bencana iklim 536

Bencana Iklim Tahun 536, Bencana Melalui Tahun Kegelapan

Di sepanjang tahun 636 Masehi, di belahan seluruh dunia dilanda musim dingin dengan durasi yang cukup panjang. Hal tersebut dijuluki sebagai “tahun kegelapan”. Di tahun tersebut, suhu di bumi turun drastis dan matahari diredupkan oleh kabut besar yang menghalangi sinarnya mengenai bumi selama 24 jam sehari selama 18 bulan. 

Bencana iklim tersebut mempengaruhi Eropa, Timur Tengah, bahkan sebagain Asia hingga dekade berikutnya. Faktanya, penurunan iklim mungkin sangat mengubah jalannya sejarah. Tapi, pernakah Sobat Preparizen berpikir apa yang menyebabkan bencana iklin ini terjadi? 

Di tahun 2018, Science melaporkan bahwa sejarahwan abad pertengahan Michael McComick mengatakan bahwa tahun 536 adalah awal dari salah satu periode terburuk untuk hidup, jika bukan tahun terburuk. 

Dalam karya sejarah Historoae Ecclesiasticae, yang diterjemahkan sebagai “Church Histories”, John dari Ephesus, sejarawan sekaligus pemimpin gereja abad ke-6, menuliskan bahwa “matahari menjadi gelap dan kegelapannya berlangsung selaam 18 bulan”. 

Baca juga : BUMI GUNCANGKAN BANTEN DAN JAKARTA TAHUN 1699

Antara tahun 535 dan 536 Masehi, serangkaian peristiwa iklim besar terjadi dan dapat dengan mudah digambarkan sebagai bencana global. Setiap hari, matahari bersinar selama sekitar empat jam, dan tetap saja cahaya ini hanya bayangan yang lemah. Semua orang menyatakan bahwa matahari tidak akan pernah mendapatkan cahaya penuh. 

Faktanya, berdasarkan Brandon Specktor di Live Science, jatuhnya kekaisaran Romawi merupakan sebagain akibat dari dekade kelaparan dan wabah yang dimulai pada tahun 536 M. John dari Ephesus bukan satu-satunya penulis yang menyebutkan tentang bencana iklim ini, Procopius, yang hidup antara tahun 500 dan 565 M dan merupakan sarjana dan sejarawan Bizantium kuno, juga mencatat perilaku aneh matahari selama tahun 536 M. 

Dikutip dari Ancient Origins, referensi lain untuk bencana iklim tahun 536 berasal dari penulis abad ke-6 Zacharias dari Mytilene, yang menulis sebuha kronik yang berisi bagian yang mengacu pada “Matahari Gelap” antara tahun 535 dan 536 M. 

Contoh-contoh di atas ini hanyalah contoh representatif dari banyak catatan dari seluruh dunia, yang ditulis pada era yang bersangkutan. Dalam semua kasus, matahari digambarkan semakin redup dan kehilangan cahayanya. Banyak juga yang menggambarkannya memiliki warna kebiruan. 

Di Tiongkok dan Jepang, peristiwa ini juga direkam dengan sangat detail. Dengan langkanya air, terjadi kekeringan besar dan banyak kematian terjadi akibatnya. Ratusan ribu mil persegi sawah menjadi tidak subur. Kronik Beishi, sejarah resmi Dinasti Utara, menyebutkan bahwa di provinsi Xi’an 80% dari populasi meninggal dan yang selamat memakan mayat untuk bertahan hidup. Tahun kejadian itu adalah 536 Masehi.

Peristiwa bencana juga melanda Korea, Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia. Meski catatan tertulis untuk persitiwa itu tidak ditemukan di semua negara, data arkeologi dan geologi mengungkapkan bukti perubahan iklim. Studi yang dilakukan pada batang pohon, misalnya, menunjukkan bahwa tahun 536 Masehi adalah tahun yang terdingin dalam 1.500 tahun.

Pertanyaan penting dalam semua ini adalah mengapa hal itu terjadi? Meskipun tidak ada jawaban pasti untuk bencana iklim tahun 536, satu teori kuat yang dikemukakan adalah letusan gunung berapi raksasa, karena debu yang terlempar ke atmosfer bisa menyebabkan peredupan cahaya.

Salah satu gunung kandidatnya adalah Krakatau, yang terletak di antara pulau Jawa dan Sumatra di Indonesia. Memang, Pustaka Raja Purwa (artinya “Kitab Raja-Raja Purba”) yang ditulis pada tahun 1869, menggambarkan adanya letusan sebuah gunung berapi purba.

Meskipun manuskrip ini mengacu pada tahun 416 Masehi dan bukan 535 Masehi, fakta bahwa manuskrip ini ditulis pada abad ke-19 dapat menjelaskan ketidakakuratan referensi waktu.

Tapi, mengapa letusan gunung berapi mempengaruhi suhu global? Ketika gunung berapi meletus, ia memuntahkan belerang, bismut, dan zat lain tinggi ke atmosfer. Di sana zat-zat tersebut “membentuk selubung aerosol yang memantulkan cahaya matahari kembali ke luar angkasa sehingga mendinginkan planet ini,” jelas Ann Gibbons di Science(MA)

Sumber : National Geographic Indonesia