6 Rekomendasi Bangunan GIat Mitigasi

Jakarta – Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melalui Unit Pengelola (UP) Museum Kebaharian Jakarta menggelar pameran kontemporer bertema ‘Manusia dan Bencana : Mitologi, Mitigasi, dan Masa Depan’ di Museum Bahari, Jakarta Utara. Pameran yang digelar di Lantai 1, Gedung A Museum Bahari ini berlangsung selama dua bulan, tepatnya mulai pada 26 Agustus – 26 Oktober 2022. 

Pameran ini menghadirkan berbagai tema dengan kisah tentang bencana maritim, ceirta yang hingga kini masih tersimpan dalam memori masyarakat Indonesia, serta mitigasi bencana dari leluhur di nusantara pada masanya melalui naskah. 

Baca juga : PERAN DAN FUNGSI MUSEUM UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA

Selain pameran, terdapat pula beberapa agenda lainnya yang termasuk ke dalam pameran, seperti diskusi terbuka dengan beberapa narasumber terkemuka dibidangnya dan simulasi tanggap bencana oleh BPBD DKI Jakarta, serta Workshop Kreasi Membuat Hiasa Biota Laut. 

Dokumentasi : Museum Bahari Jakarta

Minggu (28/08/22), dalam salah satu diskusi terbuka bersama dengan narasumber Yuniarti Wahyunigtyas yang bertema ‘Disaster Risk Reduction : Emergency Response and Suistanable Development’, ia menjelaskan bagaimana hubungan museum dengan kebencanaan mempunyai irisan dan ternyata penting, apalagi dalam ranah pengurangan risiko bencana. 

Ia turut merekomendasikan untuk bangunan giat mitigasi yang bisa dilakukan oleh museum-museum di Indonesia, khususnya Museum Bahari Jakarta. 

  • Pengorganisasian Ketangguhan Bencana

Mengembangkan rencana kotijensi, SOP kedaruratan museum, dan pengembangan beberapa program adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana.

  • Pemanfaatan Skenario Risiko

Bekerjsama dengan BPBD usaha lokal dan masyarakat sekitarnya dalam mensikronisasikan peta risiko bencana dengan rencana kotijensi dan pengurangan risiko bencana.

  • Kesiapan Finansial

Risk Insurance dan peningkatan dana museum melalui giat fundraising dan kerjasama untuk memberikan perlindungan terhadap koleksi museum melalui restorasi dan penambahan sarana keselamatan museum, seperti APAR, fire alarm, perkuatan struktur untuk gempa, dan sistem peringatan dini banjir dan tsunami.  

  • Peningkatan Pembangunan dan Desain Perkotaan

Berkontribusi dengan memaksimalkan pemanfaatan ruang yang ada untuk koleksi dan penggunaan solar panel guna hemat energi, juga pengembangan virtual museum dan video promosi. 

  • Meningkatkan Perlindungan Ekosistem Alam 

Memperbanyak tanaman dan membuat kawasan museum lebih teduh dan rindang.  

  • Memperkuat Kapasitas Ketangguhan Secara Instusional

Memberikan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi pengelolaan museum. 

Enam rekomendasi ini, diharapkan dapat diterapkan kepada semua museum di Indonesia. Hal ini agar pengunjung atau masyarakat bisa mengambil pelajaran dan informasi untuk mitigasi bencana. Agar kedepannya jauh lebih siap dan siaga dalam menghadapi ancaman bencana. (MA)