Satu Tahun Tanpa Musim Panas, Kok Bisa

Satu Tahun Tanpa Musim Panas, Kok Bisa

Anomali temperatur di Eropa pada 1816. Sumber: National Climatic Data Center

Pernah nggak sih, sobat Disasterizen membayangkan bagaimana ya jika satu tahun saja tidak ada musim panas atau musim dingin? Jadi, rasanya panas sepanjang tahun atau dingin sepanjang tahun.
Ternyata, fenomena seperti ini pernah terjadi loh pada tahun 1816. Sebabnya? Karena letusan salah satu gunungapi di Indonesia!

Penasaran?

Letusan Gunung Tambora

Berkas:Tambora EFS highres STS049 STS049-97-54.jpg

Gunung Tambora diambil dari Pesawat Endeavor, 1992. NASA-Johnson Space Center

Pada tanggal 10 April 1815, Gunung Tambora yang terletak di Sumbawa (pada waktu itu masih menjadi bagian dari Hindia Belanda) meletus. Saking kuatnya, para ahli menyimpulkan bahwa ini adalah salah satu letusan gunungapi yang paling kuat yang pernah tercatat, bersamaan dengan Gunung Krakatau 1883.

Letusan yang mengakibatkan 71.000 orang meninggal dunia (menurut Oppenheimer) ini bisa terdengar hingga di Batavia (Jakarta) dan Ternate, Maluku, loh !

Mirip dengan kasus Krakatau yang tertidur selama kurang lebih 200 tahun, Gunung Tambora pada waktu itu juga tertidur selama beberapa abad. 

“Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung. Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April”

Sebelum letusan, Gunung Tambora adalah gunung tertinggi di Hindia Belanda dengan tinggi sekitar 4.300 mdpl (meter di atas permukaan laut). Setelah letusan, ketinggiannya turun menjadi 2.851 mdpl alias 2/3 dari ketinggian sebelumnya.

Salah satu efek dari letusan ini adalah satu setengah juta ton – atau 400km3 debu vulkanik yang naik ke atas atmosfir.

Efek perubahan iklim

Ilustrasi letusan Gunung Tambora 1816. Wikimedia Commons

Singkatnya, hal ini menyebabkan cuaca di Eropa dan Benua Amerika bagian Utara yang semakin tidak karuan. 

Eliza B. Hornby dari New York menuliskan dalam bukunya yang berjudul Under Old Roof Trees

"Tahun 1816 adalah tahun terdingin yang pernah dikenal di negara ini. Dikenang sebagai tahun tanpa musim panas. Ada es dan salju setiap bulan"

Sejarah mencatat, banyak penduduk New England, Amerika Serikat yang tewas, dan puluhan ribunya harus pindah ke daratan yang lebih subur seperti Northwest Territory, Kanada.

Terkadang, naik turun suhu bisa sangat cepat. Di hari-hari yang biasanya panas, suhu 35 derajat celcius bisa anjlok turun hingga mendekati titik beku hanya dalam beberapa jam! Bahkan di Pennsylvania, Amerika Serikat,

Banyak gagal panen yang terjadi. Di Eropa, para penduduk Inggris, Wales, Irlandia Utara, bahkan hingga Jerman kelaparan karena bahan makanan yang semakin langka dan mahal. Status Eropa yang kebanyakan masih memulihkan diri dari Peperangan Napoleon menambah buruk keadaan.

Selain itu, beberapa negara Eropa mengalami kejanggalan salju. Di Hungaria, salju berwarna kecoklatan turun. Wilayah utara dan tengah Italia juga mengalami hal yang mirip, dengan salju kemerahan turun sepanjang tahun. (RG)

Sumber:
Gore, Albert. 2000. Earth in the Balance: Ecology
Memoir of Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles
The Great Tambora Eruption in 1815 and Its Aftermath, Richard B. Stothers

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar