Daerah yang Selamat Dari Likuifaksi

Daerah yang Selamat Dari Likuifaksi

Sumber : beritagar

28 September 2019 merupakan satu tahun mengenang tsunami di Kota Palu dan sekitarnya. Beberapa wilayah dibabat habis oleh bencana alam yang terjadi saat itu. Namun ada yang berbeda nih Disasterizen, daerah yang bernama Kinta, Sulawesi ini tetap utuh. Daerah ini berada sekitar satu hektare tepat di tengah area yang terbebas dari likuifaksi. Perlu kamu ketahui, kalau daerah Kinta kini bagian dari Kelurahan Petobo.

Sumber : Kompas

Kinta adalah kampung tua, wilayah pertama yang menjadi pemukiman sekitar. Kinta ini juga memiliki makna dalam bahasa Kaili loh Sob! Dalam bahasa Kaili berarti serambi, teras, atau halaman juga Kintal. Kinta ini sudah sejak awal jadi pemukiman dan punya tradisi, yaitu hanya 60 orang boleh tinggal di wilayah tersebut. Masyarakat adat Kaili Tua yang lama mendiami wilayah tersebut percaya kalau ada yang melanggar tradisi tersebut, maka siap-siap terkena tulah berupa penyakit.

Karena seiring bergantinya tahun, pertumbuhan penduduk pun cepat beriringan dengan kebutuhan lahan tinggal, kemudian tradisi ini pun perlahan sudah pudar. Wilayah ini sekarang menjadi padat dan ramai! Sebagai wilayah yang memiliki tradisi, Kinta ini dahulunya tidak dijadikan pemukiman oleh masyarakat. Tradisi ini dipertahankan turun temurun di masyarakat Kaili tua yang mendiami wilayah ini. Dalam bahasa Kaili, likuifaksi memiliki nama lain yaitu nalodo atau terbenam.

Baca juga : CONTOH MENCINTAI ALAM ALA SUKU BOTI

Fakta Lain Di Balik Petobo

Disasterizen, wilayah Petobo ini memiliki sungai besar yang disebut dengan Sungai Ngia. Masyarakat disana sering kali mengeruk endapan di sungai tersebut, karena jika dibiarkan begitu saja bisa terjadi pendangkalan. Nah, ini bisa menjadi bahaya kalau ada banjir besar datang.

Saking banyaknya material yang menumpuk, akhirnya masyarakat bosan dan membiarkan begitu saja hingga akhirnya ditinggalkan, lalu berubah menjadi perumahan padat. Sampai akhirnya, di Petobo terjadi banjir besar pada 8 Agustus 2017 lalu. Sungai hilang itu dapat dibuktikan dari peta tua buatan Etnograf Belanda, Albert Christian Kruyt yang ditulis berdasarkan catatan perjalanan ke Lembah Palu tahun 1897. Dalam peta itu terdapat Sungai Ngia, mengalir tepat di Petobo yang sekarang hilang. (MA)

Sumber : Mongabay.com

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar