Ahli BMKG Jabarkan 4 Kemungkinan Dentuman Sabtu Silam

Ahli BMKG Jabarkan 4 Kemungkinan Dentuman Sabtu Silam

Gunung Krakatau. Foto: The Jakarta Post

Sobat Disasterizen, ingat tidak sama suara dentuman besar yang terdengar di seluruh kawasan Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat pada Sabtu (11/4) silam? Kejadian tersebut sempat membuat warganet heboh. Banyak warganet yang mengaitkan dentuman keras tersebut dengan letusan Anak Krakatau, atau lebih ekstrim nya lagi, tanda-tanda kiamat sudah mendekat. 

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda maupun bukti kalau dentuman tersebut berasal dari Anak Krakatau.  Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Hendra Gunawan menyatakan pada Sabtu (11/4) bahwa tidak ada laporan suara dentuman dari pos Anak Krakatau.

"Yang di pos Gunung Gede, Puncak, Bogor mendengar sekitar pukul 22.00, saat itu hujan petir. Dan yang di Gunung Salak, ini hanya mendengar dentuman saja pukul menjelang subuh. Mungkin suaranya dari sekitarnya," ujar Hendra seperti yang dilansir oleh kumparan, Sabtu (11/4).

Betul, Anak Krakatau memang sedang erupsi pada saat itu. Tapi, malah dua posko di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango yang melaporkan adanya suara dentuman. 

Entah karena apapun itu, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si, M.Si, membeberkan beberapa kemungkinan atas letusan tersebut via Instagram beliau. Seperti apa sih kemungkinan-kemungkinannya?

  • Petir

Mengingat Bogor, Depok, dan sekitarnya adalah kawasan yang sering diguyur hujan, tidak salah juga jika kita menarik sebuah kesimpulan sementara. Menurut Daryono, walaupun kemungkinan suara petir dapat didengar dalam jarak yang sedemikian jauh sangatlah kecil, kemungkinan ini bisa saja terjadi. 

"Kita juga punya pengalaman misteri suara dentuman di Jabar dan Sumsel pada akhir 2018 terkait erupsi Gn Anak Krakatau," tulis Pak Dar.

  • Fenomena Skyquake

Skyquake adalah sebuah istilah yang digunakan oleh sekelompok orang untuk menyebut suara yang datang dari langit. 

"Para pengguna istilah Skyquake sendiri sebenarnya belum dapat menjelaskan konsepnya secara ilmiah (empiris).Konsep yang sudah mapan terkait fenomena bunyi yang bersumber dari peristiwa atmosferik tersebut adalah infrasonic wave, sonic boom dll," tulis Pak Dar di halaman Instagramnya. 

Lanjut beliau, "Saat terjadi dentuman, tidak ada laporan dari stasiun pendeteksi sonic boom yang ada di dunia sehingga bunyi dentuman tidak bersumber dari peristiwa atmosferik yang terjadi di atmosfer. Saat itu juga tidak ada laporan pesawat terbang dengan kecepatan suara."

  • Gempa

Kemungkinan ketiga adalah gempa bumi, mengingat negara Indonesia kita tercinta ini terletak di antara pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Karena itu lah BMKG pernah melaporkan ada 11.437 kejadian gempabumi, baik itu besar maupun kecil, yang terjadi di sepanjang tahun 2019 kemarin. Kekuatan gempa yang besar ditambah dengan titik pusat gempa yang dangkal bisa mengakibatkan bunyi ledakan yang besar. Biasanya, suara ledakan yang timbul karena gempa hanya sekali, tidak beruntun seperti yang terjadi pada Sabtu (11/4) silam.

Pak Dar merefleksikan pada kasus di Imogiri, Bantul, pada 2006 silam. Kata beliau, "Bunyi dentuman tidak beruntun, dentuman tjd beda hari, bahkan berhari hari. Gempa yg dpt mengeluarkan ledakan dipastikan tercatat sensor seismik. Kemarin pagi BMKG tdk mencatat gempa di sekitar Bogor shg dentuman tsb tdk berkaitan dgn gempa tektonik."

  • Longsoran

Kemungkinan terakhir adalah longsoran. Longsoran yang melampaui batas elastisitas batuan dan disertai kekuatan yang tinggi dapat terdengar seperti suara dentuman. 

"Di Bogor BMKG menempatkan 2 sensor seismik broadband yang berada di Citeko (Cisarua) dan Darmaga. Jika longsoran dahsyat tersebut memang terjadi di bogor dan sekitarnya niscaya sensor tersebut akan mencatatnya sebagai event seismik, kenyataannya tidak ada event yang tercatat saat terdengar bunyi dentuman. Bunyi dentuman akibat longsoran tidak akan terjadi berulang-ulang."

Hmm, jadi yang mana ya? Apapun jawabannya, yang penting kita tetap siap dan siaga ketika bencana terjadi. Coronavirus mungkin menjadi fokus kamu belakangan ini, tapi jangan sampai bahaya yang lain luput, ya! (RG)

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar