Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana Itu Mudah

Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana Itu Mudah

Via BPBD Aceh

Ringkasan

Tulisan ini akan mengulas beberapa saran sederhana, “bagaimana mewujudkan satuan pendidikan aman bencana secara mandiri (tanpa dukungan pendanaan program dari pihak luar/ instansi pemerintah/ non pemerintah)”. Sesungguhnya, setiap satuan pendidikan memiliki sumber daya yang dapat dimaksimalkan untuk membantu satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan SPAB. Cara-cara yang dituliskan di narasi ini: perlunya memetakan aktor dan potensinya, aktif dan inisiatif, tetap kreatif, meluangkan waktu, serta membuat prestasi berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dari beberapa sekolah yang menyelenggarakan kegiatan SPAB secara mandiri.

  1. Kondisi Saat Ini

Meningkatnya trend kejadian bencana di Indonesia akhir akhir ini berdampak serius bagi pendidikan dan anak-anak. Menurut BNPB, dalam kurun waktu per 1 Januari 2020 - 2 Maret 2020 saja, terjadi 687 kejadian bencana di berbagai tempat yang menyebabkan 1.517.394 orang mengungsi, 123 orang meninggal, 165 luka-luka dan merusak 152 satuan pendidikan. Anak-anak seringkali menanggung dampak yang lebih berat saat kejadian bencana, seperti luka-luka, gangguan psikologis, berpisah/ kehilangan keluarga, terganggunya aktivitas keseharian, serta tidak bisa bermain dengan teman-temannya yang juga membawa dampak bagi psikologisnya. Oleh karena itu, perlu mewujudkan satuan pendidikan aman bencana untuk mengurangi dampak bencana bagi anak secara khusus dan masyarakat secara umum.

Satuan pendidikan aman bencana (SPAB) adalah satuan pendidikan yang menerapkan standar sarana dan prasarana yang aman dan memiliki budaya keselamatan yang mampu melindungi warganya dari bahaya bencana. Merujuk pada konsep “comprehensif safe school, satuan pendidikan aman bencana terdiri atas tiga pilar: pilar 1 mengenai fasilitas belajar yang aman, pilar 2 mengenai manajemen penanggulangan bencana di sekolah, pilar 3 mengenai pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Ada 10 Indikator kunci minimal dalam SPAB: (1) Meningkatnya pengetahuan warga sekolah mengenai satuan pendidikan aman bencana; (2) Memiliki konstruksi yang memenuhi standar bangunan tahan gempa; (3) Memiliki Sarpras (Alat pemadam api ringan, Pelampung, Tambang, Rambu kebencanaan, P3K, Megaphone); (4) Terkumpulnya informasi mengenai risiko, ancaman, dan kapasitas di sekolah; (5) Memiliki kebijakan sekolah aman bencana (SK kepsek); (6) Memiliki prosedur tetap kedaruratan; (7) Memiliki tim siaga bencana; (8) Memiliki peta & jalur evakuasi; (9) Terpasangnya media kampanye; (10) Melakukan simulasi secara rutin.

Sejak beragam kejadian bencana besar di Indonesia, pendidikan pengurangan risiko bencana dianggap penting untuk dilaksanakan melalui satuan pendidikan dengan pendekatan partisipasi anak. Hal ini selain tujuan jangka panjang untuk menciptakan generasi yang memiliki budaya keselamatan, diharapkan anak merupakan jalur yang efektif untuk memberikan dampak bagi orang terdekat terutama keluarganya.

Gerakan untuk mewujudkan SPAB ini seringkali kurang berjalan mulus. Berbagai tantangan dihadapi baik perluasan isu maupun keberanjutannya. Beragam alasan dikemukakan warga satuan pendidikan (terutama kepala sekolah dan guru). Mulai dari masalah pendanaan, tidak ada waktu untuk melaksanakan kegiatannya, tidak cukup waktu untuk menyisipkan muatan kebencanaan ke mata pelajaran, tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, tidak cukup sumber daya manusia untuk melakukannya, hingga yang paling menyebalkan adalah keyakinan kuat (jika tidak mau dikatakan kurang menyadari) bahwa tidak akan terjadi bencana di lingkungan sekolahnya. Atau kali lain pernah juga ada yang menyatakan bahwa pendidikan bencana bukan menjadi prioritas untuk diajarkan di sekolah, karena tidak ada dalam ujian nasional, atau tidak ada instruksi dari kepala dinas, dan alasan lain yang sama menyebalkannya. Alasan yang terlalu lemah untuk dijadikan pertaruhan keselamatan warga sekolah.

Tapi, apakah memang sesulit itu untuk mewujudkan SPAB bencana? Tentu saja tidak, selama ada niat dan kemauan. Bukankah pepatah bijak mengatakan: selama ada kemauan di situ ada jalan? Kepala SD Muhika Bantul saat ditanya apa yang menjadi tantangan dalam melaksanakan SPAB mandiri, ia menjawab:”tidak ada tantangan berarti, semua bagi kami mudah!”. Luar biasa kan?

  1. Mewujudkan SPAB sesungguhnya (relatif) mudah selama warga sekolah memiliki kemauan keras dan semangat. Kecuali pilar 1 (terutama soal gedung), mewujudkan pilar 2 dan 3 dalam SPAB bahkan dapat dilakukan dengan biaya minimal atau bahkan nol rupiah. Serta, mewujudkan SPAB tidak melulu harus dilakukan oleh bapak/ibu guru saja, tapi juga bisa melibatkan orang lain. Agar prosesnya mudah, tentu warga sekolah harus mengetahui trik-trik yang harus dilakukan.
  1. Petakan Potensi Aktor dan Sumber Daya Terdekat Dengan Sekolah

Hal pertama yang perlu sekolah lakukan jika ingin melaksanakan SPAB adalah memetakan sumber daya yang terdekat dengan sekolah, terdekat secara geografis dan lingkungan, terdekat secara kelembagaan (yayasan, dinas, lembaga, organisasi) dan terdekat secara personal dengan warga sekolah. Petakan juga sumber daya yang dimiliki aktor tersebut, dan bagaimana memaksimalkan sumber dayanya. 

Cara yang selama ini cenderung ampuh adalah petakan juga siapa yang punya akses ke aktor tersebut. Misalnya, untuk melakukan kapasitasi terkait ketrampilan pertolongan pertama, sekolah memetakan sejumlah aktor seperti: puskesmas, bidan desa, dokter terdekat di lingkungan sekolah, PMI, PMR kampus, termasuk juga orang tua murid yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, hingga tenaga kesehatan yang dikenal atau yang merupakan jejaring dari warga sekolah.

Pemetaan aktor ini penting agar sekolah dapat mengetahui siapa saja yang dapat dilibatkan dan bagaimana pendekatannya. Salah satu nilai yang dikembangkan dalam SPAB adalah membangun kemitraan. Sayangnya sering kali pemetaan aktor ini diabaikan, karena kurang memahami dampak positif dari berjejaring.

  1. Aktif dan Inisiatif!

Setelah memetakan aktor potensial, sekolah harus aktif melakukan pendekatan kepada aktor yang potensial. Pendekatan ini bukan melulu untuk permohonan dukungan dana, tetapi juga dukungan pendampingan, kapasitasi, maupun membantu membuka jejaring dengan aktor lain yang tertutup aksesnya dengan sekolah. Lakukan pendekatan formal dan informal. Biasanya lagi, pendekatan informal ini lebih jitu (baca: peluang berhasil lebih besar), dibandingkan pendekatan formal yang biasanya lebih resmi, bertele tele dan birokratis. Jika ada warga sekolah yang mengenal aktor/poin person di instansi tersebut akan lebih mudah untuk meminta bantuan pendampingan, bahkan bisa saja tanpa biaya alias bersifat sukarela. Selanjutnya pendekatan personal ditindak lanjuti dengan pendekatan formal (mengirimkan surat permohonan atau proposal).

Memang, tiap daerah akan berbeda tergantung kebiasaan dan orang yang ada di lembaga tersebut. Bagaimanapun semangat kerelawanan tiap orang tidak bisa disamaratakan. Ada pengalaman sekolah mengajukan permohonan bantuan untuk kapasitasi, namun disodorkan tarif per jam. Jika sekolah punya dana, silahkan dilanjutkan. Namun jika sekolah tidak punya dana, cari aktor lain yang bisa diajak kerjasama membantu sekolah dengan sukarela. Intinya, Jika pendekatan ke satu aktor kurang berhasil, dekati aktor lainnya!

  1. Tetap Kreatif

Melakukan kegiatan SPAB maupun pendidikan PRB sesungguhnya dapat dilakukan oleh bapak/ibu guru di sekolah. Caranya juga beragam. Muatan PRB dapat disisipkan ke dalam mata pelajaran, dapat pula diintegrasikan melalui ekstrakurikuler yang ada, atau justru membuat kegiatan ekstrakurikuler khusus seperti kelas PRB di SD Muhika Bantul, disisipkan dalam kegiatan kegiatan tematik sekolah: kegiatan perayaan, kegiatan perlombaan dan sejenisnya. 

Apabila semua opsi di atas masih sulit dilakukan, maka cara paling akhir agar anak tetap mendapatkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana yaitu dengan membuat media kampanye PRB seperti poster yang ditempel di majalah dinding (mading) sekolah, media komunikasi dan informasi termasuk alat permainan edukatif. Bapak ibu guru dapat mengajak anak untuk membuatnya. Misalnya membuat poster untuk ditempel di mading sekolah.

  1. Luangkan Waktu

SPAB merupakan proses pendidikan, mewujudkan SPAB berarti membentuk budaya keselamatan dan itu mustahil diwujudkan hanya dalam hitungan hari atau hanya kegiatan sekali saja tanpa perulangan dan kelanjutan. Oleh karena itu, disamping banyaknya agenda kegiatan sekolah, perlu menyusun jadwal dan memilih strategi kegiatan agar tidak menggangu kegiatan belajar mengajar namun proses pendidikan PRB tetap dapat berlangsung. Caranya adalah dengan meluangkan sedikit waktu, namun sering. Untuk satu kali kegiatan SPAB yang berlatar belakang project, biasanya dilaksanakan 7-8 jam sehari. Seringkali dibelakang layar bapak ibu guru mengeluhkan jadwal ini. Nah, menyiasatinya, cukup 1-2 jam saja setiap kegiatan, namun dilaksanakan secara rutin misalnya seminggu sekali. Sepertinya waktu 1-2 jam setelah pulang sekolah tidak begitu memberatkan dibandingkan dengan 8 jam sehari yang artinya meninggalkan pekerjaan utama.  

  1. Raih Prestasi

Diantara sekian banyak satuan pendidikan yang ada, akan sulit bagi sekolah untuk mendapat jatah pendanaan program SPAB dari pemerintah, apalagi sekolah yang aksesnya agak jauh dengan pemegang kewenangan. Satu satunya jalan untuk menarik perhatian adalah dengan membuat prestasi. Memang diperlukan perjuangan di awal, tetapi biasanya setelah prestasi diraih, sekolah akan menjadi terkenal dan menjadi jalan bagi instansi/dinas untuk datang memberikan bantuan dan memberikan pendampingan.

Idealnya komitmen oleh seluruh warga sekolah terutama orang dewasa akan memudahkan upaya mewujudkan SPAB, tapi jika pun di awal-awal kekompakan belum terbentuk (tidak seluruh guru mau melaksanakannya), percayalah, seiring jalan, apabila sudah mulai gemerlap meraih prestasi, guru yang awalnya tidak mau ikut akhirnya akan ikut juga karena melihat ada keuntungan yang diperolehnya.

Nah, cukup mudah bukan? Berbagai panduan, bahan bacaan, modul-modul dan media lain terkait SPAB. Saat ini sudah banyak tersebar di internet dan dapat diunduh dengan mudah. Untuk informasi lebih lanjut, kita bisa belajar melalui berbagai portal yang tersedia secara online saat ini. Misalnya, belajar SPAB secara daring yang di kelola oleh Kemendikbud, informasi dan perkembangan SPAB melalui Web ASSI (Asean Safe School Initiative), Modul SPAB berbasis Gugus Depan, Buku Pembelajaran Praktik baik SPAB yang dikeluarkan oleh BNPB, Buku Pendidikan Tangguh Bencana, atau kita juga bisa memetakan sekolah kita melalui Inarisk.

Jadi, jangan tunggu bencana datang! Ayo wujudkan SPAB di sekolahmu!

-

 

[1] Mariana Pardede, praktisi PRB. KYPA Yogyakarta. Fasilitator nasional SPAB. 085766195789

Deni Karsana (2019) dan Iksam Djorimi (2017)

Dipost Oleh Mariana Pardede

Mariana Pardede, S.IP, M.Sc, sehari hari dipanggil Dede, adalah seorang praktisi pendidikan Pengurangan Risiko Bencana khususnya Satuan Pendidikan Aman Bencana/ SPAB. Perempuan kelahiran Muara Bungo, 13 April 1984 ini mengawali perkenalannya dengan isu kebencanaan sejak menjadi relawan respon bencana Tsunami Aceh 2005. Dan hingga saat ini, Ia konsisten di isu kebencanaan dan berkecimpung dalam isu sekolah aman bencana sejak 2007. Memperoleh gelar master dari Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UGM tahun 2015. Ia merupakan salah seorang penyintas bencana gempa bumi-tsunami di Palu 2018 yang lalu. Dia telah mengkapasitasi lebih dari belasan ribu orang mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, Timor hingga Papua di berbagai jenjang satuan pendidikan. Ketertarikannya pada dunia anak mendorongnya untuk mengembangkan sejumlah media belajar dan bermain bertema kesiapsiagaan bencana termasuk untuk orang tuna netra. Saat ini, selain aktif berkegiatan PRB di sekolah dan di masyarakat bersama lembaga KYPA, Ia juga menjadi salah satu fasilitator nasional SPAB dan aktif menjadi konsultan dan pelatih SPAB membantu berbagai instansi pemerintah maupun non pemerintah. Peraih “Safe School Champion kategori Individu tahun 2017” versi ASEAN Safe School Initiative (ASSI) ini berharap semakin banyak orang yang memiliki kesadaran akan risiko bencana dan menjadi bagian dari yang menyelamatkan. Kontak Dede melalui marian.pardede@gmail.com atau +6285766195789

Tinggalkan Komentar