Dibalik Nama Daerah Berbasis Kesiapsiagaan

Tak dipungkiri, perkembangan pembangunan di kota-kota besar di Indonesia memang sangat pesat. Hal ini dibuktikan di depan mata, yang mana pembangunan tidak melihat kondisi geografis, banyak area yang semula berupa rawa atau tanah yang berair kemudian ditimbun dan diratakan untuk tempat tinggal. Daerah pesisir pantai pun tidak luput banyak direklamasi. 

Kehadiran para pendatang yang tinggal dan menempati wilayah tanpa mengetahui makna dari nama daerah tersebut sangat disayangkan. Siapa sangka, tak jarang pemberian nama suatu wilayah memiliki arti di dalamnya, bahkan memiliki arti kesiapsiagaan atau pernah terjadi bencana sebelumnya di daerah tersebut. 

Toponimi adalah pengetahuan tantang asal usul nama suatu wilayah. Toponimi ini sangat penting untuk pengetahuan dasar atas tempat masyarakat tinggal, sehingga pengetahuan menjadi bahan kewaspadaan. Pengetahuan toponimi suatu daerah inilah yang menjadi upaya mitigasi bencana alam baik itu banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, atau likuifaksi. 

Salah satunya adalah nama-nama di daerah Palu, Sulawesi Tengah. Banyak penamaan tempat di Palu berasal dari bahasa lokal, salah satunya adalah Bahasa Kaili. Beberapa tempat dalam Bahasa Kaili mengandung arti yang berkaitan dengan kondisi geologi, geografi, ekologi, dan peristiwa alam yang pernah terjadi. 

Baca juga : BENARKAH GOA MAK SANTEN PENGUAK TSUNAMI PURBA

Kira-kira apa saja ya? Scroll down!

  • Baiya : Kering atau tidak berair
  • Balaroa : Nama pohon
  • Balengga Nu Uve : Terjangan awal banjir
  • Bangga : Pernah banjir/basah/berair
  • Banggaiba : Daerah yang penuh air
  • Beka : Tanah terbelah
  • Bela Ngata : Bekas kampung Beka yang pernah terbelah
  • Bengko/Bangko : Bakau
  • Binangga : Sungai
  • Biromaru : Dari kata biro namaru/alang-alang yang membusuk
  • Bolupapu : Kampung yang terbakar
  • Bomba : Muara
  • Bomba Talu : Tiga gelombang besar/tsunami
  • Bone : Pasir
  • Buluri : Di gunung
  • Dampal : Daerah yang rata
  • Donggala : Nama pohon
  • Duyu/Naduyu : Tanah longsor
  • Enu : Tempat yang menjorok ke pantai
  • Gumbasa/Kumbasa : Tempayan/tempat air
  • Jono : Rumput
  • Jono Oge : Rumput yang tinggi/ilalang
  • Kabonena : Banyak pasir
  • Kabobona : Tanah yang rata
  • Kaombona : Pernah runtuh
  • Karavana : Datar dan luar
  • Kawatuna : Banyak batu
  • Labuan Salumbone : Pelabuhan sungai berpasir
  • Layana : Muara/genangan air
  • Lembantongoa : Tengah lembah
  • Lere : Nama rumput merambat
  • Limboro/limburu : Pusaran air
  • Linur/Lingu : Gempabumi
  • Loli/Lolea : Jembatan
  • Lumbu Tarombu : Daratan yang datar
  • Mataue : Mata air
  • Morui : Berbukit
  • Mpanau : Penurunan
  • Nalodo/Halodo : Terbenam/likuifaksi
  • Nalonjo : Terbenam
  • Naombo : Runtuh
  • Natoyo : Tepian pantai yang runtuh
  • Ngata Baru : Kampung baru 
  • Ombo : Tanah yang cekung
  • Puse Ntasi : Pusat laut
  • Rano : Danau
  • Rogo : Pernah hancur
  • Salua : Sungai
  • Salusumpu : Sungai yang sempit
  • Sibalaya : Nama rumput/sejenis semak yang dipakai untuk menyapu halaman
  • Siboang : Daerah yang kosong
  • Tagari Lonjo : Tempat terbenam
  • Talise : Nama pohon/ketapang
  • Tanamae : Tanah merah
  • Tatura : Tanah runtuh
  • Tompe : Hanyut
  • Tondo : Tepi, pinggiran di atas tanah longsor
  • Watalu (watu-watu) : Bebatuan
  • Watusampu : Kumpulan batu, batu asah
  • Winatu : Berbatu