Peran pemuda dalam Upaya pengurangan risiko bencana Di Sulawesi Tengah

Peran pemuda dalam Upaya pengurangan risiko bencana  Di Sulawesi Tengah

 

Ringkasan

Minimnya peran pemuda dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; pertama, akses untuk terlibat dalam berbagai aktivitas pengurangan risiko bencana (PRB) masih kurang. Kedua, minimnya pengetahuan kebencanaan yang dimiliki oleh pemuda. ketiga, kebijakan pemerintah yang belum berbihak kepada anak - pemuda.

Oleh karenanya pemuda perlu dibekali dan diberi ruang untuk  terlibat dalam  aktivitas terkait PRB . Pemerintah, maupun lembaga non pemerintahan perlu terus melibatkan pemuda dalam kegiatan peningkatan kapasitas baik individu maupun kelompok.

Karena, pemuda lebih familiar dengan teknologi, informasi, inovasi dan sains selain itu dengan semangat yang dimiliki maka pemuda bisa menjadi aset potensial dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia.

Pendahuluan

Indonesia berada pada pusaran 3 lempeng tektonik aktif (lempeng Eurasia, Indoaustralia, Pasifik)  dunia yang kemudian menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara  yang paling rawan bencana di dunia. Selama kurun waktu 15 tahun (2004 – 2009) telah terjadi kurang lebih 24,635 bencana alam –yang tercatat pada data BNPB— serta memberikan dampak kepada kurang lebih 40 juta orang dengan 300 ribu orang diantaranya meninggal dunia dan hilang (BNPB, 2019).

Salah satu bencana dalam skala menengah, terjadi Sulawesi Tengah pada September 2018. dengan daerah terdampak terbatas pada Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi moutong. Bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi terjadi yang menyebabkan 2,256 orang meninggal dunia, 1,037 orang hilang dan lebih dari 200 ribu orang mengungsi ke 122 titik pengungsian ( Data BNPB, 21 oktober 2018). Belum lagi kerugian yang timbul akibat rusak nya infrastruktur, terhentinya aktifitas perekonomian, kerusakan fasilitas pendidikan dan kesehatan juga dampak psikosial yang timbul –anak tidak bisa sekolah, kekerasan terhadap anak dan juga trauma.

Dampak yang timbul akibat bencana kian besar dan melumpuhkan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga diperlukan aksi nyata untuk mengurangi risiko bencana. Salah satu kelompok penting dalam masyarakat yang perlu diberi kesempatan seluasnya untuk terlibat adalah pemuda[1]. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), melalui Susenas 2018 jumlah total pemuda Indonesia saat ini adalah 63,82 juta atau seperempat dari total penduduk Indonesia.

Dengan sumberdaya pemuda yang besar, secara kuantitas dan juga produktivitas yang tergolong masih tinggi. Maka pemuda akan menjadi salah satu komponen yang sangat potensial untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia maupun di dunia tentu tetap dengan bimbingan dan arahan dari generasi sebelumnya yang lebih berpengalaman.

Partisipasi pemuda dalam pengurangan risiko bencana

Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia peran pemuda dalam pengurangan risiko bencana dirasa belum begitu signifikan. Hal ini dapat ditakar melalui jumlah partisipasi pemuda dalam kegiatan – kegiatan pengurangan risiko bencana yang tidak banyak ataupun jumlah komunitas pemuda yang focus pada upaya PRB

Beberapa keunggulan pemuda yang kemudian menjadi modal petensial untuk terlibat dalam upaya PRB  seperti; pertama, pemuda familiar dengan teknologi informasi, inovasi, dan sains. Kedua, pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan sangat mampu menjadi aset untuk perluasan informasi terkait kesiapsiagaan bencana. Sebagai contoh pemuda yang tergabung dalam organisasi dapat melakukan gerakan pengenalan pengurangan risiko bencana secara langsung melalui sosialisasi kepada masyarakat, sekolah ataupun komunitas pemuda lainnya juga secara tidak langsung dengan memanfaatkan media social dan media elektronik seperti facebook, twitter, whatsapp, youtube.   

Dalam konteks Sulawesi Tengah, hasil pengamatan dan diskusi penulis dengan beberapa organisasi pemuda diantaranya komunitas pemuda gereja bala keselamatan, forum sudut pandang, anak untad.com menunjukkan bahwa hanya sedikit pemuda yang mengaku terlibat dalam kegiatan pengurangan risiko bencana sebelum gempa, tsunami dan liquifaksi menimpa 28 september 2019 silam.Kalaupun terlibat maka keterlibatan mereka masih sebatas pada partisipasi pembuatan peta desa yang memuat daerah rawan longsor dan banjir. Minimnya keterlibatan pemuda dalam kegiatan pengurangan risiko bencana disebabkan oleh berbagai faktor salah satu diantaranya pemuda dianggap belum memiliki kapasitas yang memadai untuk terlibat secara aktif.

Setelah bencana,   rasa solidaritas yang tinggi dari organisasi pemuda yang juga turut merasakan penderitaan menjadi bagian penting dan memberikan kontribusi besar dalam pelaksanaan respon darurat di Sulawesi Tengah. Pemuda yang tadinya –sebelum bencana—tidak begitu memperhatikan masalah pengurangan risiko bencana kemudian menjadi tim inti dalam mengelolah posko pengungsi.

Sebagian dari pemuda menjadi sukarelawan yang turut membantu dalam proses evakuasi, mengelolah bantuan yang datang dari pemerintah maupun  non pemerintah dan juga mendata warga yang mengungsi. Dengan bekal pengetahuan terkait tanggap darurat yang belum banyak, namun semangat yang tinggi pemuda tersebut menjadi bagian penting sebagai sumber informasi terpercaya dalam kegiatan respon darurat ini.

Satu tahun pasca gempa, tsunami dan liquifaksi yang menimpa sebagian wilayah Sulawesi Tengah mulai terbentuk organisasi – organisasi pemuda yang fokus pada pengurangan risiko bencana dan turut mengambil bagian dalam upaya pengurangan risiko bencana di Sulawesi Tengah. Organisasi pemuda ini kemudian melakukan simulasi evakuasi bencana secara mandiri di sekolah maupun di desa, pemetaan wilayah rawan bencana dan pematokan bekas tsunami sebagai tanda seberapa jauh tsunami masuk ke daratan.

Ada juga komunitas seni yang kemudian membuat gambar – gambar terkait dengan kebencanaan lalu membukukannya untuk diserahkan ke sekolah atau dijual sebagai bahan bacaan anak – anak, ada juga yang memanfaatkan sosial media untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan cara – cara menghadapi bencana dan ada juga yang mulai menggerakan literasi bencana.

Hambatan

Terlepas dari capaian menggembirakan terkait pemuda sudah mulai mengambil peran dalam pengurangan risiko bencana di Sulawesi Tengah, pemangku kepentingan dan para pihak termasuk didalamnya lembaga non pemerintahan baik lokal, nasional dan internasional masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah untuk mengakselerasi peran pemuda dalam pengurangan risiko bencana.

Berdasarkan pengamatan penulis dan juga pengalaman langsung dari beberapa pemuda menunjukan bahwa kendala yang dialami pemuda sehingga belum terlibat aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana yaitu;

Pertama, kurangnya kesempatan yang diberikan kepada pemuda untuk dapat terlibat aktif dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Dalam berbagai kesempatan akses pemuda untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan – kegiatan pemerintah terkait pengurangan risiko bencana sangat kurang. Disamping itu akses untuk mendapatkan pelatihan dari pemerintah maupun lembaga non pemerintah serta akses untuk mendapatkan dukungan dana dalam menjalankan program bagi komunitas belum juga memadai.

Kedua, pemuda belum memiliki pengetahuan yang mumpuni terkait dengan pengurangan risiko bencana. Hal ini karena minimnya pemuda yang mendapatkan pelatihan terkait pengurangan risiko bencana. Masih banyak pemuda yang belum paham apa yang perlu dilakukan pada tiga tahapan bencana yaitu pra, saat dan sesudah. Masih ada juga yang belum paham perbedaan ancaman dan bencana serta kerterkaitan antara ancaman, kerentanan dan kapasitas.

Ketiga, kebijakan pemerintah daerah yang belum memberikan tugas secara spesifik kepada pemuda untuk terlibat aktif. Ketidak jelasan tugas pemuda yang terdapat dalam peraturan gubernur, bupati atau walikota  terkait pengurangan risiko bencana turut membuat tingkat partisipasi menjadi berkurang.

Berdasarkan hambatan yang ada maka perlu dilakukan sejumlah tindakan aktif untuk menjamin pemuda dapat terlibat secara aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana dan perannya tidak berubah signifikan seiring dengan berubahnya komposisi pemerintahan. 

Rekomendasi

Upaya percepatan pelibatan pemuda dalam kegiatan pengurangan risiko bencana secara aktif membutuhkan tindakan nyata tidak hanya dalam ranah kebijakan tetapi juga dalam tataran praktis. Mengurangi hambatan yang dihadapi oleh pemuda untuk terlibat melalui pembuatan kebijakan yang mendukung keterlibatan pemuda dan pelatihan – pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pemuda.

Pertama, program peningkatan kapasitas pemuda –pengetahuan dan sikap-- dalam pengurangan risiko bencana yang komprehensif dan berjenjang. Dengan adanya program pelatihan yang berjenjang dan menyeluruh maka diharapkan pemuda dalam menjadi sangat paham apa yang perlu dilakukan dan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Lembaga – lembaga non pemerintah (lembaga international atau LSM lokal) maupun individu yang peduli terhadap upaya pengurangan risiko bencana dapat turut ambil bagian membantu pemerintah dalam penyelenggaraan kegiatan peningkatan kapasitas oleh karena pemerintah tentu tidak punya cukup sumber daya dan dana untuk menjangkau seluruh pemuda di Indonesia.       

Kedua, menciptakan atau merumuskan kebijakan yang jelas dan spesifik untuk mendukung pemuda berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana d daerahnya. Peraturan daerah atau peraturan gubernur / bupati / walikota perlu secara spesifik menyebutkan peran pemuda dalam pembangunan daerah khususnya dalam bidang kebencanaan seperti apa dan rencana pelaksanaan seperti bagaiman.

Ketiga, mendukung komunitas – komunitas pemuda yang bergerak dalam bidang kebencanaan sehingga bisa terus bertahan dan melanjutkan kegiatannya. Dukungan dimaksud yaitu selain pelatihan berjenjang dan pendanaan atau sebagai mitra kerja. Sosialisai dan simulasi bencana yang item kegiatan dan anggarannya ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah dapat dan –mungkin harus— melibatkan pemuda sebagai pelaksana ataupun peserta. Atau program pemetaan daerah rawan longsor atau liquifaksi juga harus melibatkan pemuda sehingga mereka dapat belajar lebih banyak.

Keempat, Perlunya transfer knowledge lintas generasi dan lintas ilmu. Transfer ilmu antar generasi menjadi bagian penting agar ilmu yang dimiliki oleh generasi – generasi sebulumnya dapat diteruskan oleh generasi berikutnya sehingga tidak hilang.

Kelima, anak muda perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga pada monitoring dan evaluasi. Hal ini agar pemuda memiliki kemampuan yang mumpuni dan menyeluruh dalam aktivitas terkait pengunrangan risiko bencana. Selain itu pemuda yang saat ini sudah sangat melek teknologi perlu diberi ruang yang luas untuk mendiseminasikan hasil penelitian dan upaya mitigasi melalui aplikasi permainan, e-learning, website, webinar atau kuliah online.

Pada akhirnya harapan besar agar pemuda dapat mengambil peran yang lebih dalam upaya pengurangan risiko bencana dapat tercapai dengan baik oleh karena mereka telah dibekali dan dipersiapkan secara baik oleh generasi–generasi sebelumnya yang lebih berpengalaman. Selain itu dengan bekal semangat dan ilmu yang diperoleh pemuda dapat mempengaruhi kebijakan pemangku kepentingan mulai dari tingkat desa hingga nasional.

Dipost Oleh Enos Ndapareda

Enos Ndapareda lahir di sumba barat, Nusa Tenggara Timur pada 15 mei 1993. Menyelesaikan studi pada jurusan teknik pertambangan universitas nusa cendana Kupang pada 2016 silam. Sedari 2009, Enos turut terlimbat dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui beberapa program mulai sekolah siaga bencana yang diinisiasi oleh LIPI-UNESCO hingga satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Bersama kawan – kawan pelajar SMA (20 orang peserta pelatihan motivator siaga bencana oleh Compress LIPI – UNESCO) membentuk FORSSIGANA (Forum pelajar sikka siaga bencana).

Tinggalkan Komentar