7 Rekomendasi Kebijakan IKETAN

7 Rekomendasi Kebijakan IKETAN

Jumat, 10 September 2021, Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan BRIN, UI, BMKG, U-INSPIRE Indonesia, BPBD Prov Bali dan BPBD Kab Badung melakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk mencapai tujuan penelitian Inovasi Komunikasi Efektif Evakuasi untuk Kesiapsiagaan Masyarakat dan Wisatawan terhadap Tsunami (IKETAN) di kawasan pariwisata Kelurahan Tanjung Benoa, Bali.

FGD tersebut dihadiri oleh pemerintah, kecamatan, kelurahan, desa, bendesa, kaling, kepala sekolah, kepala puskesmas, ketua LPM, ketua karang taruna, ketua FPRB, dan ketua Paiketan Krama Istri. Kegiatan tersebut juga difasilitasi dan didukung oleh BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, dan BMKG Wilayah III Bali.

Dari kegiatan FGD tersebut, ada beberapa pertanyaan yang dijadikan salah satu masukkan dalam penyusunan rekomendasi dan membangun IKETAN di kawasan pariwisata Kelurahan Tanjung Benoa, Bali, yakni…

  • Bagaimana SOP penyampaian informasi peringatan dini tsunami/arahan evakuasi dari BMKG atau BPBD kepada masyarakat dan wisatawan?
  • Apa saja tantangan, kendala, dan keberhasilan yang telah dicapai dalam pelaksanaan kesiapsiagaan masyarakat terhadap tsunami?
  • Bagaimana rencana ke depan di Tanjung Benoa, terkait dengan penyampaian informasi dan kesiapsiagaan evakuasi tsunami?

Dari beberapa pertanyaan tersebut dan penelitian yang telah dilakukan maka menghasilkan tujuh butir rekomendasi kebijakan. Berikut ini tujuh rekomendasi kebijakan dari hasil penelitian Inovasi Komunikasi Efektif Evakuasi untuk Kesiapsiagaan Masyarakat dan Wisatawan terhadap Tsunami (IKETAN) di kawasan pariwisata Kelurahan Tanjung Benoa, Bali!

  • Perlunya Pemutakhiran Peraturan Gubernur Bali Nomor 34 Tahun 2012

Berdasarkan hasil riset pemodelan tsunami terbaru, estimasi waktu tiba tsunami yaitu 20-25 menit dengan potensi tinggi tsunami di sisi Timur dapat mencapai 10-14 m sedangkan di tinggi di sisi Barat 6-10 m. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemutakhiran pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 34 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Peringatan Dini Tsunami dan materi edukasi kesiapsiagaan tsunami di Bali yang mencantumkan estimasi waktu tiba tsunami 30-60 menit.

  • Perlunya Penambahan Tempat Evakuasi Vertikal

Kelurahan Tanjung Benoa memiliki jumlah penduduk sekitar 5.602 jiwa. Selain itu jumlah wisatawan yang menginap dapat mencapai 5000 wisatawan jika semua hotel terisi penuh, sedangkan pada siang hari jumlah wisatawan dapat mencapai 30.000 wisatawan per hari. Namun, kapasitas jalur dan tempat evakuasi yang ada saat ini baru mencukupi untuk 3000 orang, sehingga belum mumpuni untuk menyelamatkan jiwa penduduk dan wisatawan yang berada di Tanjung Benoa secara keseluruhan. Maka diperlukan penambahan infrastruktur tempat evakuasi vertikal.

Posisi Kelurahan Tanjung Benoa terjepit laut dari sisi utara barat timur selatan. Di sini tidak terdapat bangunan tinggi, padahal area Tanjung Benoa relatif datar dan tidak memiliki bukit yang tinggi.

  • Penguatan Kerjasama Desa Adat dengan Pemerintah dan Stakeholder

Desa Adat menyatakan siap untuk membantu upaya Pengurangan Risiko Bencana di wilayah Tanjung Benoa secara khusus dan di Bali secara umum, termasuk untuk pemanfaatan tanah desa adat, pemberian edukasi serta bagian dari komunikasi dalam rantai sistem peringatan dini, dan hal-hal terkait lainnya.

  • Perlunya Penambahan Sirine atau Moda Komunikasi Tradisional

Jumlah sirine atau moda komunikasi tradisional seperti kentongan juga perlu dilakukan penambahan, sehingga jangkauan dapat lebih luas. Selain itu perlu diperhatikan juga kondisi pada saat ramai supaya suara kentongan atau sirine tersebut tetap dapat terdengar jelas.

  • Perlunya Kontinuitas Pelaksanaan Edukasi dan Simulasi Secara Berkelanjutan

Pelaksanaan edukasi dan simulasi secara berkelanjutan dan berkala di sekolah, fasilitas kesehatan, hotel, tempat wisata dan seluruh lapisan masyarakat perlu dilakukan supaya masyarakat menjadi biasa dalam hal kesiapsiagaan. Selain bekerja sama dengan BPBD, pihak Bendesa diharapkan dapat melakukan edukasi secara mandiri kepada warga Tanjung Benoa.

  • Memperkuat Kerja Sama dengan pihak hotel dan sektor pariwisata

Diperlukan juga memperkuat kerja sama dengan pihak hotel di pantai Barat, menyusun MoU dengan hotel yang belum memiliki MoU, memelihara MoU tersebut dengan pihak hotel, dan melakukan pengecekan serta revisit MoU dan SOP secara berkala.

  • Perlunya Kontinuitas Pengembangan dan Pemeliharaan Platform digital IKETAN (Inovasi Komunikasi Efektif Evakuasi untuk kesiapsiagaan masyarakat dan wisatawan terhadap Tsunami di Kawasan pariwisata Kelurahan Tanjung Benoa, Bali),

Perlu adanya kontinuitas pengembangan dan pemeliharaan platform digital IKETAN untuk pengembangan dan pemutakhiran informasi mengenai kondisi Kelurahan Tanjung Benoa, baik dari sisi wisata maupun tsunami dan kebencanaan. Platform ini dapat diakses masyarakat, wisatawan dan pelaku perjalanan bisnis secara lebih luas. Saat ini sudah dikembangkan dan dapat membantu menyebarkan informasi mengenai kondisi Kelurahan Tanjung Benoa secara digital (https://bit.ly/IKETAN). Platform ini selanjutnya direkomendasikan dapat turut dikembangkan oleh Bendesa dan Forum PRB Tanjung Benoa. (MA)

 

 

 

 

 

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar