Mengetahui Udara Jakarta yang Sesungguhnya

Mengetahui Udara Jakarta yang Sesungguhnya

Jakarta, (28/6/19), Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif dari KPBB mengungkapkan akhir-akhir ini Jakarta menjadi bahan perbincangan terkait dengan kondisi pencemaran udaranya yang menjadi nomer satu di dunia. Pencemaran udara di Jakarta telah menjadi bahaya yang terpendam, karena tidak pernah surut setidaknya hampir 3 (tiga) dekade ini. Bahkan, di tahun 1994/1995 ini, Jakarta pernah dinobatkan sebagai kota dengan pencemaran udara tertinggi ke-3 di dunia setelah Mexico City dan Bangkok!

Apalagi di hari lebaran Idul Fitri 1440 H yang lalu, langit Jakarta kelabu dengan kualitas udara yang “sangat tidak sehat”. Serta, seminggu belakangan ini warna langit Jakarta kelabu relatif permanen, yang artinya kualitas udara sangat tidak sehat. Ini bisa menjadi malapetaka bagi warga Jakarta dan siapapun yang sedang di Jakarta.

Seperti yang kita ketahui, pihak Pemerintah membantah bahwa kualitas udara Jakarta masih dalam kategori “Sedang”. Lantas, siapa yang benar?

Hasil dari pantauan kualitas udara kota Jakarta oleh DLH DKI Jakarta, itu berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara sama dengan hasil pengukuran oleh Kedutaan Amerika Serikat. Namun, masyarakat sipil ini menggunakan US AQI (US Air Quality Index). Sedangkan, Pemerintah memakai standar nasional yang sudah out of date karena belum pernah direvisi sejak tahun 1999, yaitu PP 41 tahun 1999. Maka dari itu, Pemerintah harusnya merevisi standar atau Baku Mutu Udara Ambient yang setidaknya setara dengan standar yang di tetapkan oleh WHO.  

Sebenarnya, udara di Jakarta hingga hari ini terjadi penurunan yang relatif dikit dan masih dengan kategori "Tidak Sehat". Namun, karena di tahun 2019 ini masih panjang waktunya. Kita tidak bisa mengetahuinya, bisa lebih parah dari tahun lalu atau sebaliknya.

Nah, mau tahu fakta pencemaran udara Jakarta berdasarkan KPBB? Yuk simak!

  • Berdasarkan hasil pantauan kualitas udara oleh Pemda DKI Jakarta (2012-2017) dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (2016-2017), maka pencemaran udara di DKI Jakarta dalam 5 tahun terakhir menunjukkan rata—rata tahunan yang relatif.
  • AQI (Air Quality Index) PM2.5 pada 2018 menunjukkan kualitas udara dalam kategori baik hanya 36 hari selama kurun waktu 1 Januari-31 Desember 2018.
  • Sumber pencemaran udara terbesar dari kendaraan bermotor 47%, industri 22%, Road Dust (debu jalanan) 11%, domestik 11%, pembakaran sampah 5%, dan proses konstruksi 4%.
  • Belum ada usaha serius dalam mengendalikan pencemaran udara Jakarta. Harus segera melakukan pengendalian pencemaran udara agar tidak berlanjut malapetaka pencemaran udara Jakarta ini.

Yuk, mulai sekarang jaga alam kita, dengan mengurangi pembakaran sampah atau hal lainnya untuk mengurangi pencemaran udara! Jangan sampai udara di Ibu Kota Indonesia ini menjadi tercemar udaranya. Alam jaga kita, kita jaga alam, dong! (MA)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar