Kenalan dengan Skala MMI, Yuk

Kenalan dengan Skala MMI, Yuk

Sobat Disasterizen, kalau kamu sering baca berita atau tulisan tentang gempabumi, pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan istilah ‘skala’. Ya, dalam gempabumi, ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan efek yang ditimbulkan dari sebuah bencana gempabumi. Yang paling terkenal adalah skala Richter, lalu ada skala Mercalli.

Bedanya adalah, skala Richter digunakan untuk mengukur kekuatan suatu gempa. Skala Mercalli digunakan untuk mengukur efek kerusakan yang disebabkan oleh sebuah gempa. Jadi, jika gempa yang terjadi tidak menghasilkan kerusakan (seperti gempa di tengah-tengah samudera, misalnya), maka skala ini tidak terpakai.

Sudah penasaran?

Sedikit sejarah

 

Osservatorio ximeniano, giuseppe mercalli sul vesuvio. Sumber: Wikimedia.

Skala Mercalli ditemukan oleh seorang ahli dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada 1902. Skala ini terbagi menjadi 12 pecahan yang didasari oleh informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa, melihat, dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempabumi tersebut. Dan pada 1931, seismolog Frank Neumann dan Harry Wood memodifikasi skala ini, sehingga menjadi skala Mercalli yang kita pakai hari ini, yaitu MMI (Modified Mercalli Intensity) scale.

Tingkatan-tingkatan skala MMI.

Skala I: Tidak dirasakan.

Skala MMI dimulai dari I, yaitu tidak terasa. Gempa dengan skala I MMI tidak bisa dirasakan, kecuali oleh beberapa orang dalam keadaan sunyi.

Skala II: Lemah.

Sangat sedikit orang yang bisa merasakan getarannya. Beberapa benda ringan yang digantung bergoyang, namun tidak ada dampak yang terlalu signifikan.

Skala III: Lemah.

Cukup banyak masyarakat yang tinggal merasakan gempa, namun tidak sedikit pula yang tidak merasakan.

Skala IV: Ringan.

Getaran gempa dengan skala MMI IV bisa terasa dari dalam rumah. Benda-benda yang bergelantungan mulai jatuh, dan jendela serta kaca jatuh pecah.

Skala V: Sedang.

Terasa oleh hampir setiap orang. Orang-orang yang tidur jadi terbangun. Pohon berayun, tiang bergoyang, dan barang-barang terpelanting.

Skala VI: Kuat.

Getaran dirasakan oleh seluruh penduduk. Plester dinding dan cerobong-cerobong asap rusak. Perabotan bergerak-gerak, dan kerusakan ringan terjadi.

Skala VII: Sangat Kuat

Getaran dapat dirasakan oleh sopir-sopir kendaraan berat. Semua orang yang sedang berjalan atau berlari susah untuk tetap tegak dengan baik. Semua orang berlari keluar. Bangunan-bangunan berstruktur lemah rusak dan kerusakan terjadi di mana-mana.

Skala VIII: Parah

Bangunan-bangunan berstruktur terencana rusak. Retakan-retakan terjadi di banyak sisi bangunan. Bahkan, dinding sebuah rumah bisa rubuh. Air menjadi keruh.

Skala IX: Hebat

Masyarakat menjadi panik. Seluruh gedung mengalami kerusakan cukup parah dan banyak yang bergeser dari pondasinya. Tanah mengalami keretakan dan pipa-pipa putus. Contoh gempa dengan skala MMI IX adalah gempa Aceh pada 2004 silam.

Skala X: Ekstrim

Bangunan dari kayu yang kuat rusak. Rangka rumah terlepas dari pondamennya. Tanah terbelah. Rel-rel kereta api melengkung. Bahkan saking parahnya, tanah longsor bisa terjadi di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam. Gempa Pompeii tahun 62 diperkirakan berada dalam kekuatan X skala MMI. 

Skala XI: Ekstrim

Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri.

Skala XII: Ekstrim

Kerusakan total terjadi. Gelombang-gelombang terlihat dengan jelas di permukaan tanah. Objek-objek berhamburan ke udara. Sejauh ini, baru ada satu gempabumi yang berkekuatan XII, yaitu gempabumi Valdivia, Chili tahun 1960 yang menelan kurang lebih 7.000 korban jiwa. (RG)

Sumber: BMKG
Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami, Subandono Diposaptono.

 

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar