Pentingnya Keterlibatan Semua Aspek dalam Pengurangan Risiko Bencana

Pentingnya Keterlibatan Semua Aspek dalam Pengurangan Risiko Bencana

11 tahun yang lalu, tepatnya 30 September 2009 gempa telah mengguncang Sumatra Barat. Gempa yang mengguncang tersebut memiliki kekuatan 7.6 SR dan memakan 6.234 korban. Setelah gempa di tahun 2009, satu tahun setelahnya terjadi tsunami Mentawai. Dua kejadian tersebut cukup mengguncang Sumatra barat. Berkaca pada kedua kejadian tersebut banyak upaya pengurangan risiko bencana dilakukan oleh semua sektor.

Salah satu upaya yang dilakukan dari sektor ekonomi adalah dengan membantu UMKM bantuan modal untuk kembali memulai usaha mereka dan juga memberikan akses pasar kepada daerah-daerah yang terdampak. Kerja sama berbagai pihak dalam kegiatan pengurangan risiko bencana juga dilakukan baik dalam program pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, Lembaga internasional, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Refleksi 11 tahun gempa (Kota Padang) dan 10 tahun tsunami (Mentawai), memberikan catatan mengenai proses yang belum terdokumentasi dengan baik sebagai pembelajaran tertulis untuk generasi seterusnya. Takaran kesiapsiagaan setelah 11 tahun upaya kesiapsiagaan dilakukan belum nampak di Sumatra Barat, serta catatan koordinasi yang masih tumpang tindih mengenai keberlangsungan program. Salah satu contoh tumpang tindih adalah adanya program yang sama di satu kota dari beberapa lembaga dengan muatan substansi yang sama.

Baca juga : SEJARAH BULAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA

Kenapa penting melakukan koordinasi?

Khalid Syaifullah, Ketua Koordinator F. PRB Provinsi Sumatra Barat pada webinar Refleksi 11 Tahun Gempa 30 September 2009 Dalam Bingkai Pengurangan Risiko Bencana (4/10), mengatakan bahwa dalam melakukan koordinasi penting dilakukan untuk menghindari terjadinya duplikasi upaya yang dilakukan, memahami kontribusi terhadap pemahaman kebutuhan bersama, mempertahankan prinsip dan standar minimum, menjamin bahwa adanya kesenjangan geografis, serta program yang dijembatani. Hal ini dilakukan dikarenakan bencana tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Bencana adalah urusan banyak pihak dan lintas sektor, oleh sebab itu penting untuk bisa saling berkoordinasi.

Selain melakukan koordinasi dari berbagai sektor, perlu adanya peralatan yang digunakan untuk memonitor terjadinya gempa dan tsunami. Irwan Slamet, Kepala Stasiun Geofisika Klas I Padang Panjang mengatakan saat ini BMKG mempunyai sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang dapat membantu memberikan informasi. BMKG mempunyai BUOY, OBU, tide gauge, seismograph, sirene, Deep Ocean Assessment Reporting of Tsunami (DAART), Cable Based Tsunameter (CBT), dan lain sebagainya. Harapannya alat ini bisa berfungsi secara optimal dan tidak ada alat yang hilang seperti kejadian sebelumnya, serta bisa dijaga sebaiknya demi keselamatan kita bersama.

Selanjutnya dalam pertemuan ini, ada beberapa catatan yang akan ditindaklanjuti dengan segera oleh kawan-kawan forum pengurangan risiko bencana Sumatera Barat, yaitu:

  1. Pengurangan risiko bencana yang inklusif
  2. Pelibatan media mainstream untuk optimalisasi edukasi kesiapsiagaan
  3. Penilaian kesiapsiagaan yang komprehensif tidak hanya mengandalkan Kajian Risiko Bencana (MA)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar