The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable  Mediocristan atau Extremistan

The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable   Mediocristan atau Extremistan

 

 

 

 

The Black Swan

The Impact of the Highly Improbable

by Nassim Nicholas Taleb

Copyright © 2007 Nassim Nicholas Taleb. Published by arrangement with The Random House Publishing Group, a division of Random House, Inc. 400 pages

 

Siklom Tropis Cempaka – Dahlia dan banjir musim kemarau yang mengagetkan.

Masih kuat ingatan kita terhadap dampak yang ditimbulkan oleh Siklon Tropis Cempaka berupa banjir bandang di Pacitan yang merenggut setidaknya 41 jiwa selain kerugian material lainnya pada November 2017 lalu. Siklon Cempaka lahir di perairan Selatan Jawa Tengah, sekitar 100 Km sebelah selatan tenggara Cilacap pada titik 8,6 lintang selatan dan 110,9 bujur timur. Setelah Cempaka melemah dan menjauhi Indonesia, selang 3 hari setelahnya lahir siklon baru bernama Dahlia tak jauh dari punahnya Cempaka yaitu 470 km sebelah barat daya Bengkulu pada 8,2 derajat Lintang Selatan dan 10,8 derajat Bujur Timur. Dua siklon kakak-beradik ini termasuk mengejutkan jagad cuaca Indonesia karena sangat jarang siklon tumbuh dekat sekali dengan daratan Indonesia. Dalam 110 tahun terakhir, kurang dari 1% siklon tropis pernah terjadi pada rentang 10 derajat lintang selatan dari ekuator. Umumnya 77.6% siklon terjadi di antara 11 – 20 lintang selatan. 

Entah masih ingat atau sudah lupa, petaka karena hujan deras turun di lereng Gunung Raung di wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada pertengahan Juni 2018 lalu juga ganjil. Selain menyebabkan banjir bandang yang menyebabkan 328 unit rumah rusak, hujan juga memicu longsor lereng disertai tumbangnya pohon-pohon di hutan di lereng Gunung Raung, padahal secara umum waktu itu adalah musim kemarau bagi wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

 

 

Blak Swan dan pikiran kita yang terlalu mediosentris.

Pikiran manusia cenderung menghaluskan fitur-fitur kasar dari realitas. Dalam akal kita yang selalu melihat keumuman, fenomena-fenomena ganjil itu seolah tidak ada dan tidak pernah terjadi. Dan adalah pikiran manusia berkecenderungan untuk menemukan penjelasan sederhana untuk kejadian ganjil itu secara retrospektif.

Terdapat istilah terhadap fenomena ganjil yang acap kali kita buta sehubungan dengan keacakannya itu, atau penyimpangannya yang terlalu besar dari keumuman, yaitu Black Swan. Istilah "black swan" berasal dari asumsi keliru bahwa semua angsa berwarna putih. Dalam konteks ini, “black swan” adalah metafora untuk sesuatu yang tidak bisa ada. Angsa hitam ditemukan di Australia pada abad ke-18, sehingga membuktikan salah asumsi bahwa semua angsa berwarna putih. Black Swan adalah kejadian langka di luar wilayah eksprektasi normal, dan kebanyakan orang alpa dengan kemungkinan ini, hingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Wikipedia menulis Teori Black Swan adalah metafora yang merangkum konsep bahwa suatu kejadian yang mengejutkan (bagi pengamat) dan memiliki dampak besar, dan sesudah itu, kejadian tersebut dirasionalisasi dengan melihat ke belakang. Ada tiga karakteristik utama dari Black Swan ini: tidak dapat diramalkan, memiliki dampak yang luar biasa, dan sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan.

Karakterstik itulah yang oleh Nassim Nicholas Taleb mencoba diulas di dalam bukunya “The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable” terbit pada tahun 2007. Nassim Taleb, lahir tahun 1960, adalah seorang esais, sarjana, ahli statistik, dan mantan pedagang dan analis risiko Libanon-Amerika yang karyanya berfokus pada masalah keacakan, probabilitas, dan ketidakpastian. Buku 2007-nya The Black Swan telah dijelaskan oleh The Sunday Times sebagai salah satu dari dua belas buku paling berpengaruh sejak Perang Dunia II.

Buku ini membeberkan kebodohan kita itu, sekaligus menawarkan teknik-tekniknya untuk mampu mengantisipasinya. Buku ini berangkat dengan keyakinan pada diri sendiri untuk selalu skeptik: jangan mudah percaya dengan apa yang ada di sekitar kita. Kalau perlu jadilah seorang empirisme negatif. Salah satu isi penting dari bukunya adalah penilaian restropektif atas pikir kita, kita ini "Mediocristan" atau "Extremistan"?

 

"Mediocristan" dan "Extremistan"

Mediocristan merujuk untuk fenomena yang dapat digambarkan dengan konsep statistik standar, seperti distribusi  Gaussian, yang dikenal sebagai "kurva lonceng." Sementara Extremistan mengacu pada fenomena di mana satu peristiwa atau satau data dapat mendistorsi kurva distribusi normal itu secara radikal.

Menurut Nassim Taleb, dunia dapat dibagi menjadi Mediocristan yang aman dan nyaman, dan Extremistan yang tidak aman dan mustahil. Dunia mediocristan adalah milik semua orang yang tidak mengambil risiko, orang-orang biasa-biasa saja. Sebaliknya, para ekstremis adalah milik semua pengambil risiko, pemberontak, misfits, kepada orang-orang yang melihat sesuatu secara berbeda. Mengenai Black Swans, mediocristan kebal terhadap mereka, sementara mereka adalah peristiwa paling akhir di ekstremistan. Mediocristan sangat tergantung pada waktu dan gravitasi, keanehan menjadi sangat jarang dan bahkan langka. 

Namun, pada Extremistan semuanya bisa berubah dalam sekejap mata. Dengan kata lain, tidak ada keadaan mediocre di dunia ekstremistan: apakah seseorang menjadi pemenang utuh, atau malah sesorang itu benar-benar pecundang sejati. Bisa jadi sesorang itu akan menyimpang jauh, karena keadaan sesorang tidak akan bergantung pada waktu atau gravitasi.

 

Antisipasi Climate Black Swan

Cuaca, sebagaimana contoh di atas, juga memiliki Black Swans. Ini mengikuti asumsi yang membabi buta bahwa tren pemanasan global yang berlanjut akan mengarah pada lonjakan suhu lebih hangat dari tahun ke tahun untuk sementara waktu, sampai tiba-tiba, misalnya keadaan dingin seperti juga dialami di Indonesia pada puncak kemarau yang lalu dimana kejadian embun es dan udara dingin seperti bersalju terjadi di pegunungan Dieng.

Cuaca musim dingin di Amerika baru-baru ini bisa dibilang memenuhi syarat sebagai black swan iklim, karena hampir ahli cuaca dan model-model iklim memprediksi musim dingin yang semakin hangat dengan potensi hilangnya salju. Begitu peristiwa aneh dan mengejutkan itu terjadi, di belakang, kondisi cuaca dengan mudah dirasionalisasikan dalam berbagai cara. Banjir Queensland bulan Agustus lalu juga contoh lain, setelah asumsi dan prediksi akan terus memburuknya kondisi kekeringan akibat perubahan iklim.

Pertanyaannya kemudian, Apakah pemanasan global termasuk black swan?

Schneider dkk. memiliki makalah yang relevan berjudul “Imaginable surprise in global change science“, terbit tahun 1998 sebelum Black Swan menjadi popular.

Di dalam abstraknya, dia menulis:

Decisionmakers at all scales (individuals, firms, and local, national, and international governmental organizations) are concerned about reducing their vulnerability to (or the likelihood of) unexpected events, ‘surprises.’ After briefly and selectively reviewing the literature on uncertainty and surprise, we adopt a definition of ‘surprise’ that does not include the strict requirement that it apply to a wholly unexpected outcome, but rather recognizes that many events are often anticipated by some, even if not most observers. Thus, we define ‘imaginable surprise’ as events or processes that depart from the expectations of some definable community. Therefore, what gets labelled as ‘surprise’ depends on the extent to which what happens departs from community expectations and on the salience of the problem. We offer a typology of surprise that distinguishes imaginable surprises from risk and uncertainty, and develops several kinds of impediments to overcoming ignorances.

 

Secara umum, gagasan Black Swan Tropis belum banyak digali, tetapi bisa jadi itu adalah sesuatu yang patut dipertimbangkan lebih lanjut. Saya pikir kita setuju bahwa pemanasan global itu sendiri tidak boleh dianggap sebagai Black Swan, dan terkait dengan peristiwa cuaca ekstrim yang menyertai tren pemanasan global itu adalah merupakan kebalikan dari apa yang kita ekspektasikan di dunia yang makin panas.

 

Afiliasi BMKG dan HAGI

Dipost Oleh Siswanto, M.Sc

Putera kelahiran Ngawi 40 tahun yang lalu ini mengawali pendidikan tingginya di jenjang Diploma III Jurusan Meteorologi, Akademi Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Berlanjut ke jenjang S1 jurusan Fisika Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2006. Gelar Master of Science diperolehnya pada tahun 2010 dari Climate and Environmental Physics Institute, University of Bern, di Swiss. Saat ini penulis tengah menyelesaikan PhD-nya di Institute for Environmental Studies, Vrije Universitat, Amsterdam, Belanda.

Perjalanan karir di BMKG diawali sebagai forecaster di Stasiun Klimatologi Negara, lalu sebagai Peneliti Muda bidang Meteorologi dan Klimatologi di Pusat Meteorologi Maritim, sebelum kemudian menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, BMKG. Cukup banyak publikasi karya tulis ilmiah yang dihasilkan, diantaranya dimuat di beberapa jurnal internasional seperti International Journal of Climatology, Bulletin of The American Meteorological Society, Weather and Climate Extremes, Journal of Environment and Earth Science, Journal of Mathematical and Fundamental Sciences dan International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences.

Selain aktif menjalani karir di BMKG dan mengembangkan minat di bidang penulisan untuk publikasi, penulis juga mendapatkan amanah sebagai Ketua Divisi Meteorologi, Klimatologi dan Oseanografi, Organisasi Profesi Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), selain dikenal juga aktif di kegiatan–kegiatan sosial keagamaan terutama dalam literasi sains dan agama.