Memori Kolektif Gempa Batavia 1699 & 1789

Memori Kolektif Gempa Batavia 1699 & 1789

Lukisan Observatorium Mohr karya Johannes Rach (1770). FOTO :commons.wikimedia.org

Jakarta yang dahulu bernama Batavia pernah beberapa kali diguncang gempabumi. Guncangan yang paling besar dirasakan oleh masyarakat Batavia adalah gempabumi tahun 1699 dan 1780. Bagaimana kisahnya? Keep scrolling!

Batavia Tahun 1699

5 Januari dini hari di tahun 1699 terjadi hujan lebat yang turun mengguyur Batavia. Namun, hujan berubah menjadi kepanikan karena pada saat itu tiba-tiba bumi berguncang dengan lebat. Guncangan terasa pada pukul 01.30 dini hari dan berlangsung selama sekitar 15 menit. Gempa terasa tidak hanya di Batavia, daerah lain seperti Banten dan pantai selatan Sumatera khususnya Lampung turut merasakannya. 

Gempa tersebut membuat bangunan-bangunan yang ada di Batavia banyak yang retak. Berdasarkan Arthur Wichmann, total ada 21 rumah, 20 lumbung padi, dan satu gudang yang rusak, serta 28 orang yang tewas akibat peristiwa itu. Selain membuat rumah-rumah rusak, gempa bumi juga membuat penduduk Batavia saat itu takut untuk kembali ke rumah. 

Masyarakat saat itu lebih memilih untuk tinggal sementara di tempat terbuka dan di kapal-kapal yang mereka miliki. Kerusakan sebagai akibat langsung dari gempabumi 1699 tidak terlalu buruk. Akan tetapi, dampak tidak langsung dari gempa tersebut yang kemudian membuat kondisi Batavia dan penduduknya menjadi tidak baik. Gempa bumi membuat tanah longsor di sekitar lereng Gunung Salak. Material longsor membawa tanah dan lumpur ke sungai yang mengalir ke Batavia, salah satunya Sungai Ciliwung. 

Material-material ini membuat sungai-sungai di Batavia menjadi tersumbat. Pasokan air bersih menjadi terganggu karena air di sungai hanya seidikt yang mengalir dan kondisinya kotor karena tercampur dengan material-material longsoran Gunung Salak. 

Ada berbagai upaya yang dilakukan untuk mengatasi tersumbatnya sungai. Pemerintah mempekerjakan 3.400 penduduk untuk membersihkan penyumbatan di sungai agar air dapat kembali mengalir. Namun, upaya tersebut ternyata tidak berjalan lancar. Hal tersebut membuat kondisi kesehatan di Batavia menjadi memburuk. Sejak saat itu, banyak orang-orang di Batavia yang meninggal. Setiap tahun 1.000 sampai 2.000 orang meninggal dunia, dokter-dokter yang ada juga tidak mampu menangani masalah tersebut. Kondisi kesehatan juga semakin buruk karena diperparah dengan konsidi cuaca Batavia yang saat ini sedang dilanda musim pancaroba yang membuat orang-orang terkena demam panas. 

Sebetulnya, ada beberapa pendapat terkait gempa yang terjadi pada 1699. Pendapat pertama, gempa diakibatkan oleh letusan Gunung Salak yang berada di Buitenzorg. Beberapa tooh yang menyatakan hal tersebut adalah Franz Wilhelm Junghuhn, J. Hugeman, dan Charles Lyell. J. Hageman. 

Sementara itu, ada pendapat lain yang menyatakan jika gempa terjadi bukan karena letusan Gunung Salak, melainkan aktivitas tektonik lempeng Indo-Australia. Aktivitas tektonik membuat Batavia diguncang gempa berkekuatan 8-9 SR dengan posat gempa berada di zona subduksi lempeng Indo-Australia yang berada di sekitar Bogor dengan kedalaman sekitar 100 km. 

Baca juga : DERETAN FENOMENA MUNCULNYA “PULAU BARU” PASCA GEMPA

Batavia Tahun 1780

Setelah gempa tahun 1699, Batavia tercatat 11 kali diguncang gempa hingga tahun 1780. Kejadinnya berturut-turut tahun 1700, 1706, 1722, 1737, 1754, 1757, 1765, 1768, 1772, 1776, dan 1780. Gempa-gempa 1722, 1757, dan 1780 adalah yang paling berdampak terhadap masyarakat Batavia. Gempabumi yang terjadi pada tahun 1722 diikuti juga dengan tidak kalah besar dengan gempa yang terjadi di tahun 1699. 

Getaran dirasakan pada pukul 14.49. Guncangan membuat bangunan-bangunan yang ada di Batavia saat itu mengamalmi kerusakan. Salah satu bangunan yang rusak adalah observatorium milik pendeta yang tertarik dengan astronomi, yaitu Johan Maurits Mohr. Observatorium ini memiliki enam lantai dengan puncak atap datarnya setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter. Bangunan enam lantai ini saat itu merupakan bangunan tertinggi di Batavia. 

Getaran gempa dirasakan hingga seluruh bagian Pulau Jawa dan bagian selatan Sumatera, merusak 27 rumah dan gudang. Muncul brbagai dugaan sumber gempa berasa. Ada kemungkinan gempabumi yang berkekuatan 8 SR ini berasal dari Sesar baribis. Cukup banyak laporan yang menuliskan mengenai gempa tersebut. Salah satunya beradal dari kapal Wilem Fredrick yang melaporkan guncangan di sekitar Selat Sunda. 

Gempa tersebut membuat Gunung Salak dan Gunung Gede menunjukkan peningkatan aktivitas bulkanik. Tidak lama setelah gempa terjadi, terdengar suara letusan dari arah Gunung Salak dan terlihat kepulan asap dari puncak Gunung Gede. (MA)

 

Sumber : Omar Mohtar, Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar