Kata Siapa Jadi Peneliti Tidak Bisa Trauma

Kata Siapa Jadi Peneliti Tidak Bisa Trauma

Sumber : Pixabay.com

Disasterizen pernah bayangin nggak gimana rasanya seseorang yang bekerja sebagai peneliti kebencanaan? Pasti sulit. Saat bencana menerjang kita, bukan hanya meninggalkan trauma yang mendalam untuk para korban di lokasi bencana, tapi para peneliti pun bisa ikut trauma saat mereka menggali data dan informasi di daerah rawan bencana, lho.  

Baca juga : HOTEL SIAGA BENCANA

Ada sebuah riset di Australia, bahwa 81 persen peneliti yang mewawancarai korban kebakaran menderita gejala-gejala stres akibat trauma yang ditimbulkan dari cerita pengalaman trauma orang lain. Gejala stres ini mulai munculnya rasa sedih berlebihan, mati rasa secara emosi, hingga gangguan tidur dan konsentrasi.

Ada lagi kejadian yang lain, yaitu kasus bunuh diri akibat depresi pada 1986 dalam kasus Valery Legasov, ahli kimia dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet yang menyelidiki penyebab meledaknya reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina era Uni Soviet.

Wah menyeramkan sekali ya! Dengan adanya peristiwa tersebut, ada beberapa saran nih untuk kamu para peneliti atau yang ingin menjadi peneliti, yaitu menyusun rencana yang di luar prediksi. Misalnya saja menyusun rencana kemungkinan terjadinya bencana tertentu, jenisnya, kapasitas, dan kerentanan masyarakat di sekitarnya atau rencana evakuasi di mana saja peneliti berada, termasuk tempat berkumpul dengan keluarga saat terpisah ketika bencana terjadi. Selain menyusun rencana, meningkatkan kemampuan berhadapan dengan korban yang sensitif dan mencegah terjadinya trauma itu juga penting.

Baca juga : TEKA-TEKI TERSEMBUNYI WARNA ORANYE

Lalu bagaimana sih cara mereka untuk menghindari trauma tersebut saat menelliti di daerah rawan bencana?

Nah, untuk mencegah dan mengatasi trauma untuk para peneliti ini sebaiknya membiasakan hidup sehat. Misalkan saja mengkonsumsi makanan sehat, olahraga, dan menjaga kualitas tidur.  Jika ada peneliti yang terlintas keinginan untuk bunuh diri, maka hal utama yang perlu dilakukan adalah mengkonsultasikan psikologisnya. Perlu adanya konsultan yang dapat dihubungi lewat telepon jika ada krisis mental. Bahkan perlu ditambahkan upaya menghindarkan diri sendiri dari kesempatan bunuh diri, contohnya menyingkirkan benda tajam dari sekelilingnya, selalu mengevaluasi diri, dan upaya serius lainnya.

Jika kamu ingin menjadi peneliti, terutama peneliti di daerah rawan bencana, ada baiknya kamu mempertimbangkan dengan matang kemungkinan adanya masalah di lapangan, terutama kamu harus siapkan mental kamu. Jangan sampai malah kamu juga ikutan stres dan trauma, ya! (MA)

Sumber : TheConversation

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar