Menakar Kesiapsiagaan Tsunami di Negeri Cincin Api: “Refleksi Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2025”.

Setiap tahun, 5 November menjadi momentum dunia untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sudah benar-benar siap menghadapi tsunami? Bagi Indonesia, negeri yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng aktif dunia dan dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik, pertanyaan ini bukan sekadar retorika, tetapi panggilan untuk terus belajar dari sejarah, memperkuat kesiapsiagaan, dan menumbuhkan budaya siaga di setiap lapisan masyarakat. Dari kisah Inamura-no-Hi di Jepang hingga semboyan nasional “Siap untuk Selamat”, kita diingatkan bahwa mitigasi tsunami bukan hanya soal teknologi peringatan dini, melainkan juga tentang pengetahuan lokal, solidaritas, dan tindakan nyata yang menyelamatkan nyawa.

Dunia memperingati Hari Kesadaran Tsunami Dunia (World Tsunami Awareness Day/WTAD) setiap tanggal 5 November untuk meningkatkan pemahaman tentang ancaman tsunami dan pentingnya kesiapsiagaan. Peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Nomor 70/203 pada 22 Desember 2015 atas usulan Jepang, negara yang memiliki pengalaman dan sejarah panjang menghadapi tsunami.

Tanggal 5 November dipilih karena terinspirasi dari kisah Inamura-no-Hi. Istilah Inamura-no-Hi (稲むらの火) secara harfiah berarti “api di tumpukan jerami padi.” Secara makna, merujuk pada tindakan heroik seorang petani yang membakar lumbung padinya di Prefektur Wakayama, Jepang dan berhasil menyelamatkan warga desa dari peristiwa Gempa Ansei Nankai tahun 1854.

Peringatan ini  mencerminkan pentingnya pengetahuan tradisional, kearifan lokal,  praktik masyarakat dalam mengurangi risiko bencana dan mengingatkan dunia bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang memori kolektif dan nilai kemanusiaan dalam melindungi kehidupan.

Kisah Inamura-no-Hi: Dari Api Jerami ke Budaya Siaga Tsunami

Cerita ini berakar pada peristiwa nyata yang terjadi pada 5 November 1854, ketika Gempa Ansei Nankai mengguncang Prefektur Wakayama dan memicu tsunami dahsyat. Dikisahkan seorang petani bernama Goryo Hamaguchi, yang tinggal di sebuah rumah di perbukitan, saat itu ia merasakan getaran gempa besar pada malam hari. Ketika melihat ke laut, ia mendapati air laut surut dengan cepat, tanda klasik akan datangnya tsunami.

Menyadari bahwa tidak ada waktu untuk memperingatkan warga desa, ia memutar otak dan menyalakan obor kemudian membakar tumpukan jerami padinya (inamura), hal ini ia lakukan agar asapnya terlihat dari kejauhan sebagai tanda bahaya untuk memperingatkan warga tentang tsunami yang akan datang menerjang desanya. Warga yang melihat kobaran api bergegas menuju bukit untuk memadamkan kebakaran. Beberapa saat kemudian, gelombang raksasa menyapu desa, menghancurkan rumah-rumah di pesisir. Berkat tindakan cepat dan pengorbanannya, seluruh warga berhasil selamat.

Kisah “Inamura-no-Hi” merupakan aksi sederhana yang  mampu menyelamatkan seluruh desa dan kisah ini menjadi simbol kearifan lokal, gotong royong, kepedulian, dan tindakan cepat dalam menghadapi ancaman tsunami. Untuk mewariskan nilai ini, pemerintah Jepang membangun Inamura-no-Hi no Yakata Hall di Hirogawa pada tahun 2007 sebagai pusat pembelajaran kesiapsiagaan tsunami. Ribuan orang datang setiap tahun untuk mendengar kisah tersebut, belajar tentang tsunami, dan memahami bahwa kesiapsiagaan adalah bagian dari kehidupan. Kisah Inamura-no-Hi bukan sekadar legenda lama. Ia adalah cahaya dari masa lalu yang menuntun dunia menuju masa depan yang lebih aman, lebih tangguh, dan lebih siap.

Be Tsunami Ready: Invest in Tsunami Preparedness

Peringatan World Tsunami Awareness Day menjadi bagian penting dalam upaya mencapai tujuan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, yaitu mengurangi kerugian akibat bencana melalui pembangunan ketangguhan di semua sektor. Tema WTAD tahun 2025, yaitu “Be Tsunami Ready: Invest in Tsunami Preparedness”, juga sejalan dengan tema International Day for Disaster Risk Reduction (IDDRR) 2025, yang menekankan pentingnya pendanaan, tata kelola, dan aksi berbasis bukti untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana. Keduanya menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar kewaspadaan, melainkan investasi jangka panjang untuk melindungi kehidupan, mata pencaharian, dan keberlanjutan ekonomi pesisir dari dampak dahsyat tsunami, baik yang berasal dari gempa bumi, letusan gunung api bawah laut, maupun longsoran laut.

Lima pesan kunci dari peringatan tahun 2025 ini menegaskan bahwa:

  1. Kesiapsiagaan tsunami adalah kebaikan publik dan strategi ekonomi yang cerdas.
    Investasi pada sistem peringatan dini, peta evakuasi, pendidikan risiko, dan latihan rutin terbukti menyelamatkan nyawa, mengurangi gangguan sosial, dan melindungi capaian pembangunan di wilayah pesisir.
  2. Koherensi regional sangat penting untuk peringatan dini tsunami.
    Tsunami tidak mengenal batas negara, sistem lintas batas yang saling terhubung dan protokol bersama memungkinkan peringatan cepat, tepercaya, dan koordinasi efektif di sepanjang pesisir.
  3. Pembiayaan dan inovasi untuk ketangguhan tsunami sangat dibutuhkan.
    Pendanaan yang selaras dengan risiko pesisir serta pemanfaatan teknologi baru  seperti jaringan deteksi tsunami, pemodelan genangan, dan infrastruktur tahan gelombang akan memperkuat ekonomi pesisir yang berkelanjutan.
  4. Komunikasi risiko tsunami harus dilakukan secara berkelanjutan.
    Tsunami merupakan bahaya yang jarang terjadi namun berdampak besar, kesadaran publik yang berkelanjutan membantu menjaga ingatan risiko, memperkuat kesiapan jalur evakuasi, dan memperkokoh ketahanan masyarakat secara menyeluruh.
  5. Kesiapsiagaan tsunami dapat diukur. Melalui kerangka kerja berbasis kinerja seperti penyediaan informasi publik, kegiatan edukasi rutin, dan latihan evakuasi komunitas kita dapat memastikan bahwa langkah-langkah perlindungan telah benar-benar diterapkan.

Dari Inamura-no-Hi  di Jepang ke Siap Untuk Selamat di Indonesia

Kisah Inamura-no-Hi dari Jepang mengajarkan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang kearifan lokal, solidaritas, dan tindakan cepat dalam menghadapi bahaya. Nilai ini sangat relevan bagi Indonesia, negeri kepulauan yang berada di jalur Cincin Api Pasifik dan memiliki sejarah panjang bencana tsunami.

Tragedi tsunami Aceh tahun 2004 menjadi pengingat paling kuat akan pentingnya kesiapsiagaan. Dalam sekejap, gelombang dahsyat merenggut lebih dari 160.000 jiwa dan menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir barat Sumatra. Namun dari peristiwa itu pula, lahir perubahan besar dalam tata kelola kebencanaan Indonesia. Pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memperkuat BMKG dalam sistem peringatan dini tsunami dengan melahirkan Indonesia Tsunami Early Warning System/Ina TEWS, serta menumbuhkan pendidikan kebencanaan di sekolah melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Indonesia melalui BNPB mencanangkan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) pada 26 April 2017. Tanggal ini dipilih sebagai pengingat 10 tahun Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sebagai tonggak perubahan besar dalam sistem pengelolaan bencana di tanah air. Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) adalah sebuah gerakan nasional yang diperingati setiap 26 April pada pukul 10.00 waktu setempat. Tujuan utama HKB adalah untuk menumbuhkan budaya sadar dan siaga bencana di seluruh lapisan masyarakat. Melalui kegiatan simulasi, latihan evakuasi, edukasi di sekolah, hingga kampanye public dengan pesan utama “Siap Untuk Selamat”.

Dua dekade berlalu, berbagai inisiatif terus dilakukan untuk menumbuhkan budaya siaga tsunami. Masyarakat dilatih untuk memahami tanda-tanda tsunami, mengenali rambu-jalur evakuasi, serta mempraktikkan prosedur penyelamatan diri. Sekolah-sekolah pun mulai mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum dan melaksanakan latihan evakuasi secara rutin. Upaya ini diperkuat melalui kerja sama internasional, salah satunya melalui proyek Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) yang dimulai sejak tahun 2021 dan resmi berakhir pada 30 Oktober 2025. Proyek yang didanai oleh Bank Dunia (World Bank) ini melibatkan BNPB, BMKG dan pemerintah daerah, dengan fokus pada peningkatan infrastruktur, peralatan pendukung, serta sumber daya manusia (SDM) di wilayah berisiko sedang hingga tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami.

Closing Ceremony IDRIP (30/10)

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto dalam penutupan proyek IDRIP di Graha BNPB menyampaikan bahwa berakhirnya proyek ini menandai awal dari kemandirian lembaga dan masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Program IDRIP telah berlangsung selama lima tahun. BNPB berharap capaian bersama ini dapat meningkatkan kemampuan pemerintah daerah, khususnya di titik-titik yang diprediksi berpotensi gempa bumi dan tsunami di 34 provinsi dan 30 kabupaten/kota Salah satu capaian penting dari proyek ini adalah pembangunan pusat pengendalian operasi (Pusdalops) daerah beserta peralatannya, yang memperkuat kapasitas tanggap darurat di tingkat lokal.

Selain itu, BNPB juga melakukan pemetaan detail risiko tsunami di 156 desa yang tersebar di 26 kabupaten dan 16 provinsi, sebagai dasar perencanaan pembangunan dan tata ruang berbasis risiko. Capaian lainnya adalah pembangunan pusat data (data center) BNPB di Sentul, Jawa Barat, yang telah memperoleh sertifikasi ANSI/TIA-942-C Facility – Rated 3, menjadikannya satu-satunya lembaga pemerintah dengan fasilitas data center bersertifikasi desain dan fasilitas kelas dunia tersebut.

Plt. Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan lompatan modernisasi sistem pemantauan pemrosesan dan diseminasi gempa bumi dan tsunami secara nasional.

Sebelumnya peringatan dini diberikan dalam waktu 5 menit. Setelah dikerjakan melalui proyek IDRIP sudah dapat memberikan peringatan dini dan sudah teruji maksimum 3 menit, bahkan beberapa kejadian antara 2 hingga 3 menit. Kemudian lebih akurat, akurasinya meningkat dan jangkauannya juga lebih luas. Hal ini merupakan pengembangan High Performance Computing digunakan untuk mempercepat analisis gempa dan tsunami secara real time.

Suatu hasil yang patut dibanggakan karena supercomputer yang dihasilkan dari proyek IDRIP ini termasuk 500 besar supercomputer yang ada di dunia dan masuk dalam rentetan 500 besar diberi nama SMONG (Supercomputer for Multi-hazards Operations and Numerical Modelling).

Dari sisi pengembangan kapasitas, sebanyak 1.033 pejabat dan staf dari BNPB dan BMKG telah mengikuti berbagai pelatihan di bawah dukungan IDRIP, melampaui target awal 800 peserta. Melalui IDRIP, Bank Dunia juga mendukung penguatan program Desa Tangguh Bencana (Destana). Total destana yang diinisiasi BNPB dan diperkuat dengan dukungan IDRIP kini mencapai 1.506 desa. Meski demikian, Kepala BNPB menekankan bahwa pembangunan ketangguhan masyarakat tetap memerlukan upaya kolaboratif lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan program. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 82,49% masyarakat peserta pelatihan merasa siap merespons bila terjadi bencana, melebihi target 80%.

Proyek ini sendiri merupakan tindak lanjut dari pembelajaran pascabencana besar tahun 2018 gempa bumi di Lombok, gempa–tsunami dan likuifaksi di Palu–Donggala, serta tsunami Selat Sunda yang mengungkap tantangan serius pada infrastruktur, peralatan, dan kapasitas SDM di sektor kebencanaan.

Melalui IDRIP, BNPB dan BMKG kini memiliki sistem yang lebih kuat dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya (Multi-Hazard Early Warning System/MHEWS), pengembangan infrastruktur tangguh, hingga pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput.

TONTON KISAH DIBALIK INAMURA NO HI | KUY MENGENAL BENCANA

Sumber:

https://www.gov-online.go.jp/eng/publicity/book/hlj/html/201503/201503_09_en.html

https://www.adrc.asia/publications/inamura/materials/indonesia_adult.pdf

https://docs.un.org/en/A/RES/70/203

https://www.town.hirogawa.wakayama.jp/inamuranohi/#

https://tsunamiday.undrr.org

https://bnpb.go.id/berita/penutupan-idrip-kepala-bnpb-berkontribusi-dalam-meningkatkan-kapasitas-hadapi-bahaya-gempa-dan-tsunami

https://www.bmkg.go.id/berita/utama/menutup-idrip-peringatan-dini-gempa-tsunami-kini-maksimum-3-menit-akurasi-90