Belajar Dari Masyarakat Auki Dalam Pengurangan Risiko Bencana

17 Februari 1996 adalah hari yang kelam untuk masyarakat Indonesia, terlebih untuk Biak dan sekitarnya. Karena pada saat itu, Biak dan pulau-pulau sekitarnya terjadi gempa dengan kekuatan M 8,2. Gempa yang terjadi di dasar laut tersebut, disusul tsunami 15 menit kemudian. Gelombang dahsyat ini tercatat berketinggian 7 meter yang terjadi di Pulau Yapen.

Nah jika ditarik garis lurus arah timur laut, Pulau Auki ini berada kurang 100 km dari pusat gempa. Beruntungnya kampung-kampung seperti Auki, Sandidori dan Kanai yang ada di pulau ini, berada di wilayah sebaliknya, yaitu berlawanan dari pusat tsunami berasal.

Akibat gempa dan tsunami tersebut, menyebabkan abrasi, garis pantai berubah, bahkan muncul pulau baru. Pulau-pulau karang ini seperti jamur yang berada di depan perairan Auki. Uniknya, masyarakat Auki tersebut membuat rumah baru di atas tanah berkarang yang tingginya sekitar 5 meter dari permukaan laut dan rumahnya agak jauh dari garis pantai.

Selain itu, untuk melindungi alamnya, masyarakat Auki ini membuat kesepakatan bersama dalam mengelola sumber daya alam. Mereka membuat peraturan Adat Meos (pulau) Auki Nomor 1/2006 tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam Darat, Pesisir dan Laut, yang diikat dalam sebuah peraturan antar kampung yang disahkan bersama oleh tiga kampung yang ada di Pulau Auki.

Baca juga : RUMAH BUJANGAN TAHAN GEMPA ALA SUKU ASMAT

Bukan cuma itu saja, masyarakat Auki dibantu oleh lembaga yang bernama ILMMA (Indonesia Locally Managed Marine Area) menentukan daerah dalam pengambilan ikan yang boleh diambil terbatas dan tidak. Di mata masyarakat kekayaan alam adalah hak milik semua orang, makanya pengambilannya harus diatur untuk tetap menjaga alam.

Kalau secara tradisional sih dalam pengaturan alam sudah ada, yaitu lewat sasien yang dipraktekkan antar generasi. Di Auki sendiri, untuk menjaga alamnya mereka yang berjenis kelamin perempuan membuat data setahun dua kali dari hasil tangakapannya. Sedangkan yang laki-laki mencari ikannya.

Baca juga : CARA UNIK DESA HENDA DALAM MENGELOLA HUTAN

Dengan cara ini mereka tahu, ragam biota laut yang ada di perairan Auki, sekaligus peringatan jika dijumpai kecenderungan penurunan biota tangkapan dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian mereka akan melakukan penilaian dan mencari cara untuk memperbaikinya kembali. Kan.. kan.. banyak ya ternyata negara kita ini mempunyai caranya sendiri dalam mengaja alam pada setiap daerah masing-masing. Coba ayo Disasterizen sebutkan keunikan dari daerah kamu dalam menjaga alamnya di kolom komentar ya! (MA)

Sumber : Mongabay.co.id