Menilik Letusan Dahsyat Gunung Ijen

Menilik Letusan Dahsyat Gunung Ijen

Petambang belerang di Gunung Ijen. Sumber : AsliIndonesia.net

Kawah Gunung Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso telah mengalami tsunami pada tanggal 29 Mei 2020 lalu. Hal ini telah disampaikan oleh Widjo Kongko, ahli tsunami Indonesia.

Menyoal Gunung Ijen ini, ternyata Gunung Ijen telah mengalami letusan sejak zaman dahulu lho Sobat Disasterizen! Berikut ini adalah sejarah letusan Gunung Ijen, simak!

Baca juga : MENGULIK TSUNAMI KAWAH IJEN

Sejarah Letusan Gunung Ijen

Tahun 1796

Merupakan letusan pertama yang tercatat dan dianggap merupakan letusan freatik.

Tahun 1817 

Pada 16 Januari 1817, penduduk sekitar Banyuwangi mendengar suara gemuruh dahsyat seperti dentuman meriam, disertai dengan gempabumi. Pada tanggal 15 Januari terjadi banjir di Lumpur, Gresik menuju Banyuwangi. Sedangkan dalam bukunya Taverne, menduga kemungkinan waktu letusan 1817, sebagian besar air danau dialirkan dari Kawah Banyupait.

Tahun 1917

Taverne menulis bahwa waktu itu air danau kelihatan mendidih bercampur lumpur dan uap, kadang-kadang letusan terjadi di danau kawah, lumpur dilemparkan keatas sampai 8 - 10 meter diatas muka air. Hal yang sama terulang lagi pada 7 - 14 Maret. Neuman Van Padang menganggapnya letusan pada danau kawah, dan letusan freatik pada 25 Februari dan 13 Maret.

Tahun 1936

Neuman van Padang menganggap pada 5 - 25 November terjadi letusan freatik dan letusan pada danau kawah, menghasilkan lahar seperti tahun 1796 dan 1817.

Tahun 1952

Pada 22 April pukul 6.30, terjadi letusan asap setinggi 1 km dan suara runtuhan material terdengar dari Sempol, Malang. Di dalam kawah terjadi letusan setinggi 7 m, hampir sama dengan peristiwa letusan 1936.

Tahun 1962

Pada tanggal 13 April, di bagian tengah permukaan Danau Kawah Ijen terjadi bualan gas di dua tempat yang masing-masing berdiameter sekitar 10 m. Tanggal 18 April pukul 07.42, terjadi bualan air di bagian utara danau kawah berdiameter sekitar 6 m, kemudian bualan air tersebut membesar menjadi 15 - 20 m. Pada pukul 12.15, bualan air ini menyemburkan air setinggi sekitar 10 m. Warna air danau yang semula hijau muda berubah menjadi hijau keputihan.

Tahun 1976

30 Oktober 1976 silam pukul 09.44, tampak bualan air pada dua tempat dekat Silenong selama 30 menit.

Tahun 1991

Pada tanggal 15, 21 dan 22 Maret, terjadi bualan air berdiameter sekitar 5 m disertai perubahan warna air kawah dari hijau muda menjadi coklat. Menurut para penambang belerang terjadi semburan gas setinggi 25 - 50 m dengan kecepatan tinggi. Bualan ini tercacat oleh seismograf dalam bentuk gempa remor terus menerus dari tanggal 16 - 25 Maret 1991.

Tahun 1993

Pada pukul 08.45 di tanggal 3 Juli, terjadi letusan freatik di tengah danau disertai tekanan kuat dan bunyi yang keras dengan semburan setinggi 75 m, Warna air dari hijau keputihan berubah menjadi kecoklatan dan permukaan danau menjadi gelap. Tanggal 4 Juli pukul 08.35, terjadi letusan freatik ditandai dengan menyemburkan air setinggi sekitar 35 m.

Di tanggal 7 Juli, terjadi letusan freatik disertai suara yang cukup keras dan terdengar sampai sejauh 1 km. Sedangkan 1 Agustus, terjadi letusan freatik disertai dua suara letusan yang terdengar sampai sampai 1 km. Letusan ini didahului oleh gempa terasa disekitar puncak. Gumpalan asap berwarna putih tebal dengan tekanan kuat terlihat mencapai tinggi sekitar 500 m.

Tahun 1999

Tanggal 28 Juni sampai tanggal 28 Juli terjadi kenaikan aktivitas di danau kawah yang ditandai dengan kenaikan suhu air danau kawah mencapai 46°C (3 Juli). Pada tanggal 8 Juli terjadi penurunan suhu air danau kawah pada lokasi yang sama menjadi 40°C.

Tahun 2000

Tanggal 6 Juni 2000 terjadi peningkatan aktivitas yang ditandai dengan adanya kenaikan suhu danau Kawah Ijen sampai mencapai 55 °C dan terjadi letusan freatik. Dari data seismik tercatat adanya peningkatan jumlah gempa, terjadi juga gempa vulkanik dan tremor yang kemudian jumlahnya meningkat pada akhir bulan Juli. Tinggi asap diatas kawah yang semula 25 m, pada akhir pertengahan September naik menjadi 50 m diatas kawah. Seminggu kemudian aktivitas menurun antara lain ditandai dengan tinggi asap yang kembali menjadi 25 m dan air danau kawah turun menjadi kurang dari 40 °C.

Tahun 2001

Tanggal 8 januari terjadi peningkatan aktivitas vulkanik ditandai dengan adanya bualan air danau seperti mendidih, bau gas solfatara yang sangat tajam, terdengar suara blaser yang nyaring dan asap putih tebal dengan tekanan yang kuat (arah asap tegak lurus), serta pada lokasi penambangan belerang terjadi kebakaran belerang. Menurut pegawai solfatara telah terjadi letusan di air danau kawah, kemungkinan disebabkan oleh letusan freatik. Pada tanggal 14 Januari suhu permukaan air danau kawah di DAM mencapai 48 °C.

Tahun 2004

Terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada 2004 lalu. Data seismik mencatat adanya peningkatan jumlah gempa vulkanik. Namun peningkatan aktivitas ini tidak diikuti dengan letusan. (MA)

Sumber : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar