Kisah Mbah Irob, Sang Juru Kunci Pantai Santolo

Kisah Mbah Irob, Sang Juru Kunci Pantai Santolo

Mbah Irob (85) yang ditemui oleh tim EDT, yang menceritakan kisah tsunami Pangandaran 2006.

Saat tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunmai (EDT) menelusuri Kota Garut, salah satu dari tim mewawancarai salah satu tokoh masyarakat di pantai Santolo, Garut, Jawa Barat. Siapakah dia? Dia ini adalah Mbah Irob yang sekarang berusia 85 tahun! Rumah beliau terletak. Beliau merupakan seorang tokoh masyarakat yang disegani, dan juga seorang ‘juru kunci’ Pantai Santolo. 

Mbah Irob ini mempunyai cerita yang menarik tentang tsunami Pangandaran 2006 saat itu guys. Ia menceritakan ini kepada salah satu tim EDT yang juga tim SiagaBencana.com (Rafly Gilang Pratama). Seperti apakah ceritanya? Langsung simak aja deh!

Mbah Irob menceritakan bahwa dahulu, Santolo bernama Cilaut Ereun (air laut berhenti). Biasanya, air mengalir dari muara menuju laut. Tapi di Cilaut Ereun, air mengalir dari laut menuju muara. Alkisah pada sekitar 1811-1813, Belanda ingin membangun pelabuhan di wilayah ini. Inisator pemb angunannya adalah Tuan Kopman yang dikubur di Pulau Santolo. Sebelumnya, di wilayah ini ada besi yang menancap ke dasar laut yang digunakan untuk mengikat perahu. Ada beberapa orang di atas pulau dan di bawah ada satu orang dan mereka bekerjasama untuk menancapkan besi dengan cara memutar-mutarnya kurang lebih 5 menit. Entah orang biasa, ataupun orang ‘pintar’ karena ini tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa dalam waktu yang sangat singkat. 
 
Suatu hari, ketika sedang memasang besi, datang seorang perempuan bertanya, “Ini sedang membuat apa?”.
 
Ini sedang membuat pelabuhan”, kata orang Belanda.
 
Kata perempuan itu, “Kalau disini tidak akan selesai walau habis banyak uang. Ikuti kata saya. Kali ini harus dipasangi jembatan. Pulau ini jangan di-dinamit atau dipapas karena ini adalah jalan pengubung. Karang Kukus di sebelah barat jangan diganggu karena akan menimbulkan bencana”.
 
Setelah itu, tiba-tiba perempuan itu menghilang tanpa wujud”, ujar Mbah Irob.  Kemudian, pemerintahan Hindia Belanda mengadakan pengorbanan (sesembahan) ke Cilaut Ereun. Setiap hari, selalu ada saja yang meninggal. 
 
 
TSUNAMI PANGANDARAN 2006
 
Saat terjadi tsunami Pangandaran 2006, Mbah Irob sedang berada di rumah seperti biasa. Ketika orang-orang sibuk dan ribut untuk menyelamatkan diri sendiri, Mbah Irob justru pergi ke pantai. Air laut pada saat itu surut hingga karang-karang terlihat. Walaupun air meninggi setelah itu, Mbah Irob tetap tenang. Ketika air sudah mulai setengah meter dari pantai, Mbah Irob menjulurkan kakinya.
 
Pulang. Pulang”, kenang Mbah Irob.
 

Lalu saat itu, menantu Mbah Irob menanyakan akan keberadaanya dan dijawab dengan tenangnya oleh Mbah Irob. Ia mengatakan bahwa keberadaannya tidak usah dikhawatirkan, sebab beliau gemar beribadah dan selalu mengingat Allah SWT. Agar masyarakat terselamatkan dari bencana.

Selalu ingat Allah”, pesan Mbah Irob. 
 
Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia merupakan gudang untuk segenap folklore yang harus dilestarikan. Walaupun tidak semuanya harus dipercaya, kepercayaan ini harus tetap dirawat dan didokumentasikan dengan baik. Memang betul, pengaruh-pengaruh saintifik tidak bisa dipungkiri keabsahannya. Namun, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang relijius dimana sisi spiritualitas tidak boleh di anak tirikan. (MA)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar