bahaya asbes

Bahaya Asbes Mengintai Manusia

Penggunaan asbes di Indonesia sudah tidak asing lagi digunakan. Namun, siapa sangka kalau ternyata barang yang sering digunakan tersebut sangat berbahaya bagi manusia, baik dari segi kesehatan hingga kebencanaan. 

Rabu (08/02/23), kegiatan Ngopi PB yang dilakukan secara daring memiliki tema “Penanganan Asbestas Pasca Bencana”. Webinar yang diadakan setiap hari Rabu malam tersebut turut mengundang Darisman (Indonesia Ban Asbestos Network (Inaban)) sebagai narasumber, Hadrianus Edi Handoko (ADRA) dan Nasrus Syukroni (YPII) sebagai penanggap. 

Screenshoot kegiatan webinar Ngopi PB pada Rabu (08/02/23).

Baca juga : PENTINGNYA MENGIKUTSERTAKAN KAUM MARJINAL DI MASA DARURAT

Darisman mengatakan ada beberapa jenis asbes, seperti asbes putih, asbes coklat, asbes biru, anthphyliteactinolite, dan tremolite. Namun, berdasarkan sejumlah lembaga kesehatan menyebutkan bahwa semua jenis asbes tersebut berbahaya. Bahkan, kurang lebih 60 negara di dunia punya kebijakan untuk melarang penggunaan asbes. Sayangnya, di Indonesia sendiri 90% asbes masih banyak digunakan, salah satunya sebagai atap rumah. 

Lebih lanjut, Darisman menjelaskan asbes dapat menyebabkan penyakit yang mematikan, yakni asbestosis, kanker paru, kanker luring, kanker ovarium, dan lain sebagainya. Ada berbagai faktor manusia terkena penyakit tersebut dari asbes, misalnya saja karena konsentrasi paparan, berapa lama jangka waktu pemaparan, atau bahkan dari ukuran, bentuk, dan bahan kimia dari serat asbes. Bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan, di wilayah bencana pun asbes juga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. 

Ada beberapa temuan di wilayah bencana perihal penggunaan asbes. Beberapa diantaranya yaitu adanya pembongkaran dan pembersihan material yang mengandung asbes tidak aman, penggunaan kembali limbah asbes dalam bangunan, dan penggunaan asbes baru dalam proses rehab-rekonstruksi. Selain itu, penggunaan atap yang tinggi di lokasi yang memiliki potensi bencana memperbesar potensi bahaya asbes. 

Lebih lanjut, Darisman menjabarkan beberapa cara mengurangi riesiko dampak asbes dalam kebencanaan, seperti hindari pecahan asbes, jangan ganggu, jangan rusak, jangan dipatahkan, dan jangan potong. Pastikan asbes lembab, hubungi orang terlatih untuk memindahkan asbes, jika terpaksa memindahkan asbes, gunakan APD yang tepay dan sesuai, jangan gunakan kembali asbes, dan timbun asbes di tempat yang aman, tutup dengan menguburnya. 

“Pecahan asbes itu berbahaya. Sebisa mungkin jauhi dan hindari. Tidak menggunakan dan membelinya kembali, tidak memecahkan atau membuat asbes rusak, dan melakukan upaya pengurangan risiko seperti basahi, isolasi, dan orang yang melakukan harus pakai APD lengkap. Jadi, setiap orang yang bersentuhan langsung dengan asbes harus paham bahayanya dan bagaimana menanganinya,” kata Darisman. 

Di Ignite Stage, Danus Raharjanto dari PREDIKT memaparkan “Belajar Bencana Kekinian bersama Ruang Literasi Kebencanaan”. Ia mengatakan, belajar harus digabungkan dengan bermain, maka belajar akan semakin pintar. 

Screenshoot kegiatan webinar Ngopi PB pada Rabu (08/02/23).

Indonesia sendiri memiliki beberapa ruang literasi kebencanaan untuk mengajarkan masyarakat tentang kesiapsiagaan sambil bermain, misalnya saja Ruang Media Komunikasi Informasi Edukasi BPBD DKI Jakarta, Rumah Ibadah Tangguh Bencana, dan lain sebagainya. 

Pembahasan kali ini tidak jauh kalah menarik dengan minggu lalu bukan, Sobat Preparizen? Ikuti kegiatan Ngopi PB yang dilaksanakan setiap Rabu malam jam 19.00 – 20.30 WIB dengan mendaftar melalui https:bit.ly/NgopiPB2.0

Atau kamu yang ingin menonton kembali sesi Ngopi PB sebelumnya, kunjungi di Facebook Pujiono Center https:bit.ly/YoutubePREDIKT 

(MA)