kemendikbud serta pihak kompeten lainnya
  • Mencetak dan mendistribusikan bahan belajar, buku bacaan/cerita, alat belajar/tulis dasar
  • Membentuk grup di WhatsApp, Facebook dan lainnya untuk berbagi dan belajar

Berbagi & Belajar Lewat Social Media/Grup WhatsApp

Program Guru Kunjung

Komitmen Jam Belajar

Program Radio

Perlombaan Literasi

Lembar Kerja Siswa dengan Panduan Untuk Orang Tua

Rukmini, S,Pd, M.Pd, Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kab. Pangkep juga menambahkan bahwa pembelajaran jarak jauh melalui bisa metode kelas perahu. Kelas perahu dikelola oleh Dinas Pendidikan bersama tim dari KOMPAK.

Ada beberapa alur dalam pelaksanaan dan pendampingan siswa di kelas perahu, yakni:

  • Pendataan siswa layanan kelas perahu
  • Menyesuaikan waktu siswa siswa melaut dengan program pembelajaran di kelas
  • Memberikan LK kepada siswa dan bimbingan awal sebelum melaut
  • Siswa mengerjakan LKS di sela sela melaut
  • Verifikasi hasil kerja siswa setelah pulang melaut
  • Memberikan penilaian dan tindaklanjut hasil belajar LKS siswa
  • Siswa kembali ke kelas

Jika disimpulkan, banyak cara yang bisa dilakukan dalam proses pembelajran jarak jauh. Belajar menggunakan Radio Komunitas dan Radio Komunikasi (HT), metode guru kunjung dan lain sebagainya, tentu mampu mengefisienkan apa yang kita punya dan metode yang kita miliki semata untuk tetap memberikan pengajaran yang baik untuk anak-anak di tengah pandemi COVID-19 ini. Semoga bumi kembali pulih dan pandemi COVID-19 segera berakhir! (MA)