Perlindungan Anak Saat Bencana

Pentingnya Perlindungan Anak Pada Situasi Bencana

Rabu (15/03/23), webinar Ngopi PB kembali di gelar dengan mengangkat tema “Perlindungan Anak di Masa Darurat” dengan mengundang Reny R. Haning (Child Protection & Advocacy Specialist Child Fund Indonesia) sebagai narasumber, Edy Supriyanto (BPBD Jawa Tengah) dan Tsaairoh (Predikt) sebagai penanggap.

Reny menjelaskan, dalam situasi bencana semua akses dan layanan menjadi terganggu. Tidak sampai di situ, di situasi bencana juga meluasnya ancaman keselamatan dan kelangsungan tumbuh kembang anak. Hal tersebut diakibatkan beberapa hal, seperti melemahnya kemampuan lingkungan berlapis dalam melindungi anak, kasus berisiko meningkat, dan kerentanan akibat usia dan tingkat kematangan individu. 

Dokumentasi : Zoom Ngopi PB (15/03/23)

Lebih lanjut, Reny mengatakan ada berbagai cakupan keselamatan dan pencegahan kekerasan, pelecehan dan eksploitasi seksual yang menjadi pertimbangan yang harus dilakukan oleh semua pihak. Pertama, memahami risiko yang merugikan atau mencederai anak. Kedua, memastikan bahwa program implementasi dan evaluasi yang dibuat sebagai bentuk mengurangi atau menghilangkan situasi risiko agar tidak meningkatkan kerentanan pada anak. Ketiga, mekanisme pengaduan atau identifikasi, dan mekanisme respon yang aman, inklusi dan efektif bagi anak dan individu yang melaporkan. 

Selain itu, Reny menjelaskan apa yang harus dilakukan dalam cakupan keselamatan dan pencegahan kekerasan pada anak dalam situasi bencana, yakni…

Komitmen StakeholdersPimpinan, pengelola lembaga, mitra, pekerja, dan relaawan diikat dengan kebijakan tertulis
Rekrutmen, penugasan, induksi atau orientasi, pelatihanKehati-hatian dalam perekrutan dan penyiapan staff/relawan, orientasi, dan pelatihan terkait 
Kajian dan manajemen risikoIdentifikasi, analisa, dan pengelolaan risiko di setiap aspek (termasuk desain dan perencanaan), dan rumusan upaya pencegahan
Pedoman perilaku (kode etik)Do’s and Don’ts, tersosialisasi, pernyataan komitmen PA yang ditandatangani
Manajemen insiden dan protokol responJalur pelaporan, mekanisme penanganan kasus, mulai dari internal, hingga ke rujukan dengan jaringan layanan
Komunikasi eksternalPanduan mekanisme interaksi dan komunikasi dengan pihak eksternal, lembaga layanan dan media/publik

Diperlukan juga identifikasi risiko yang dilakukan di awal. Sebab, program-program yang akan dijalankan perlu memastikan apa saja bentuk risikonya, keparahan dampaknya, langkah pencegahan, dan lain sebagainya. 

Adapula perlunya mewaspadai risiko akibat relasi kuasa. “Kita perlu di organisasi sendiri, bahkan juga di klaster internasional. Itu perlu memverifikasi, mengecek background siapa saja yang akan terjun ke daerah-daerah respon bencana. Kalau perlu, identitasnya ada di klaster nasional. Sehingga ketika ada apa-apa itu lebih gampang di respon” kata Reny. 

Di Ignite Stage, Muhammad Arifin (TDMRC)  selaku narasumber menjelaskan pemanfaatan media sosial untuk peningkatan ketahanan ekonomi. Ia menceritakan keresahannya akan keterbatasan gawai yang ia pakai, pendapatan yang ia dapat, masyarakat yang bosan dengan sosialisasi kesiapsiagaan, dan banyak penelitian lebih fokus pada isu kesiapsiagaan. 

Dari keresahan tersebut, maka dapat dorongan untuk meningkatkan kapasitas dengan mengikuti segala kelas belajar sebagai penunjang meningkatkan keahlian. Setelah belajar hal baru dan membuahkan hasil, timbullah personal branding untuk meningkatkan diri. Ketika sudah memiliki kapasitas, membuat konten, dan mendapat personal branding otomatis uang akan mengalir ke diri dan perasaan bahagia. 

Jadi, media sosial bukan lagi hal yang negatif. Tapi juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ketahanan ekonomi. 

Begitu menarik pembahasan Ngopi PB di minggu ini. Bagaimana dengan minggu depan? Ikuti webinar Ngopi PB yang dilaksanakan setiap Rabu malam jam 19.00 – 20.00 WIB dengan mendaftar melalui https:bit.ly/NgopiPB2.0

Atau kamu yang ingin menonton kembali sesi Ngopi PB sebelumnya, kunjungi di Facebook Pujiono Center https:bit.ly/YoutubePREDIKT (MA)