Derita di Balik Embun Upas

Derita di Balik Embun Upas

Fenomena embun upas atau frost sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Dieng, Jawa Tengah. Bencana frost terjadi di lahan pertanian Dataran Tinggi Dieng tepatnya di Desa Dieng, Wonosobo dan Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Sub DAS Tulis Hulu. Frost ditandai dengan kemunculan embun yang membeku diatas permukaan tanaman maupun benda akibat suhu turun dibawah 0 derajat celcius dengan sebaran di wilayah dataran maupun lembah-lembah.

Peristiwa embun upas yang terjadi hampir setiap tahunnya di puncak kemarau, selalu menjadi masalah untuk masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan embun upas mengakibatkan kematian tanaman pertanian dan kerugian ekonomi. Sehingga para petani lokal mengalami kerugian yang cukup besar untuk mengganti biaya modal dan lahan pertaniannya yang rusak.  

Kerugian yang dialami oleh para petani dikarenakan pertanian dominasi oleh tanaman kentang yang rentan rusak akibat embun upas. Pertanian kentang mendominasi Dieng karena memiliki nilai jual yang tinggi dan menjadi tumpuan pertanian Dieng sejak 1980-an. Meski kini, masyarakat mulai menyadari bahwa bukan hanya kentang yang bisa ditanam. Hingga masyarakat mencoba menanam komoditas lain, seperti kol, wortel, dan bunga-bungaan.

Dari aspek lokal lingkungan, ternyata sebagian besar masyarakat tidak melakukan apapun saat terjadi embun upas (do-nothing strategy). Menurut mereka, kejadian alam adalah kejadian yang sudah ditetapkan ketentuannya oleh Yang Maha Kuasa, sesuai dengan falsafah Narimo ing pandum dalam budaya Jawa. Sebab sebagian masyarakat juga tidak mengetahui kapan datangnya embun upas serta tidak mengetahui informasi tentang variasi puncak musim kemarau, sehingga mereka tidak memiliki strategi untuk menyikapinya. 

Namun, ada juga sebagian kecil masyarakat yang melakukan strategi adapting strategy diantaranya menggunakan paranet diatas lahan pertanian, melakukan tumpang sari tanaman maupun mengganti komoditas ke tanaman yang lebih tahan embun upas. Terdapat juga modifying strategy seperti membuat tungku pemanas, memasang kipas angia hingga menyemprot air diatas lahan pertanian untuk mencegah embun upas bagi kelompok petani yang memiliki modal banyak. 

Akan tetapi, strategi-strategi tersebut masih belum secara optimal diterapkan masyarakat dan belum diterapkan menyeluruh terintegrasi, menurut Aditya Pradana, Analis Lingkungan dalam webinar Xperience 8.0 Long Live Blue Water (3/10). Sebetulnya, faktor yang menentukan strategi petani Dieng banyak di dominasi aspek lokal kondisi ekonomi, pengetahuan, hingga peran pemerintah. 

Dari fenomena embun upas dan keresahan yang ditimbulkan tersebut, Aditya Pradana berhasil menghasilkan penelitian bersama tim dari Fakultas Geografi, UGM dan dapat dipresentasikan, serta memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki fenomena frost salah satunya pada Tribal Climate Forum di USA pada 2017 lalu. (MA)

“We believe that one day it will be realized and young people will play one of the roles in the process of climate action.” – Aditya Pradana.

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar