Menulusuri Jejak Sejarah Gempabumi dan Tsunami Laut Maluku

Menulusuri Jejak Sejarah Gempabumi dan Tsunami Laut Maluku

Sumber : mollucastimes

Kalau kemarin SiagaBencana.com membahas sejarah gempa Sulawesi Utara. Kali ini SiagaBencana.com akan membahas sejarah gempabumi dan tsunami Laut Maluku! Are you ready?

Gempa yang terjadi pada 14 November 2019 lalu, merupakan gempa tektonik yang berpusat di dalam Lempeng Laut Maluku, Sobat Disasterizen. Nah, zona gempa Laut Maluku ini letaknya diantara Busur Sangihe dan Halmahera. Di zona inilah terdapat banyak sebaran pusat-pusat gempabumi, seperti halnya peristiwa gempabumi kuat yang terjadi pada 14 November lalu dan juga dicirikan dengan sesar naik (thrust fault).

Gempa yang berkekuatan M 7,1 tersebut ternyata hanya menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah di Manado dan sekitarnya, serta memicu terjadinya tsunami kecil di Bitung, Halmahera, dan Ternate. Kenapa hanya terjadi tsunami kecil? Padahal kekuatan gempanya mencapai M 7,1.

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG menjelaskan bahwa gempa dengan slip yang relatif dalam memicu tsunami lebih kecil. Berbeda jika dibandingkan dengan slip yang terjadi di kedalaman lebih dangkal dapat memicu tsunami lebih besar.

Baca juga : SOBAT TULI TANGGUH BENCANA

Sejarah Gempa dan Tsunami

Gempabumi

  • 1 April 1936

Gempabumi dan tsunami sudah beberapa kali terjadi di kawasan Laut Maluku ini Sobat Disasterizen! Gempa Sangir yang terjadi pada 1 April 1936 adalah catatan gempa dahsyat di zona ini, karena guncangannya mencapai VIII-IX MMI. Kalau dilihat dari skala intensitasnya, ini menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah kala itu.

  • 27 Februari 1974

Selain itu, 27 Februari di tahun 1974 kembali terjadi gempa. Gempa Pulau Siau ini menyebabkan kerusakan banyak rumah di berbagai tempat, bahkan bisa memicu terjadinya longsoran.

  • 22 Oktober 1983

Yang terakhir adalah gempa Sangihe-Talaud. Gempa ini terjadi pada 22 Oktober 1983 silam. Gempa ini yang ditimbulkan menyebabkan banyak kerusakan pada bangunan masyarakat.

Tsunami

Selain gempabumi, zona sumber gempa Laut Maluku juga memiliki sejarah tsunami, yakni…

  • Banggai-Sangihe (1858), yang menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami.
  • Banggai-Ternate (1859), mengakibatkan banyak rumah di pesisir disapu tsunami.
  • Kema-Minahasa (1859), gempa yang juga memicu terjadinya tsunami setinggi atap rumah penduduk.
  • Gorontalo (1871), tsunami ini menerjang sepanjang pesisir Gorontalo.
  • Tahuna (1889), menerjang kawasan pesisir Tahuna setinggi 1,5 meter.
  • Kepulauan Talaud (1907), tsunami tersebut menerjang pantai setinggi 4 meter.
  • Salebabu (1936), kalau tsunami ini menyapu pantai setinggi 3 meter.

Selain sejarah gempa dan tsunami masa lalu, catatan terbaru gempa kuat di Laut Maluku cukup banyak. Sebagian besar diantaranya berpotensi tsunami, seperti yang pernah terjadi pada: 1979 (M=7,0), 1986 (M=7,5), 1989 (M=7,1), 2001 (M=7,0), 2007 (M=7,5), 2009 (M=7,1), 2014 (M=7,3), 2019 (M=7,0), dan 2019 (M=7,1).

Kawasan Laut Maluku merupakan zona yang sangat rawan gempa dan tsunami. Maka dari itu, perlu mendapat perhatian khusus dan serius. Ini juga menjadi tantangan tersendiri untuk kita dalam merancang sistem pengurangan risiko bencana gempabumi dan tsunami pada wilayah rawan ancaman tsunami, khususnya kawasan Laut Maluku. Salam siaga! (MA)

Sumber : Dr. Daryono (Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar