yakkum emergency unit

Mitra YAKKUM Emergency Unit Tunjukkan Ketangguhan Bencana Difabel dalam Temu Inklusi Nasional

Situbondo, 31 Juli 2023—Hari pertama Temu Inklusi #5 tahun ini di Situbondo, Jawa Timur, diadakan dengan antusiasme tinggi. Tercatat oleh panitia, 662 peserta telah hadir di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, di hari pertama dari tiga hari rangkaian kegiatan. 

Pada malam sebelumnya, diadakan sarasehan bersama dengan Pengasuh Ponpes Salsyaf, sebagaimana singkatan yang populer di kalangan santri. Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan persiapan petugas stan-stan pameran yang siap menyambut pengunjung. Beragam tampilan dari pemerintah daerah, organisasi advokasi disabilitas, dan masyarakat sipil menawarkan ragam sajian.

FOTO : YEU

Selama tiga hari, stan pameran Temu Inklusi #5 siap berbagi pengetahuan dan praktik baik inklusi dari pukul 08.00 hingga 21.00 WIB malam. Nunung Nuryartono, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), membuka pameran ini pada Senin siang (31/7). “Tidak boleh ada lagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas yang terpinggirkan,” demikian pesannya.

FOTO : YEU

Selain bermacam materi edukasi dan pameran karya inklusi disabilitas, rombongan besar YAKKUM, termasuk YAKKUM Emergency Unit (YEU) dari Yogyakarta, secara khusus hadir pula menyediakan produk kerajinan dan pangan lokal dari mitra-mitra dampingan, serta bermacam bahan pembelajaran.

FOTO : YEU

Terkait inklusi penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana (PB) dan adaptasi perubahan iklim (API), YEU menampilkan inovasi-inovasi kebencanaan inklusif dari program IDEAKSI (Ide, Inovasi, Aksi, Inkusi), seperti lewat maket, alat peraga, dan modul pengurangan risiko bencana (PRB) inklusif. Inovator IDEAKSI dari CIQAL, DIFAGANA DIY, dan Forum PRB Gunungkidul, hadir langsung di pameran ini untuk berbagi pengalaman mereka.

Terpisah, sesi-sesi diskusi diadakan sejak pagi hingga sore hari, juga terkait inklusi. Dua seminar nasional membahas pengarusutamaan (mainstreaming) inklusi disabilitas dalam proses perencanaan pemerintah di RPJMN dan RPJPN, serta terkait inklusi dalam aspek hukum dan peradilan. Ada pula diskusi-diskusi tematik tentang pemilu dan pendidikan yang inklusif.

FOTO : YEU

Membawa inovasi PB dan API inklusif, YEU, bersama lembaga lain seperti LBH Masyarakat (LBHM) dan Pemerintah Desa Tanjung Glugur Situbondo, hadir di sesi Appreciative Inquiry (AI). Model presentasi lewat tayangan-tayangan video yang disambung tanya–jawab ini pun diapresiasi oleh peserta AI dari Bapelitbang Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Sherwin Ufi. “Ini cara presentasi inovatif,” terangnya.

80 lebih peserta yang menghadiri sesi AI juga aktif mencari tahu lebih lanjut lewat pertanyaan-pertanyaan terkait komitmen desa inklusif dari Kepala Desa Tanjung Glugur, Anisatul Arifah. Penegasan juga diberikan oleh perwakilan LBH Masyarakat terkait pelibatan orang dengan disabilitas intelektual secara penuh di masyarakat, terlepas dari stigma yang dilekatkan terkait ketidakcakapan hukum dan intelektual. 25 maha-santri (mahasiswa) dari Ma’had Aly, yang juga bagian dari Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, menyampaikan proses belajar mereka dari sesi ini.

Salah satu pembelajaran yang disampaikan moderator dari Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDiS), Ardy Hidayat, adalah pilihan kata yang lebih baik. “Sejak UU Penyandang Disabilitas disahkan, jangan lagi kita sebut orang cacat dan normal, atau tuna netra, tuna daksa, dan sebagainya. Marilah kita pakai istilah ‘disabilitas’. Nah, untuk inilah Temu Inklusi diadakan supaya kita saling belajar, selain juga bisa merasakan kehidupan di pesantren.”

Secara khusus terkait penanggulangan bencana, YEU berbagi lewat video praktik baik IDEAKSI. YEU pun tegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh ditinggalkan dalam situasi bencana. Menanggapi ini, Sherwin Ufi menyampaikan keinginan pihaknya belajar, “.. dari model keluarga angkat dan website [inovasi IDEAKSI] yang tentunya sangat diperlukan dalam konteks NTT, khususnya Rote, dari pengalaman siklon besar 10 tahunan, terakhir dari bencana Siklon Seroja.”

Selanjutnya, acara masih terus dilanjutkan dengan pentas seni di malam hari, dan rangkaian pembukaan dan seminar di hari kedua. YEU pun masih akan terlibat dalam diskusi tematik tentang PB dan API inklusif, bersama CBM dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Cianjur.

Sebagai penutup kegiatan, rekomendasi akan diberikan di hari ketiga untuk para pemangku kepentingan terkait inklusi, termasuk dalam aspek penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim. (MA)