Berapa Kali dalam Setahun sih Sekolah Kita Harus Berlatih Siaga Bencana

Berapa Kali dalam Setahun sih Sekolah Kita Harus Berlatih Siaga Bencana

Sobat Disasterizen, selain keluarga, sekolah juga memainkan peranan yang penting dalam keselamatan anak dari bencana. Bagaimana tidak? Lebih dari 50% waktu yang seorang anak habiskan adalah di sekolah mereka, baik SD, SMP, maupun SMA. Karena itu, sangat penting dong bagi kita untuk menyelipkan materi-materi kesiapsiagaan bencana ke dalam kurikulum kita.

Tapi sebenarnya, berapa kali sih jumlah ideal bagi sekolah kita untuk berlatih siaga bencana? Pada kesempatan kali ini, redaksi siagabencana.com bertemu dengan salah seorang anggota U-Inspire, sebuah platform profesional muda untuk pengurangan risiko bencana, Wina Natalia. Yuk, kita simak penjelasannya!

Baca juga: Hardiknas Sebagai Upaya Mengintegrasikan Muatan Lokal Pendidikan Bencana

Berkali-kali

“Ya, pelatihan itu sendiri idealnya dilakukan dengan berkali-kali”, ujar Kak Wina saat ditemui oleh tim redaksi pada acara Gebyar Pendidikan 2019 di Monas, Jum’at (3/5)

Saat ditanya kenapa, wanita yang menjabat sebagai koordinator ASEAN Safe School Indonesia (ASSI) ini menjawab, “Karena mereka (para guru –red) sering bertemu dengan murid. Dan mereka akan terus mengingatkan di sela-sela pelajaran, misalnya. Ada sisa jam pelajaran 5-10 menit, mereka bisa mempraktikkan pelatihan mandiri di dalam kelas. Jadi, harus dilatih sesering mungkin. Kalau hanya dilatih se-tahun sekali, nanti anaknya bakalan lupa.”

Pentingkah?

Tapi sebelumnya, apakah pendidikan bencana itu penting? Dan bukankah memasukkan sebuah program ke dalam kurikulum akan menambah anggaran sekolah? Ini kata Kak Wina.

“Kalau anggaran dananya bisa diajukan melalui dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), asalkan jelas perencanaannya.”

Mahalkah?

Kalaupun program ini bisa di-cover oleh dana BOS, apakah program ini akan memakan banyak anggaran?

“Ada beberapa sekolah yang sudah mengintegrasikan materi kebencanaan dalam materi sekolah. Misalnya, di Kampung Melayu (Jakarta Timur), ada sekolah yang mengintegrasikan (materi kebencanaan) dengan pelajaran olahraga”, jawab Kak Wina.

“Jadi sambil olahraga, (mereka bisa) sambil mengecek kerentanan dan kapasitas. Kalau olahraga kan biasanya ada pemanasan keliling lapangan, tapi mereka tidak keliling lapangan. Mereka keliling sekolah untuk mengecek ada kabel yang keluar nggak? Ada jalur evakuasi yang mulai terhambat nggak? Atau titik kumpulnya? Jadi tidak selamanya harus keluar uang”.

Nah, jadi tahu kan seberapa sering kita harus berlatih? Jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberi usulan kepada bu guru atau pak guru. Oke? (RG)

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar