Mengulik Nama Daerah Dalam Upaya Pencegahan Bencana Alam

Mengulik Nama Daerah Dalam Upaya Pencegahan Bencana Alam

Sumber: Liputan6.com

Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala (Pasigala) merupakan daerah rawan bencana, terutama bencana gempa. Sebab, ketiga tempat ini merupakan daerah yang dilewati oleh Sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro sendiri merupakan sesar yang paling aktif di Sulawesi Tengah dibandingkan dengan sesar lainnya, seperti Sesar Matano dan Sesar Tambarana.

Seperti yang kita ketahui nih pada peristiwa 2018 lalu, tepatnya tanggal 28 September. Gempabumi, tsunami dan likuifaksi telah menelan sebagian kota Palu. Hal tersebut pun menimbulkan banyak korban, baik jiwa maupun harta.

Tapi kalian tahu tidak, kalau sebenarnya sudah sejak dahulu nenek moyang masyarakat Palu merekam kejadian alam dengan istilah lokal dan dituangkan ke dalam nama daerah di kota Palu.

Misalnya saja kota Palu! Asal-usul nama kota Palu adalah kata Topalu'e yang artinya tanah yang terangkat. Daerah ini awalnya lautan, karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng (Sesar Palu Koro), maka daerah tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi Kota Palu. Istilah lain juga menyebutkan bahwa kata asal-usul nama Kota Palu berasal dari bahasa Kaili, yaitu volo yang berarti bambu yang tumbuh dari daerah Tawaeli sampai di daerah Sigi.

Etnik Kaili pun juga memiliki pengetahuan lokal untuk melakukan pencegahan terjadinya banyak korban dari bencana alam, yaitu tidak sembarang tinggal menempati suatu daerah. Namun sayangnya, hal ini tidak berlanjut pada generasi berikutnya. Lokasi-lokasi yang semestinya tidak layak dijadikan tempat tinggal, justru dijadikan pemukiman sejak 1980 an.

Seperti Jono Oge yang mempunyai arti dalam bahasa Kaili banyak lumpur, sedangkan Rogo artinya hancur. Kedua desa ini menjadi satu dari sekian desa yang rusak berat karena dampak gempa.

Nama Biromaru sendiri juga berasal dari Biro na maru yang artinya alang-alang di rawa yang sudah busuk, Tanaruntu yang berarti tanah yang runtuh, dan Beka yang berarti tanah yang terbelah. Balaroa yang berarti kampung yang ramai, padahal sebelumnya daerah itu bernama Pusentasi yang berarti pusat laut. Pusentasi merupakan sebuah lubang atau kolam yang dipenuhi air dan merupakan jalur air bawah tanah yang berhubungan dengan laut.

Wah, ternyata nama-nama daerah di kota Palu ini memiliki kisah tersendiri ya Sob. Berarti tugas kita harus melestarikan budaya ini hingga ke generasi berikutnya. Agar tidak memakan banyak korban lagi nantinya. Yuk, sebar informasi ini ke seluruh kerabatmu! (MA)

Sumber : Jurnal Deni Karsana

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar