3 Pilar Utama Pembangunan Sekolah Tangguh Bencana

3 Pilar Utama Pembangunan Sekolah Tangguh Bencana

Sobat Disasterizen, pendidikan merupakan sarana tercanggih dalam menanamkan budaya tangguh bencana kepada anak-anak. Anak-anak menghabiskan kebanyakan waktunya di sekolah. Karena itu, guru dan para warga sekolah yang lain berperan menjadi keluarga kedua bagi anak-anak.

Untuk menanamkan watak siaga bencana, setidaknya ada 3 pilar utama yang harus ditempuh oleh sekolah. Apa saja itu?

Berikut adalah penuturan Wina Natalia, koordinator ASEAN Safe School Initiative ketika ditemui di acara Gebyar Pendidikan Hardiknas, Jum’at (3/5). Yuk, disimak!

Apa itu 3 pilar?

3 pilar adalah kerangka kerja yang utama. Mudahnya, 3 pilar adalah sebuah garis besar dari tujuan yaitu sekolah aman bencana. Pilar pertama berbicara tentang fasilitas sekolah aman, pilar kedua tentang manajemen, dan pilar ketiga berbicara tentang pendidikan PRB (Pengurangan Risiko Bencana).

Pilar 1: Fasilitas Sekolah Aman.

Fasilitas sekolah aman mencakup dua hal utama, yaitu infrastruktur dan sarana. Jadi, ketika kita berbicara tentang fasilitas sekolah aman, kita berbicara tentang struktur fisik dan sarana yang ada di sekolah. Apakah gedungnya kuat? Apakah akses menuju alat-alat kebencanaannya mudah? Apakah kotak P3K tersedia? Bagaimana dengan jalur evakuasi? Apakah meja-mejanya cukup kuat untuk drop, hold, and cover?

Pilar 2: Manajemen.

Manajemen bencana di sekolah berbicara tentang pembagian tugas para warga sekolah ketika bencana terjadi. Apa yang harus kepala sekolah lakukan? Siapa yang bertanggung jawab untuk mengecek keadaan anggota kelas? Siapa yang bertanggung jawab untuk menjaga bangunan sekolah setelah terjadi bencana supaya tidak terjadi penjarahan? 

Tapi, jangan salah loh. Semua warga sekolah bisa ikut. Semua, bahkan hingga anak-anak SD pun masih bisa ikut. Tentu saja tergantung dengan kapasitas mereka. Anak SD, misalnya, bisa ditugaskan untuk mengabsen anggota kelasnya. Anak SMP, mungkin, bisa ditugaskan untuk mengobati luka-luka yang ringan. Anak SMA bahkan bisa ditugaskan untuk memberikan pertolongan pertama. Tentu, ini semua dalam kapasitas mereka dan juga latihan yang intensif.

Pilar 3: Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana

Seperti namanya, pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana berbicara tentang pendidikan yang bersifat tekstual dan konseptual yang bisa dilakukan oleh guru-guru di sekolah. 

Tentu, pembagian tugas tidak akan berhasil jika pihak yang diberikan tugas tidak mengerti apa yang mereka kerjakan. Karena itu, pilar ke-tiga sama pentingnya dengan dua pilar di atas. 

Pendidikan ini bisa dilakukan dengan cara diintegrasikan ke dalam kurikulum kita. Seperti contohnya ada sebuah SD di Kampung Melayu, Jakarta Timur yang mengintegrasikan materi kebencanaan dengan pelajaran olahraga. Anak-anak diminta untuk berlari mengitari sekolah sambil mengecek keadaan gedung seperti apakah ada kabel yang keluar? Apakah ada jalur evakuasi yang terhambat? Apakah titik kumpulnya lapang?

Jadi, tidak selamanya harus mahal. Bisa juga diintegrasikan ke dalam pelajaran IPA, IPS, dan juga Bahasa.

Nah, jadi seperti itu sobat Disasterizen. Sekolah memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter seorang murid, dan salah satu karakter yang harus dikembangkan adalah karakter siaga bencana. (RG)

 

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar