Pengetahuan Lokal Tsunami Ala Masyarakat Pesisir Selatan Jawa

Pengetahuan Lokal Tsunami Ala Masyarakat Pesisir Selatan Jawa

Sumber : iNews

Istilah-istilah tsunami yang digunakan dalam berbagai daerah sangat beragam memang, Sagara saba daratan (lautan yang naik ke daratan) misalnya! Penyebutan tersebut digunakan oleh masyarakat pesisir selatan Pulau Jawa khususnya pada wilayah Desa Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Bukan cuma masyarakat Jawa saja, masyarakat lain pun juga punya istilahnya tersendiri. Bisa kamu cek pada artikel yang satu ini!

Sagara saba daratan merupakan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat Desa Cipatujah tentang tsunami. Tapi tidak sampai di situ saja, ada juga sebuah bukti karang yang bisa dijadikan pengetahuan lokal tentang tsunami untuk masyarakat. Karang tersebut terdapat di pantai Karangnyungcung, Disasterizen. Karang ini diyakini adalah sebuah karang yang terbawa oleh gelombang besar yang terjadi antara tahun 1913-1915.

Rombongan Tim EDT (Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami) mengunjungi sebuah desa di Tasikmalaya, yakni Desa Cipatujah. Lalu, mereka bertemu dengan Ki Awa (Abah Awa) yang merupakan tetua adat di wilayah tersebut. Ia bercerita ketika itu, air dari lautan naik dan masuk ke wilayah hutan di pinggir pantai selama satu minggu lamanya. Pasca peristiwa tersebut, sebuah karang muncul hingga pantai ini disebut dengan Pantai Karangnyungcung (tempat munculnya sebuah karang).

Baca juga : SESAR SEMARANG MENYELIMUTI KOTA LUMPIA

Masyarakat di sekitar pesisir selatan Jawa Barat, seperti Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi juga mengenal sebuah cerita turun-temurun mengenai tsunami melalui berbagai siloka (pengistilahan dalam Bahasa Sunda) yang diceritakan oleh para orang tua dulu kepada anak cucunya. Salah satunya adalah “suatu saat Pelabuhan Ratu akan dikumbah”.

Arti kata ‘dikumbah’ itu sendiri adalah dicuci atau dibersihkan. Hal ini dikatakan oleh Bapak Nandang kepada Tim EDT. Bapak Nandang adalah seorang pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia. Bapak Nandang menjelaskan “Dikumbah itu dicuci, mungkin dicuci dengan air laut. saya juga tidak paham secara pastinya”. Jadi, kata ‘dikumbah’ ini berkaitan dengan naiknya air lautan dalam jumlah besar yang membersihkan (meluluhlantahkan) area sekitar Pelabuhan Ratu.

Dengan adanya beberapa bukti, kisah pengalaman korban selamat, nasihat atau cerita dari tetua, mitos, dan siloka ini menunjukkan pada kita bahwa masyarakat memiliki rekam memori yang cukup beragam. Itu semua, juga menjadi sebuah prediksi atau keyakinan masyarakat di sepanjang pesisir tersebut akan adanya peristiwa tsunami besar di masa yang akan datang. Serta, kesadaran dan kewaspadaan akan ancaman bencana yang akan datang. Salam Siaga! (MA)

Sumber : Buku Kibar Pataka Di Selatan Jawa  

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar