Masjid Baiturrahman Aceh: Simbol Kekuatan Menghadapi Tsunami

Masjid Baiturrahman Aceh: Simbol Kekuatan Menghadapi Tsunami

Sobat Disasterizen, Masjid Baiturrahman Aceh adalah salah satu landmark di Provinsi Aceh yang menyita perhatian banyak pihak paska tsunami Samudera Hindia 2004 silam. Masjid kebanggaan rakyat Aceh yang dibangun pada 1879 ini tetap berdiri tegar menghadapi tsunami walaupun bangunan-bangunan di sekitarnya telah rusak dan hancur berkeping-keping.

Tentu, kita penasaran, memang ada apa sih di balik masjid ini? Bagaimana bisa masjid yang terletak kurang lebih 500 meter dari bibir pantai ini bisa kuat menghadang tsunami?

Sedikit sejarah.

Masjid Baiturrahman zaman dulu. Sumber: Analisa/H. Harun Keuchik Leumiek

Awalnya, masjid ini dibangun pada 1612 oleh Sultan Iskandar Muda. Ketika pemerintahan kolonial Belanda masuk ke Indonesia, masjid ini menjadi basecamp bagi para pejuang Kesultanan Aceh. Hingga pada 10 April 1873, pasukan kolonial menembakkan meriam, mengakibatkan atap masjid yang terbuat dari jerami terbakar. 

Takut akan kemarahan rakyat Aceh, Jan van Swieten, jenderal yang saat itu berkuasa, berjanji akan membangun kembali masjid ini. Akhirnya, pada tahun 1879, batu pertama pun diletakkan oleh Teuku Qadhi Malikul Adil. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Mughal revivalism (Kebangkitan Mughal atau Indo-Saracenic).

Konstruksi tubuh masjid

 Masjid Baiturrahman: 2004 vs 2009. Sumber: Getty Images.

Dalam buku Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami yang disusun oleh Dr. Ir. H. Subandono Diposapotono, M. Eng, seorang peneliti di bidang kebencanaan dan coastal engineering, dijelaskan bahwa tiang-tiang masjid ini dibangun dari kolom silinder yang lebih hidrodinamis.

Artinya, tiang-tiang ini memiliki bidang benturan yang lebih kecil sehingga mengurangi risiko kerusakan yang berpotensi akan muncul akibat pressure.

Nah, selain konstruksi tiang, penulis yang pernah mendapatkan Publication Culture Award dari Japanese Society of Civil Engineer pada 2009 silam ini menggarisbawahi konstruksi bawah masjid.

Kondisi bagian bawah masjid dibuat terbuka sama sekali. Artinya, ketika tsunami menjebol daratan, energi besar yang dibawanya tidak akan tertahan oleh bangunan. Tsunami akan dapat lewat secara leluasa, dan mengurangi beban horizontal pada struktur masjid.

Selain masjid ini, banyak juga masjid dengan gaya arsitektur yang mirip yang berhasil survive dari banjir. Contohnya adalah 2 masjid di bawah ini, yaitu Masjid Baiturrahim di Ulhelheu dan Masjid Rahmatullah di Lampuuk. (RG)

Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue setelah tsunami. Sumber.

Masjid Rahmatullah, Lampuuk setelah tsunami. Sumber: ABC Australia.

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar