Cerita Banjir Nabi Nuh Versi Beberapa Peradaban Kuno Dunia

Cerita Banjir Nabi Nuh Versi Beberapa Peradaban Kuno Dunia

Tlaloc, dewa hujan suku Aztec. Sumber: EWAO (Earth We Are One), Ancient Code.

Halo, sobat Disasterizen!

Banjir bukanlah bencana alam yang asing bagi umat manusia. Sejarah mencatat, ada beberapa banjir yang sudah menewaskan jutaan umat manusia. Salah satunya adalah Banjir Sungai Kuning di Cina.

Baca juga: 5 Banjir Paling Mematikan di Dunia

Dalam beberapa agama atau kepercayaan, banjir juga disebut dalam kitab suci, loh. Cerita Nuh/Noah membangun kapal raksasa untuk menyelamatkan para pengikut setianya dari azab Tuhan yang terkenal dalam Al Qur’an juga ada dalam kitab suci agama lain, seperti di Alkitab (Kitab Kejadian).

Nah, ternyata ada juga loh cerita-cerita unik tentang banjir dari berbagai pusat peradaban dunia yang lain. Penasaran?

Suku Aztec

Tlaloc, dewa hujan suku Aztec. Sumber: Ancient Code

Suku Aztec memiliki ‘Nuh’ versi mereka sendiri, yaitu Nota. Walaupun ternyata, cerita ini sangat kontroversial dan diragukan keabsahannya karena ditulis oleh para pengembara ahli Taurat dari Spanyol yang saat itu menemukan benua Amerika dan berniat untuk membangun peradaban di sana dengan mengusir masyarakat Aztec.

“Ketika Zaman Matahari datang, maka telah berlalu 400 tahun. Kemudian, datang lah 200 tahun, lalu 76 tahun. Kemudian semua manusia hilang, tenggelam, dan berubah menjadi ikan. Air dan langit saling berdekatan. Dalam satu hari semuanya hilang. Tapi sebelum banjir dimulai, Titlachahuan telah memperingatkan Nota dan istrinya, Nena, dengan mengatakan, ‘Janganlah membuat pulque [minuman alkohol yang dibuat dari getah fermentasi tanaman maguey -pen]. Kosongkan lah cemara besar, dimana kamu akan memasuki bulan Tozoztli [bulan ke-4 dalam kalender Aztec -pen]. Air akan mendekati langit….Engkau juga harus makan, tetapi hanya satu telan jagung, dan juga isterimu tapi satu juga." 

-Dokumen Aztec Kuno Kodeks Chimalpopoca, diterjemahkan oleh Abbé Charles Étienne Brasseur de Bourbourg. 

Suku Sumeria

Zeusudra/Ziusudra. Sumber.

Sumeria merupakan sebuah peradaban kuno yang disebut-sebut sebagai salah satu peradaban Abad Perunggu Awal yang paling maju. Mereka tinggal di wilayah Mesopotamia (sekarang: Irak) dan menganut agama politheisme alias kepercayaan terhadap dewa-dewa. Selain itu, mereka juga dipercaya sebagai penduduk Mesopotamia asli sebelum ditaklukkan oleh Kekaisaran Akkadia pada tahun 2.300 SM.

Dalam 14 Tablet Sumeria dijelaskan bahwa para dewa memutuskan untuk mengirimkan banjir guna menghancurkan umat manusia. Dewa Enki, penguasa bawah air laut, memperingatkan Ziusudra, penguasa Shuruppak, untuk membangun sebuah kapal raksasa. 

Setelah itu, terjadilah banjir selama 7 hari 7 malam. Kemudian, matahari pun muncul dan Ziusudra membuka jendela, bersujud, dan mengorbankan seekor lembu dan domba dalam rasa syukur. 

Ziusudra bersujud di hadapan An (Langit) dan Enlin (Dewa Napas), yang telah memberinya napas abadi untuk melestarikan hewan dan benih umat manusia.

Korea 

Namu Doryeong dan serulingnya. Sumber: Interpark.

Korea juga punya cerita mitos banjirnya sendiri, loh. Ini adalah cerita tentang Namu Doryeong, seorang putra dari roh pohon pelindung. Dia selamat dari banjir bandang dengan mengapung di pohon itu. Setelah itu, dia menyelamatkan sebuah koloni semut, segerombolan nyamuk, dan seorang putra laki-laki. 

Setelah banjir, Namu Doryeong bertemu dengan seorang wanita yang sudah memiliki 2 orang putri yang cantik di Gunung Baekdu (sekarang berada di perbatasan Korea Utara dan Cina). Dan kemudian, dia dan seorang putra yang diselmatkannya menikahi dua anak perempuan ini demi keberlangsungan ras umat manusia.

Yunani Kuno

 

Deucalion, putra dari Prometheus. Sumber: Pomptuarii Iconum Insigniorum.

Ada 3 banjir besar yang dikenal dalam mitologi Yunani: banjir Ogyges, banjir Deucalion, dan banjir Dardanus. Masing-masing dinamai berdasarkan raja yang saat itu berkuasa. Dikisahkan, banjir Ogyges menyapu bersih seluruh dunia dan meninggalkan Attica (sekarang: Athena) hingga datang masa pemerintahan raja selanjutnya, yaitu Cecrops I.

Dalam legenda banjir Deucalion, dikisahkan Deucalion adalah putra dari Prometheus, salah satu dari 12 Titan yang berkuasa. Prometheus kemudian memerintahkan anaknya untuk membangun sebuah kapal raksasa. Semua orang tewas kecuali beberapa yang lari ke gunung-gunung tinggi. Gunung-gunung di daerah Thessalia terpisah. Setelah 9 hari terapung, Deucalion dan istrinya, Pyrrha, mendarat di Gunung Parnassus. Sebagian berpendapat kalau mereka mendarat di Gunung Othrys di Thessalia.

Ketika hujan berhenti, mereka berkorban kepada Zeus. Kemudian, atas perintah Zeus, Deucalion melempar batu ke belakangnya, dan mereka berubah menjadi anak laki-laki. Batu-batu yang dilempar oleh Pyrrha berubah menjadi perempuan. (RG)

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar