Pentingnya Memanen Air Hujan Di Saat Musim Kemarau

Pentingnya Memanen Air Hujan Di Saat Musim Kemarau

Sumber: Pinterest

Memang, Indonesia sedang mengalami musim kemarau yang panjang. Bahkan seperti yang dilansir saat konferensi pers bulanan BNPB, musim kemarau akan berlangsung hingga bulan Oktober 2019. Maka dari itu, banyak masyarakat kita yang berbondong-bondong mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat kemarau menghantui kita.

Dengan keadaan seperti ini, membuat Agus Maryono tergerak untuk melakukan sebuah riset. Saat melakukan sebuah riset, dalam benak Agus mengatakan ‘Apakah mungkin masalah kekeringan dapat diselesaikan dengan memanfaatkan air hujan?’.

Agus Maryono yang merupakan pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk melakukan riset pada 1990 silam. Pada risetnya, Agus mengukur berapa besarnya hujan yang turun, berapa lama durasi waktunya, jumlah tempat tinggal, dan luasan atap rumah di sejumlah kecamatan.

Baca juga :  THE UNTOLD STORY OF JAVA SOUTHERN SEA

Di riset awal, Agus berkeyakinan kalau air hujan bisa dimanfaatkan sebagai cadangan air selama musim kering. Keyakinan ini semakin menguat saat ia mengambil sekolah dengan gelar master di Austria (1991-1992) dan dilanjutkan dengan studi doktornya di Jerman (1995-1999).

Nah, saat di Jerman ini ia mendapat mata kuliah tentang memanen air hujan atau biasa disebut dengan rainwater harvesting. Teknik ini sebenarnya sudah lama diterapkan di negara yang aga gersang seperti Brazil atau Afrika. Memanen air hujan ini adalah sebuah istilah dari kegiatan menampung air hujan yang disimpan dan dimanfaatkan ketika kemarau tiba.  

Ia yakin kalau teknik ini bisa diterapkan di Indonesia. “Itu menambang keyakinan saya kalau bisa diterapkan di Indonesia,” ujar Agus dalam lansiran Beritaragar.id.

Di tahun 2005, Agus mulai mengkonsepi teknik memanen air hujan ini. Konsep itulah lalu dia perkenalkan ke beberapa darah. Misalnya saja ke Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) Yogyakarta.

Karena belum terdevelop kesannya waktu itu memang biasa saja,” katanya.

Agus tak mau menyerah sampai disitu saja, Di tahun 2010, ia ke Australia untuk melihat bagimana masyarakat di sana memanen air hujan untuk dijadikan kebutuhan hariannya. Eits, tapi bukan untuk air minum ya!  

Bukan untuk air minum karena standar orang Australia untuk air minum tinggi,” ujarnya.

Dari negeri Kangguru ini ia banyak belajar tentang bagaimana membuat tangki permanen untuk wadah air hujan. Seperti teknik flushing atau cara membersihkan bagian bawah tangkinya. Lalu, sepulang dari Australia ia mulai membuat tangki permanen air hujan. Bagiannya meliputi toren, saringan daun, saringan debu kasar/halus, pipa dan sumur resapan. Bagimana cara kerjanya?

Jadi toren ini untuk menampung air hasil dari panen, yang nantinya akan dicadangkan dari talang atap rumah. Sedangkan saringan atau penghalau daun untuk menyaring kotoran berukuran besar, seperti dedaunan yang ikut hanyut bersama dengan air hujan dari talang menuju pipa.

Air yang lolos ini disaring lagi dari saringan daun, kemudian melalui dua saringan, yaitu saringan kasar atau debu halus. Saringan debu kasar dan halus untuk menyaring debu, pasir, lumut dan kotoran halus lainnya yang biasanya bisa menyebabkan air menjadi keruh. Untuk penyaring debu halusnya bisa menggunakan saringan kotoran yang biasa dipasang di akuarium.

Nah, pipa ini untuk mengalirkan limpahan air dari toren yang penuh ke sumur resapan. Sumur resapan untuk menampung limpahan air dari toren yang tidak tertampung karena penuh. Antara bagian tersebut, dihubungkan dengan pipa paralon. Untuk sepaket alat ini biayanya bisa 2 juta sampai 3 juta rupiah, ini sudah termasuk upah tukang yang merangkainya. Cukup murah bukan?

Bentuk bak dari penampungan air hujannya pun bisa disesuaikan dengan luasan lahan yang kosong untuk meletakkannya. Terutama pada kamu yang tinggal di permukiman padat atau rumah minimalis berhalaman sempit.

Agus pun juga memberikan hitungan dari penggunaan air itu. Misalkan saja jika satu keluarga terdiri dari lima orang dan memasang toren dua meter kubik, maka air bisa digunakan untuk empat hari. Air itu bisa digunakan untuk memasak, minum, mandi, dan mencuci. Tapi, kalau mau lebih hemat lagi, air toren hujan ini digunakan hanya untuk memasak dan minum. Jadi kalau mandi pakai air sungai.

Bahkan di kampus UGM, sudah hampir seluruh bangunannya sudah dipasangkan alat pemanen air hujan yang diberi nama dengan Gama Rain Filter. Selain itu, alat ini juga sudah digunakan di sebagian daerah, seperti Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Jakarta, Klaten, Ternate, dan Padang.

Banyak dari kita menganggap dan takut untuk menggunakan air hujan. Namun Agus membuktikan air hujan itu aman saat ia berada di Ambon dan Banjarmasin. “Saya ambil air hujannya, saya minum. Segar sekali,” ujar Agus.

Apakah itu benar? Dosen Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Mineral dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Dina Asrifah mengatakan kalau kualitas air hujan dipengaruhi kualitas udara. Kualitas udaranya ini dipengaruhi tinggi rendahnya kadar polutan dan virus dalam udara.  

Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah untuk tidak menggunakan air hujan pertama yang turun karena banyak mengandung polutan dan virus. "Gunakan air hujan minimal 2-3 jam setelah hujan pertama turun," kata Dina. Agus sepakat. Jika kekhawatiran itu terjadi, sebaiknya air hujan yang ditampung itu adalah air hujan yang turun ketiga kalinya.

Sumber : Beritataga.id

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar