9 Inovasi Pengurangan Risiko Bencana dari Yogyakarta untuk Indonesia

Wilayah Indonesia yang dikelilingi dan berada di cincin Asia Pasifik tidak luput dari ancaman bencana. Hal ini terbukti pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki indeks risiko bencana sedang pada tahun 2020, yang mana tiga dari lima kabupaten/kota di DIY berisiko tinggi bencana. 

Ancaman bencana di DIY meliputi gempabumi, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, dan tsunami. Maka dari itu, bagi masyarakat perlu upaya pengurangan risiko bencana pada setiap individu.

Melalui dukungan kemitraan Elrha, Start Network, dan Asia Disaster Reduction and Response Network (ADRRN), yang didanai oleh UK Foreign, Commonwealth, and Development Office (FCDO), YAKKUM Emergency Unit (YEU) melaksanakan “Community-Led Innovation Partnership (CLIP) atau Kemitraan untuk Inovasi Berbasis Komunitas sejak April 2020 hingga Maret 2023.

Proyek ini berkomitmen untuk mendukung inovator di tingkat komunitas untuk menghasilkan, menguji, dan mengembangkan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dalam proses tanggap kedaruratan dan kesiapsiagaan bencana, baik di tingkat lokal maupun nasional. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, YEU menyelenggarakan kegiatan IDEAKSI (Ide Inovasi Aksi Inklusi) dengan membuka kesempatan bagi para inovator berbasis di Yogyakarta agar mengajukan proposal pengembangan inovasi risiko bencana inklusif, untuk diseleksi kemudian mengikuti masa inkubasi inovasi bersama sejak September 2021 hingga April 2022. Inovasi yang dikembangkan melalui IDEAKSI memperkaya daftar inovasi PRB inklusif yang pernah dikembangkan di Indonesia. 

Dalam penyelenggaraan kegiatan IDEAKSI, YEU bermitra dengan berbagai elemen masyarakat wujud pentahelix dalam pengembangan inovasi pengurangan risiko bencana yang inklusif. Untuk penguatan kapasitas, kolaborator yang berperan sebagai technical reviewer dan local innovation advisor (LIA) terdiri dari personil dengan kombinasi latar belakang kepakaran organisasi nonpemerintahan, akademisi,dan pemerintahan, dari tingkat lokal  hingga internasional, representasi tiga dari lima elemen pentahelix.

YEU pun bermitra dengan media Solider.id selama proses pengembangan inovasi, yang beberapa artikelnya dapat diakses di sini, serta Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Daerah Istimewa Yogyakarta yang memberikan masukan terkait potensi keberlanjutan inovasi yang sedang dikembangkan para inovator lokal.

Apa sajakah inovasi tersebut?

Inovasi-Inovasi sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana

CIQAL

CIQAL (Center for Improving Qualified Activities in Life of People with Disabilities) mengembangkani novasi peningkatan Partisipasi Disabilitas pada Program Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Desa Kepuharjo, Kabupaten Sleman. Inovasi tersebut telah diwujudkan dalam bentuk…

  • Data disabilitas yang ada di Desa Kepuharjoyang divisualisasikan dalam sebuah Sistem Informasi Manajemen (SIM),
  • Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi dan penyelamatan, tempat pengungsian yang aksesibel, serta kebijakan dan anggaran yang memberikan perlindungan pada penyandang disabilitas,
  • Pembentukan Kelompok Disabilitas Desa (KOMDIK),
  • Penguatan pemerintah desa, Tim Destana, dan penyandang disabilitas untuk memperoleh pengetahuan tentang kebencanaan. Sistem Informasi Manajemen yang dibangun oleh CIQAL dapat diakses di simdis.desakepuharjo.id.

APLIKASI DIFAGANA 

Tim DIFAGANA mengembangkan aplikasi Android bernama DIFGAN-DES (DIFAGANA Disaster Emergency Support), yang secara umum menghubungkan kebutuhan lansia dan penyandang disabilitas dalam urusan kebencanaan kepada pihak yang berkepentingan. 

Oleh karenanya, didesain agar mudah diakses dan dipahami teman Tuli, Netra, serta lansia. Konten yang disajikan DIFGAN-DES adalah…

  • EWS (Early Warning System) setempat,
  • Edukasi dan informasi mengenai kebencanaan
  • Pemutakhiran informasi mengenai kondisi cuaca terkini serta kejadian letusan gunung api dan gempa. Aplikasi ini telah diuji cobakan bersama teman tuli, netra, lansia, dan saat ini dapat diunduh di Playstore.

FKWA

FKWA (Forum Komunikasi Winongo Asri) mengembangkan budi daya maggot sebagai upaya untuk mengurangi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir Piyungan. Upaya ini merupakan pengembangan program pengelolaan sampah yang sudah adadi Kelurahan Kricak, yang sebelumnya telah memiliki sistem Bank Sampah khusus sampah anorganik. 

FKWA mengambil peran dalam pengelolaan sampah organik sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat setempat. Inovasi yang dikembangkan berupa budi daya maggot BSF (Black Soldier Fly), yang berperan dalam mengurai sampah organik, dengan cakupan dua RW di Kelurahan Kricak.

FPRB-GK (Web Musyawarah Digital Inklusif PRB bagi Disabilitas)

Web Musyawarah Digital Inklusif Pengurangan Risiko Bencana bagi Disabilitas yang berfungsi sebagai platform survey aksesibilitas, edukasi PRB, dan market place produk ekonomi kreatif. Konsep ini berangkat dari isu terbatasnya kanal penyaluran aspirasi kelompok penyandang disabilitas untuk pengambilan kebijakan pembangunan di Kabupaten Gunung Kidul.

Sebagian besar penyandang disabilitas di sana telah menggunakan smartphone, namun untuk mobilitas dan akses pengembangan perekonomian masih bergantung pada orang lain. Data aspirasi terkait aksesibilitas kemudian akan dikelola oleh FPRB dan disajikan dalam Musrenbang.

  1. LINGKAR

Tim Lingkar mengembangkan sistem peringatan dini yang ramah untuk tuli dengan memanfaatkan teknologi berupa aplikasi android di Kalurahan Girikerto, Kabupaten Sleman. Aplikasi ini akan dihubungkan dengan sistem peringatan dini (EWS/EarlyWarning System) yang sudah ada sehingga informasi yang diberikan akan selaras.

Ketika ada perubahan status Merapi, aplikasi tersebut akan memberi notifikasi nada getar. Aplikasi yang dikembangkan juga memuat informasi mengenai rencana jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, nomor kontak tim siaga desa, dan Standard Operational Procedure (SOP) evakuasi. 

Pengembangan sistem ini dilengkapi dengan peningkatan kapasitas terkait kebencanaan dan konsep inklusi, melibatkan penyandang disabilitas, perangkat kalurahan, dan tim siaga kalurahan.

Kalurahan setempat pun sangat terbuka dengan adanya penguatan kapasitas mengenai isu disabilitas serta membuka peluang integrasi program dengan isu disabilitas melalui mekanisme perencanaan pembangunan di Kalurahan, yaitu Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal).

  • Merapi Rescue Community (MRC)

Berdasarkan pengalaman warga, ketika terjadi erupsi Merapi, kondisi akan menjadi lebih gelap dan ada kemungkinan listrik padam, sehingga menimbulkan kepanikan. Jalur evakuasi yang berupa papan penunjuk yang ada di sekitar Gunung Merapi biasanya hanya dapat diikuti saat kondisi terang. 

Oleh karenanya, Tim MRC mengembangkan sarana pemandu arah yang dapat beroperasi dalam kondisi gelap dan mengeluarkan sinyal bunyi, yang dilengkapi dengan catu daya mandiri, yaitu tenaga surya dan baterai yang cukup tahan lama. Sistem yang mendukung sinyal secara visual maupun audio ini harapannya dapat memudahkan individu untuk menemukan jalur evakuasi menuju titik kumpul secara mandiri dengan cepat. 

  • Ngudi Mulya

Menjawab isu terbatasnya air dan tantangan aksesibilitas bagi petani lanjut usia dalam kegiatan pengairan lahan pada musim kemarau, Kelompok Tani Ngudi Mulya mengadopsi teknologi irigasi kabut dari contoh sukses kasus di Bantul untuk mengaliri lahan pertanian di Padukuhan Ngoro-oro, Kalurahan Giriasih, Kepanewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul.

Anggota Kelompok Tani Ngudi Mulya yang terlibat yaitu sebanyak 23 orang. Biasanya, para petani tersebut membeli dan mengangkut air untuk keperluan pengairan, padahal sebagian besar petani berusia lanjut. Sebagai prototype, irigasi kabut dirancang untuk mengaliri sepuluh petaklahan. Water meter kemudian dipasang di setiap petak lahan pemakaian dan total iuran dapat terukur sesuai pemakaian. Saat ini, irigasi kabut dimanfaatkan untuk penanaman padi, jagung, cabai, umbi jalar, dan bawang merah.

  • PB Palma GKJ Ambarrukma

Sungai Gajah Wong adalah salah satu sungai di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bantarannya dipenuhi permukiman, sehingga berisiko banjir. PB Palma (Unit Penanggulangan Bencana dan Pelayanan Masyarakat) GKJAmbarrukma membangun sistem peringatan dini (Early Warning System / EWS) banjir serta kesiapsiagaan komunitas sungai dan masyarakat sekitar untuk melakukan evakuasi seluruh warga yang berisiko terdampak banjir, termasuk kelompok rentan.

Sasaran lokasi adalah masyarakat di enam RT Padukuhan Papringan dan tiga RT Padukuhan Ambarrukma, Kalurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. 

Salah satu fungsi peralatan EWS yang dimaksud adalah untuk mendeteksi ketinggian muka air sungai. Dalam kondisi ketinggian tertentu, alat EWS utama akan memberikan peringatan pertama dengan menghidupkan lampu rotary sebagai peringatan awal. Jika ketinggian air sudah mendekati banjir, maka sistem akan memberikan peringatan dengan menghidupkan sirine dilokasi EWS dan mengirimkan sinyal ke receiver yang dipasang pada jarak 300-500 meter dari lokasi EWS Utama.

Receiver kemudian juga akan membunyikan sirine sebagai peringatan. Sumber listrik peralatan tersebut berasal dari tenaga matahari di siang hari dan PLN di malam hari. Jika ke dua sumber listrik tersebut tidak berfungsi, aki/inverter akan menjadi alternatif pemasok energi selama 20 jam. Penentuan suku cadang untuk alat EWS yang dibangun disesuaikan dengan kemudahan teknis penggantiannya dan ketersediaan di pasar.

  • SEKOCI

Tim SEKOCI berinovasi dengan membangun sistem keluarga angkat bagi keluarga dengan penyandang disabilitas untuk mengatasi persoalan tempat mengungsi bila ada bencana. 

Pengembangan inovasi terdiri dari kegiatan pengembangan kapasitas, simulasi penerimaan peserta disabilitas di keluarga angkat, pengukuhan paguyuban keluarga angkat, MoU dengan Pemkab Sleman, dan penyusunan buku panduan bagi seluruh peserta.

Peserta yang dimaksud adalah penyandang disabilitas yang bersekolah di SLB Bakti Pertiwi Prambanan (TKs.d.SMA, 68 siswa) dan keluarganya, serta keluarga angkat yang telah ditentukan kriteria utamanya, yaitu mapan, dapat berkomitmen, dari jejaring yang dipercaya. SLB ini berlokasi di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. (MA)