lagu serat srinata

Mengerikan, Dibalik Lagu Serat Srinata

Kilat thathit abarunganPanjunegur swara kagiri-giriNarka yen kiyamat ikuToya minggah ngawiyatApan kadya amor mina toyanipunSemana datan winarnaRatu kidul duk miyarsi Lagya sare kanthi dentaKagegeran manehe Sang Sung DewiDene naga samya mlayuArsa minggah perdataRatu Kidul alon denira amuwusSelawas sun durung mulatSamodra pan dadi kisik    Dene panase kang toyaAnglir agni klangkung panasing warihMina sedaya pan lampusBaya ari kiyamat    Kilat dan halilintar bersamaanGemuruh suaranya menakutkanMengira bahwa itu adalah kiamatAir naik ke angkasaBahkan, seperti bercampur dengan ikan airnya.   Pada saat itu tidak dikisahkanRatu Kidul saat mendengarnyaSedang tidur beralaskan gadingKacau hati Sang DewiBahkan naga pun semua lariIngin naik untuk berkelahiRatu Kidul perlahan berkata:”Selama ini aku belum pernah menyaksikan,Samudra menjadi pesisir [pantai].  ㅤBahkan panasnya air, bagaikan api,sangatlah panas airnyaSemua ikan matiMungkin hari kiamat ini (Diterjemahkan oleh Josephine Apriastuty Rahayu 2018 / Kompas)

Baca juga : MITOS DI NEGARA LAIN

Ada yang tahu lagu itu Disasterizen? Mungkin sebagian dari kamu tidak mengetahui lagu tersebut ya? Lagu ini adalah lagu Jawa yang tertulis di buku Babad Tanah Jawi. Untuk menelusuri jejak tsunami nih, selain menggunakan studi sedimentasinya, ternyata lagu ini juga bisa lho mengungkap apa yang terjadi tsunami pada masa lampau.

Lagu Serat Srinata ini menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu melalui pilihan kata yang ada dalam lagu. Lihat saja deskripsi yang telah diberikan, ini tuh sangat identik dengan kesaksian dari korban tsunami besar.

Sama halnya dengan tsunami yang telah terjadi di beberapa daerah seperti Aceh. Yang mereka lihat air naik ke angkasa, ikan pada mati, dan lain sebagainya. Ini lah yang menjadi dasar bahwa semuanya menjadi sesuatu yang nyata.

Dari fakta-fakta tersebut, dikemas menjadi sesuatu yang berbeda, yaitu dibuat menjadi sebuah lagu seperti yang kalian baca saat ini Disasterizen. Hal ini pun diungkap oleh Eko Yulianto dalam seminar ‘The Untold Story of Java Southern Sea’ di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Kamis (25/07). “Kurang lebih seperti ini lagu yang sudah diartikan, kilat dan halilintar bersamaan, gemuruh suaranya menakutkan, mengira bahwa itu adalah kiamat, air naik ke angkasa, bahkan seperti bercampur dengan ikan airnya, pada saat itu dikisahkan, Ratu Kidul saat mendengarnya”.

Menarik sekaligus mengerikan sekali ya Disasterizen! Wah kalau begitu, kewajiban kita sebagai generasi mendatang untuk tetap melestarikan dan menjaga kearifan lokal kita. Karena dengan ini kita bisa mendapat informasi yang sangat bermanfaat untuk kedepannya. (MA)