Cara Unik Masyarakat Arfak Menjaga Alam

Nih ya Disasterizen, berkebun ala masyarakat Papua ini unik sekali. Jadi, tiap keluarga memiliki sekitar empat lokasi berkebun, bahkan bisa lebih. Satu lahan digarap 4-6 tahun, kalau misalnya produksinya kurang maka mereka membuka lahan baru. Berkebun atau ladang berpindah adalah mata pencaharian utama dan masa depan kehidupan keluarga mereka.  Meskipun, ada beberapa orang mengatakan kalau melakukan ladang berpindah ini pasti merusak lingkungan.

Sebagai contoh adalah masyarakat Pegunungan Arfak di Manokwari, Papua Barat. Ternyata mereka memiliki alasan tersendiri lho melakukan ladang berpindah ini. Pertama, bila tanah tersebut terus-menerus digarap, akan menjadi tandus yang mengakibatkan longsor dan tidak subur. Kedua, tanah yang dimiliki secara turun menurun harus digarap oleh keturunan langsung dalam satu klen atau marga, sehingga tidak diambil alih oleh orang lain.

Nih ya Disasterizen, kebun dibiarkan (masa beristirahat) selama 3-10 tahun oleh masyarakat. Jika pohon Alnov atau Weimu (Dodonea Viscose Jack) dan Bikiworm (Homolanthus populnius) tingginya sudah mencapai 2-4 meter dan lumut sudah banyak menempel. Itu tandanya lahan ini sudah subur dan siap untuk digarap kembali oleh masyarakat.

Baca juga : RENTETAN SEJARAH GEMPA MENERJANG MENTAWAI

Tanah Adalah Ibu

Kalau masyarakat Suku Asmat menganggap ‘hutan adalah ibu’, maka bagi masyarakat Arfak ‘tanah adalah ibu’. Mereka menganggap tanah sebagai ibu yang memberikan ‘air susu’ atau kehidupan. Istilah mereka ini, ‘kalau mama diolah terus, air susunya akan habis, maka mama akan mati.

Air susu yang dimaksud ini adalah unsur hara yang akan menyuburkan tanaman masyarakat Arfak. Unsur hara pada tanah ini suatu saat akan berkurang jika teus menerus lahan pertanian digunakan, makanya kalau menurut pandangan petani Arfak kebun itu harus diistirahatkan. Secara naluri sih bertani masyarakat Arfak anak berpindah ladang bila hasil kebun sudah nampak berkurang, diambilnya nanti hasil selama 2-3 tahun.

Cara Melestarikan Alam

Masyarakat sana juga ada pembagian wilayah tempat mereka mencari kehidupan sehari-hari Disasterizen. Mereka membaginya menjadi empat kawasan, yang pertama disebut Bahamti. Bahamti adalah hutan asli yang tidak bisa diganggu untuk berladang atau berkebun. Hanya diperbolehkan mengambil kulit kayu, daun untuk atap rumah, dan rotan.

Kedua adalah kawasan Nimahanti, ini adalah bekas kebun yang ditinggalkan selama 10-20 tahun, pohonnya sudah besar mendekati kawasan Bahamti. Nah, untuk kawasan ini boleh mengambil kulit kayu, rotan, daun, berburu, serta boleh membuka kebun, tetapi tidak boleh membuat rumah.

Kemudian yang ketiga adalah kawasan Sustia. Kawasan ini adalah pengelolaan yang bisa digarap sebagai ladang atau kebun. Yang terakhir disebut dengan kawasan Sutumti, ini bekas kebun petatas (ubi jalar). Kawasan ini dekat dengan perkampungan atau halaman rumah. Ia juga memiliki ciri dengan tumbuhan rerumputan dan ditanami sayuran. 

Pembagian wilayah ini disebut dengan Igya Ser Hanjob. Igya artinya kita berdiri, Ser adalah menjaga, dan hanjob adalah batas, maka artinya ‘mari kita sama-sama menjaga hutan untuk kepentingan bersama’. 

Mantap! Kita bisa mencontoh tradisi dari Papua ini dalam menjaga lingkungan kita dan menjaga alamnya. Semoga tradisi ini masih bisa terus berlanjut hingga ke generasi berikutnya ya Disasterizen(MA)

Sumber : Kompas.com