Omayra Sanchez: Gadis Muda yang Dibiarkan Mati Kedinginan

Omayra Sanchez: Gadis Muda yang Dibiarkan Mati Kedinginan

The Agony of Omayra Sanchez. Dokumentasi Frank Fournier, World Press Photo 1985.

 

Sobat Disasterizen, tahukah kamu bahwa anak kecil di atas yang bola matanya menghitam ini masih hidup? Ya, dia adalah Omayra Sanchez Garzon, seorang anak perempuan dari Kolombia. Kaki Omayra terjebak di reruntuhan rumahnya sendiri ketika gunungapi Nevado del Ruiz memuntahkan laharnya pada 1985 silam.

Letusan gunung Nevado del Ruiz

 

Dampak letusan. Sumber: Earth Magazine.

Pada 13 November 1985, gunungapi bersalju Nevado del Ruiz yang terletak di provinsi Caldas & Tolima, Kolombia, meletus. Ini adalah yang pertama kali sejak 1845. Karena itu, para penduduk lokal menyebutnya dengan sebutan ‘singa yang tertidur’. Gunung ini memuntahkan uap panas lebih dari 30 kilometer ke angkasa. Bahkan, massa total bahan letusan (termasuk magma) ditaksir mencapai 35 ton. Selain magma, gunung ini juga memuntahkan sulfur dioksida dan belerang seberat kurang lebih 700.000 ton. 

Kejadian ini menelan kurang lebih 25.000 korban jiwa dan menyapu bersih kota Armero. Salah satunya adalah seorang gadis kecil, Omayra Sanchez Garzon, yang pada saat itu masih berusia 13 tahun.

Omayra dan keluarga

Omayra tinggal di provinsi Santander bersama orangtuanya, Alvaro Enrique, seorang penjual beras dan Maria Aleida, saudaranya, dan bibinya yang bernama Maria Adela Garzon. Sesaat sebelum kejadian, ibunya pergi ke Bogota untuk sebuah urusan bisnis. 

Pada saat kejadian, Omayra sedang berada di rumahnya. Ayah dan bibinya meninggal di tempat, sedangkan Dia terjebak reruntuhan rumahnya dan terperosok. Kakinya tertindih oleh atap rumah dengan tangan bibi-nya memegangi kakinya.

Ketika anggota tim SAR menemukannya, dia sudah dalam keadaan terperangkap di dalam kubangan air. Tim kesulitan untuk mengangkat Omayra dari reruntuhan karena kubangan air dan minimnya peralatan. Salah satu cara yang paling memungkinkan adalah dengan mengamputasi kakinya.

Tapi, sekali lagi, karena minimnya peralatan, mereka tidak bisa mengamputasi kaki Omayra dari bawah. Hingga menurut dokter dan relawan yang ada di kejadian, hal yang paling manusiawi adalah membiarkan Omayra meninggal perlahan-lahan! 

Selalu positif

Tapi, walaupun dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini, Omayra tetap berlaku positif. Dia bernyanyi kepada jurnalis, meminta makanan manis dan soda, dan bahkan setuju untuk diwawancarai. Seperti manusia lumrahnya, terkadang dia merasa takut, berdoa, dan menangis. 

“Tolong doakan supaya saya bisa (kembali) berjalan”.

Pada hari ketiga, Omayra mulai berhalusinasi. Dia menyebutkan kalau dia tidak mau ‘telat sekolah dan ujian matematika’. Dia sudah terperangkap di dalam kubangan air dengan kaki yang tergencet selama kurang lebih 60 jam. Bahkan, dia meminta orang-orang yang menjaganya agar pulang dan beristirahat.

Di saat-saat terakhir hidupnya, matanya memerah, mukanya memar, dan tangannya memutih. Beberapa jam kemudian, terhitung pada pukul 10.05 siang, Omayra Sanchez Garzon menghembuskan nafas terakhirnya disebabkan oleh hipotermia dan gangrene.

The Agony of Omayra Sanchez

Foto di atas dijepret oleh seorang fotografer asal Perancis, Frank Fournier. Foto ini diberi judul ‘The Agony of Omayra Sanchez’ atau ‘Penderitaan Omayra Sanchez’. Foto ini memenangkan World Press Photo of The Year edisi tahun 1986.

Kejadian ini tentu menjadi tamparan keras bagi pemerintah Kolombia. Pemerintah dinilai kurang sigap dan tidak mau berusaha untuk menanggulangi kerusakan jiwa dan harta yang disebabkan oleh bencana.

Semoga tidak ada Omayra-Omayra lain di kemudian hari, ya! (RG)

Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar