Do and Don’t Hidup Baru dengan COVID-19

Do and Don’t Hidup Baru dengan COVID-19

SIAGABENCANA.COM – Rabu (30/6/21), Ngopi PB ke-15 kali ini mengangkat tema ”Hidup Baru dengan Virus Corona” dengan narasumber dr. Corona Rintawan, Sp. EM dari MDMC PP Muhammadiyah dan ignite stage bersama Aria Kusuma Aji dari U-Inspire.

Dalam kesempatan webinar tersebut, dr. Corona mengatakan bahwa situasi pandemi COVID-19 saat ini per 28 Juni 2021 di Indonesia terdapat kasus baru yang terinfeksi COVID-19 ada 20.694 orang dan setiap minggunya rata-rata ada 18.793 kasus. Per tanggal 28 Juni 2021 adalah puncak tertinggi COVID-19.

dr. Corona pun menambahkan, bahwa kita tidak hanya melihat kasus per harinya saja, namun meihat angka kematian akibat COVID-19. Sebab, jika banyak yang sakit dan banyak yang meninggal itu akan menjadi sebuah masalah. Per tanggal 28 Juni 2021 juga merupakan angka tertinggi untuk kasus kematian, yaitu 423 kasus.

Baca juga : SISTEM RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Corona melanjutkan kalau sebenarnya ada lima kali pandemik yang telah menyerang keamanan kesehatan global dalam dua dekade, yakni :

  • Tahun 2003 : Novel CoV (disebut SARS-CoV) dan ada 29 negara yang terinfeksi.
  • Tahun 2009 : Virus influenza A (H1N1) sebagai strain baru yang berasal dari babi.
  • Tahun 2012 : MERS-CoV yang pertama kali ditemukan di Saudi Arabia dan 26 negara terinfeksi.
  • Tahun 2013 : Virus novel avian influenza A (H7N9)/virus baru flu burung pertama dari Cina.
  • 7 Januari 2020 : 2019 novel coronavirus (COVID-19), World Health Organization (WHO) per 12 Februari 2020 secara resmi menamakan sebagai COVID-19.

Dalam konteks penanganan COVID-19 bisa menggunakan sebuah teori yang dinamakan ‘Keju Swiss (The Swiss Cheese)’. Teori Keju Swiss ini memiliki lapisan yang harus dipatuhi dan memiliki tanggung jawab individu dan bersama. Selain itu, pada setiap lapisan ‘keju swiss’ ini ada kelemahan pada masing-masing banyaknya lapisan yang akan meningkatkan keberhasilan.

 

Level Paparan Menjaga Diri dan Orang Lain Tetap Aman

 

 

Bagaimana dengan Penggunaan Masker yang Baik?

Saat memilih masker, sebaiknya kamu melihat seberapa nyaman dan filter udara maskermu. Selain itu, lihat juga berapa lapisan yang dimiliki pada setiap masker. Berikut langkah yang harus dilakukan dan tidak dilakukan!

Do!

  • Pilih masker yang memiliki kawat masker untuk hidung dan mask filter.
  • Cek kembali maskermu apakah pas di hidung, mulit, dan dagumu.
  • Ikat tali masker medismu agar tidak ada rongga.
  • Lebih baik gunakan 2 masker (masker medis dan dilapisi masker kain).

Don’t!

  • Gunakan dua masker medis.
  • Gunakan masker KN95 dan dilapisi dengan masker lainnya.

Kemudian di ignite stage, Aria membahas seputar sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT). SPGDT adalah sistem kordinasi berbagai multi sektor dan lintas profesi untuk terselenggarakannya pelayanan terpadu penderita gawat darurat. Di SPGDT memiliki prinsip tersendiri, yaitu ‘time saving is life and limb saving’ yakni waktu adalah hal terpenting dalam menurunkan kematian.

Aria menambahkan, untuk layanan kedaruratan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur sendiri memiliki sebuah aplikasi tersendiri yang mana nantinya membantu masyarakat seputar COVID-19, bernama Emergency Button Ngawi. Aplikasi ini terdapat di OS Android. Nantinya masyarakat bisa memencet tombol merah (emergency) untuk meminta petugas kedaruratan datang, kemudian petugas akan menelpon untuk menanyakan kepastian dan menghindari ‘prank’.

Menarik bukan pembahasannya, Sobat Disasterizen? Penasaran tidak Ngopi PB bakal bahas apa lagi Minggu depan? Yuk, ikutan setiap Rabu dan ikuti perkembangannya di Instagram @Yuksiagabencana @MPBI.Indonesia @pujionocentre @caribencana.id @predikt.id. (MA)

 

 

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar