Pesisir Menjadi Benteng Tsunami

Pesisir Menjadi Benteng Tsunami

Shutterstock.com

Sobat Disasterizen, Indonesia sering disebut dengan negara kepulauan. Sebagai negara dengan pulau terbanyak, Indonesia mengalami permasalahan dalam pengelolaan wilayah pesisir. Pesisir di Indonesia berpotensi terkena dampak bencana alam, seperti tsunami dan gempabumi. Karena itulah meminimalkan dampak bencana alam seperti tsunami ternyata dapat dilakukan dengan secara struktural dan nonstruktural. Maksudnya gimana tuh?

Jadi gini, upaya dalam pengurangan risiko tsunami secara struktural adalah upaya secara teknik yang bertujuan untuk meredam dan mengurangi energi gelombang tsunami yang menjalar ke kawasan pantai. Berdasarkan sifatnya upaya pengurangan risiko tsunami struktural dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu soft protection dan hard protection.

Baca juga:  Berkenalan Dengan Ekosistem Pesisir

Mitigasi bencana yang bersifat soft protection berupa pembuatan hutan pantai atau sabuk pantai (green belt). Sabuk yang menjadi benteng pertahanan wilayah pesisir dari gelombang pasang, tsunami, atau ancaman lain dari arah Iaut. Nah, berikut ini beberapa peran sabuk pantai tersebut dalam upaya untuk pengurangan energi tsunami.

  • Sebagai perangkap (untuk menghentikan kayu yang hanyut, reruntuhan dan puing lainnya)
  • Sebagai peredam energi tsunami (efek untuk mengurangi kecepatan aliran air, tekanan aliran, dan kedalaman genangan air)
  • Sebagai pegangan (menjadikan sarana penyelamatan diri bagi orang-orang yang tersapu oleh tsunami dengan cara berpengangan pada cabang-cabang pohon)
  • Sebagai sarana melarikan diri, dengan cara memanjat pohon dari tanah atau dari suatu bangunan;
  • Sebagai pembentuk gumuk pasir (untuk mengumpulkan pasir yang tertiup angin dan membentuk gumuk atau bukit, yang bertindak sebagai penghalang alami terhadap tsunami)

Mitigasi struktural yang bersifat hard protection dilakukan dengan cara membangun bangunan pantai seperti pemecah gelombang atau disebut juga dengan breakwater, seawall, groin, dan bangunan pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan tsunami, memperkuat desain bangunan, serta prasarana lainnya dengan teknik bangunan tahan tsunami dan tata ruang akrab/ramah bencana.

Sedangkan kalau nonstruktural adalah upaya secara non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya pengurangan bencana alam struktural.

  • Kebijakan tentang tata ruang atau pembagian kawasan pantai yang aman bencana
  • Kebijakap tentang standar bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya), serta sarana dan prasarana
  • Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat ketahanan, sehingga dapat didesain pemukiman "akrab bencana" yang memperhaikan berbagai aspek
  • Kebijakan tentang kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai, pelatihan dan simulasi pengurangan risiko bencana tsunami;
  • Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami;
  • Penambahan jumlah stasiun pemantau gempa serta pengembangan sistem peringatan dini adanya bahaya tsunami. (MA)

Sumber : Jurnal Septriono Hari Nugroho dan Imam A. Sadisun (TINJAUAN TENTANG MITIGASI BAHAYA TSUNAMI DI PESISIR PANTAI DAN PULAU-PULAU KECIL)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar